Ketika Evan Berhenti Mundur

1411 Kata
Jared melangkah masuk ke dalam ruangan Evan, tapi sepertinya pemilik ruangan tersebut tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Matanya terlalu fokus menatap pot tanaman yang ada di sudut ruangan, bukan karena tanaman itu menarik, melainkan ia sedang berusaha tidak menatap sesuatu yang ada di tangannya sendiri. Sudah hampir sepuluh menit Evan memutar pulpen bewarna navy di antara jemarinya. Sebenarnya sudah beberapa kali ia berniat meletakkannya di laci, tapi selalu ia urungkan. Seperti ada sesuatu yang menahannya setiap kali niat itu muncul. Bukan karena pulpen itu mahal atau istimewa, melainkan karena ia tahu Naya yang memberikan hadiah tersebut. Evan menghela napas pelan, hadiah sekecil ini seharusnya tidak membuat pikirannya sesibuk ini. "Ekhm!" Evan tersentak ketika mendengar deheman dari Jared. Pulpen yang sedari tadi ia putar di jarinya terlepas jatuh di atas meja dengan bunyi yang terasa terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia buru-buru mengambilnya dan menyelipkannya ke saku jas yang ia kenakan. Seolah-olah Jared tidak boleh melihatnya. "Kamu harusnya ketuk pintu dulu, Jared," ucap Evan cepat, membenarkan posisi duduknya agar terlihat tenang. Jared mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. Ia melangkah masuk dan duduk santai di sofa. “Aku sudah ketuk pintu tapi nggak dijawab. Jadi, aku masuk aja. Aku pikir kamu lagi sibuk kerja.” “Eh ternyata kamu lagi sibuk mikir,” lanjut Jared ringan, matanya mengarah ke saku jas Evan. “Tentang hadiah kecil itu, ya?” Evan menatapnya tajam. “Kamu terlalu banyak bicara.” Jared tertawa kecil. “Dan kamu terlalu buruk dalam berbohong.” Suasana hening mengelilingi mereka sejenak. Jared semakin menyandarkan tubuhnya di sofa dengan nyaman, satu kakinya disilangkan. Tatapannya tidak lepas dari Evan yang jelas-jelas terlihat rahangnya mengeras dan cara napasnya yang sedikit lebih berat dari biasanya. “Katanya itu cuma tanda terima kasih,” ucapnya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Karena aku nolongin dia waktu itu di lift.” “Katanya itu cuma tanda terima kasih karena aku nolongin dia waktu itu di lift,” ulang Jared, menirukan nada Evan dengan versi yang lebih dramatis. Evan mendengus pelan. “Kamu datang ke sini cuma buat ngulang-ngulang itu?” “Enggak,” jawab Jared cepat. “Aku ke sini karena penasaran.” “Penasaran apa?” “Penasaran sejak kapan Evan Wiradana butuh waktu lebih dari lima detik buat nyimpen satu pulpen ke laci," ujar Jared menggoda. Evan menegakkan tubuhnya. “Kamu terlalu banyak mikir.” Jared terkekeh. “Yang terlalu banyak mikir itu kamu.” “Kalau cuma tanda terima kasih,” kata Jared pelan, “kamu nggak akan mikir sejauh ini.” Evan memejamkan mata sesaat. Ia membenarkan apa yang Jared katakan, tetapi ia juga tidak ingin mengakuinya langsung. Evan berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar di sisi ruangan. Pemandangan gedung-gedung tinggi di luar sana biasanya cukup untuk menenangkan pikirannya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Sejak hari itu, di saat ia melihat Naya tertawa di samping pria lain, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini ia tekan, ia abaikan, ia bungkus rapi dengan sikap dingin dan profesional. Sekarang sudah tidak bisa lagi ia berpura-pura. “Dia cuma asisten,” ucap Evan akhirnya. Jared mengangkat alis. “Oh ya? Asisten yang bikin kamu bengong, senyum sendiri, dan mendadak sensitif setiap namanya disebut?” Evan menoleh tajam. “Jaga ucapanmu, Jared.” “Kenapa? Aku kedengaran terlalu jujur, ya?” Evan terdiam. Tangannya refleks menyentuh saku jasnya, tempat pulpen itu berada. Ia menarik napas dalam. “Aku nggak boleh salah langkah,” ujarnya lebih pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Kenapa?” tanya Jared, kali ini nadanya serius. Evan berbalik, menatap sahabatnya itu. “Karena aku atasan dia. Karena kalau aku keliru, yang repot bukan cuma aku.” “Dan karena kamu takut dia nggak ngerasain hal yang sama,” sambung Jared tanpa ragu dan itu membuat Evan terdiam. "Jared," Evan berjalan kembali ke mejanya, menatap meja kerjanya yang rapi, teratur, dan segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya, kecuali pikirannya sendiri. “Dia kelihatan nyaman sama laki-laki itu.” Jared menyeringai tipis. “Ah... Jadi ini soal itu.” Yang membuat Evan tertekan bukan karena Naya dekat dengan orang lain. Melainkan karena ia sadar, selama ini ia tidak