"Sstt…" Nala meringis pelan ketika tangan besar Ebas dengan hati-hati mengoleskan salep di pergelangan tangannya yang memar. Ebas, yang duduk di sampingnya di tempat tidur, menghentikan gerakannya sejenak dan mendongak. "Perih?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya. Nala hanya mengangguk pelan. Mata Ebas menajam, tatapannya penuh dengan perhatian dan sesuatu yang lain—sesuatu yang sulit dijelaskan, antara rasa sakit dan kemarahan yang masih ia simpan. Dengan lebih hati-hati, ia kembali mengoleskan salep, kali ini lebih perlahan. Sesekali, ia meniup lembut luka itu, mencoba mengurangi rasa perih yang dirasakan istrinya. Hembusan napas hangatnya membuat Nala tertegun sesaat. Seketika, ia sadar betapa dekatnya mereka. Jarak mereka hanya beberapa senti saja. "Cala mana?" suara