pernah benar-benar berani mendekat. Padahal ia ingin sekali berada di dekatnya, ingin jadi orang pertama yang Naya cari ketika lelah, dan ingin jadi alasan senyum itu muncul, tapi setiap kali ia melangkah setengah langkah ke depan, ada suara lain di kepalanya yang langsung menariknya mundur. “Kamu sadar nggak,” suara Jared terdengar lebih serius sekarang, “kalau sikap kamu itu bikin dia bingung?” Evan membuka mata. “Apa maksudmu?” “Kamu perhatian, kamu peduli, kamu protektif.” Jared menyebutkannya satu per satu. “Lalu tiba-tiba kamu dingin, dan jaga jarak. Seolah-olah semuanya nggak berarti.” Jared berdiri, mendekat beberapa langkah. “Kalau aku di posisi Naya, aku juga bakalan capek nebak-nebak.” “Kadang, yang perlu kamu lakukan cuma berhenti narik ulur,” ujar Jared. “Atau kamu sendiri yang bakal ketarik.” Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Evan kira. Ia tahu, ia melihatnya sendiri, tatapan bingung Naya, cara senyumnya yang sedikit tertahan ketika ia berubah dingin tanpa alasan yang jelas. Ingin menjelaskan tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana, karena jujur saja, Evan sendiri tidak yakin pada dirinya. “Aku cuma… nggak mau salah,” ucap Evan suaranya lebih rendah. “Aku nggak mau gegabah. Aku nggak mau bikin dia merasa nggak nyaman.” Jared menghela napas. “Tapi dengan begini, kamu justru bikin dia nggak nyaman.” “Dan kalau kamu terus diem, orang lain yang bakal jalan duluan." “Keluar,” kata Evan tiba-tiba. “Hah?” Jared terkejut. “Keluar dari ruanganku." Jared tertawa. “Tersinggung?” “Enggak, tapi aku butuh mikir.” Jared berjalan menuju pintu, tapi berhenti sejenak. “Oh ya, satu lagi.” Evan menoleh. “Kamu mungkin jago ngatur bisnis, tapi soal perasaan… kamu terlalu pengecut.” Pintu tertutup sebelum Evan sempat membalas. Kini Evan kembali duduk. Kali ini, ia benar-benar membuka saku jasnya dan mengeluarkan pulpen navy itu. Ia tidak bodoh. Ia tahu perasaannya, hanya saja ia takut mengakuinya karena begitu mengaku, ia harus bertanggung jawab pada apa pun yang terjadi setelahnya. Ia membuka kembali secarik kertas kecil yang terselip di dalam kotaknya. Terima kasih sudah nolong saya. —Naya Tulisan tangan itu terlihat rapi, bersih, dan jujur. Sejenak Evan memejamkan matanya. Ia kembali teringat bagaimana Naya berdiri di hadapannya pagi tadi. Cara ia menyerahkan kotak itu dengan tangannya, dan tatapannya yang sebentar ragu, lalu berharap. Sementara dirinya tadi bersikap dingin. Evan membuka matanya. Rahangnya kembali mengeras, “Cukup,” gumamnya. Ia meraih ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi, kemudian mengetik ulang, lalu menghapusnya kembali. Menghela napas. Akhirnya ia memilih berdiri, berjalan pergi keluar menuju ruangan Naya, tanpa memakai jas, dan tanpa banyak rencana. Naya saat itu sedang fokus menatap layar komputernya ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, ia langsung mendongak, dan refleks berdiri. “Pak Evan?” Evan berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya berbeda, lebih serius, lebih penuh pertimbangan. “Kamu ada waktu sebentar?” “E—a—ada, Pak.” Evan masuk dan menutup pintu, kemudian suara klik kunci pintu terdengar jelas di telinga Naya. Evan mendekat, lalu meletakkan sebuah pulpen berwarna navy di atas meja. “Aku mau ngomong soal ini.” Naya menatap pulpen itu, lalu kembali menatap Evan. “Kalau… kalau Pak Evan nggak nyaman—” “Bukan karena itu,” potong Evan pelan. Ia menghela napas singkat. “Aku nyimpen ini bukan karena sebagai hadiah terima kasih dari kamu,” “Aku nyimpen ini karena aku mau,” lanjut Evan. “Dan aku rasa kamu perlu tahu itu.” Kalimat itu membuat Naya terdiam dan ruangan mendadak terasa sunyi. Evan menatapnya bukan dengan sikap atasan pada bawahan, melainkan seseorang yang sedang berusaha jujur tanpa sepenuhnya membuka diri. “Aku sadar,” lanjutnya, “aku sering bikin kamu bingung.” Seketika jantung Naya berdegup lebih cepat. “Aku nggak akan bersikap dingin lagi tanpa alasan,” ucap Evan. “Dan kalau suatu hari aku melampaui batas yang bikin kamu nggak nyaman… kamu berhak nanya.” Ia berhenti sejenak. “Dan aku bakal jawab pertanyaan kamu.” “Pak Evan…” suara Naya nyaris bergetar. “Besok,” kata Evan, memotong lembut, “Aku mau ajak kamu makan siang bareng.” Nada suaranya datar tapi terselip nada tegas. Setelahnya Evan berbalik pergi sebelum Naya sempat merespon. Karena kali ini, Evan tidak akan menarik diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN