Suasana ruang kerja Evan mendadak menjadi tegang setelah seseorang mengetuk pintunya keras dari luar. Membuat Naya mematung di kursinya, napasnya tersendat, sementara Evan berdiri tegak di depan meja, dengan rahang yang mengeras.
“Masuk,” ucap Evan, suaranya dalam tapi terkendali.
Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang laki-laki. Naya memperhatikan orang tersebut, ia merasa belum pernah melihatnya di kantor ini sebelumnya.
Laki-laki tersebut masuk dengan langkah ringan namun dingin, rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya pucat, dan ekspresinya datar seperti batu. Ia mengenakan ID Card bertuliskan
“Divisi Legal - Raka Maheswara.”
Namun yang membuat Naya merinding adalah tatapan matanya. Hening, kosong, seperti memindai dirinya dan melupakan keadaan sekitar.
“Maaf mengganggu, Pak Evan,” ucapnya, suaranya rendah dan tidak berintonasi, nyaris seperti robot.
Evan menyipitkan mata, jelas tidak mengenal laki-laki itu.
“Kamu dari divisi legal?” tanya Evan.
Laki-laki itu mengangguk singkat,
“Saya baru dipindahkan kemarin sore, Pak.”
Jantung Naya mencelos jika di ingat-ingat kembali, kemarin sore itu sama dengan waktu Naya pertama kali mendapatkan pesan ancaman.
Raka kemudian menggeser tatapan datarnya ke arah meja Evan, lalu ke ponsel di tangan Evan yang layarnya masih menampilkan pesan ancaman.
“Ada masalah terkait dokumen?” tanyanya datar.
Naya menahan napas, pertanyaan itu terlalu tepat sasaran, seolah ia tahu apa yang sedang terjadi.
Evan menjawab dengan nada hati-hati, “Ada dokumen halaman yang hilang. Halaman tiga belas.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Raka berubah sangat tipis, tapi cukup untuk membuat Naya merinding.
Sudut bibirnya sempat bergerak, entah itu hendak tersenyum atau mengejek, namun ia menghilangkannya secepat kilat.
“Halaman tiga belas… ya. Saya dengar,” ujarnya pelan.
“Dengar dari siapa?” Evan menegaskan.
Raka menoleh, menatap Evan dalam-dalam. “Rumor selalu bergerak cepat, Pak.”
Jawaban itu tidak masuk akal. Namun ia mengatakannya dengan begitu yakin dan tenang, seolah tidak sedang berbohong.
Evan tidak tampak puas. “Kalau kamu ke sini untuk sesuatu, cepat sampaikan.”
Raka membuka map kecil di tangannya dan mengeluarkan selembar form.
“Saya hanya mengantar revisi MOU yang diminta divisi Anda, Pak. Itu saja.”
Evan mengambil dokumen itu tanpa melepas kewaspadaannya.
“Kalau hanya itu, kamu bisa pergi,” ucap Evan.
Raka mengangguk. Namun sebelum ia keluar, ia berhenti sebentar tepat di sisi Naya.
Begitu dekat, hingga Naya bisa mencium aroma parfum musk yang tajam dan dingin.
Ia menoleh sedikit ke arah Naya, tatapannya kosong, tapi ada sesuatu di balik itu, seakan menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia sebutkan.
“Semoga harimu berjalan aman, ya… Naya.”
Suaranya terdengar seperti gumaman tapi cukup jelas menusuk telinga Naya.
Naya terbelalak,
"Darimana dia tahu namaku?"
Raka kemudian berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Naya akhirnya bernafas kembali, tapi tangannya tetap terasa dingin, bahkan sekarang lututnya gemetar.
“Duduk.” Evan kembali bicara, nadanya lebih tegas dari sebelumnya.
Naya menurut, ia duduk dengan perlahan.
Evan menatap ponsel Naya lalu menatap pintu seolah masih memikirkan kehadiran Raka yang misterius.
“Kamu lihat sendiri kan?” Evan bersuara pelan tapi tajam.
“Ini bukan masalah kecil, Na. Harusnya kamu kabarin saya dari kemarin.”
Naya menunduk. “Saya… saya takut, Pak.”
“Wajar kamu takut.” Evan menautkan jari-jarinya, suaranya turun menjadi serius.
“Ancaman ini langsung berkaitan dengan dokumen perusahaan. Itu berarti ada seseorang di dalam WCTG yang terlibat.”
Naya mendongak, matanya gemetar. “Maksud Bapak… orang dalam?”
“Ya.” Nada Evan mantap. “Dan orang itu sekarang bukan hanya ingin menghancurkan perusahaan ini, tapi juga ingin mencelakai kamu sekarang.
Naya menelan ludah. Ya... Tuhan kalau tau begini jadinya, Naya tidak mau bekerja di sini.
“Dan saya curiga,” lanjut Evan,
“seseorang sengaja menghilangkan halaman itu untuk kepentingan tertentu. Kamu jadi target karena kamu yang pertama kali menyadarinya.”
Naya menggenggam lututnya, tubuhnya gemetar. “Pak… saya harus bagaimana?”
Evan menarik napas panjang.
Ia berdiri, berjalan mendekati Naya, lalu berhenti tepat di sebelahnya.
“Kamu ikut saya siang ini,” ucap Evan. “Kita cek dokumen ke divisi legal. Saya tidak akan biarkan kamu jalan sendirian.”
Naya menatap Evan, terkejut,
“T-tapi Pak—”
“Saya tidak menerima penolakan.” Evan memotong, tegas.
“Ancaman orang misterius itu sekarang menjadi masalah saya juga. Kamu bekerja untuk saya. Jadi saya yang harus memastikan kamu aman.”
Hati Naya menghangat sedikit di tengah rasa takutnya, ada rasa lega yang muncul melihat keseriusan Evan.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
TING!
Ponsel Naya kembali bergetar dan Evan langsung mengambilnya sebelum Naya menyentuhnya.
Satu pesan baru dari nomor misterius yang sama.
“Kamu kira kamu aman setelah Evan mengetahui semuanya?”
“Kamu tidak mengerti permainan ini.”
“Jika kamu mau seperti ini, maka bersiaplah.”
Naya semakin ketakutan sampai rasanya ingin menangis sekarang juga. Dirinya cuma kepingin kerja dengan tenang, tanpa perlu memikirkan nyawanya yang sedang terancam.
Evan menggenggam ponsel Naya dengan kuat, jelas sedang menahan amarah.
“Kamu sudah lewat batas,” gumam Evan lirih pada si pengirim pesan.
“Berani sekali menyentuh staf saya.”
Naya menggigit bibirnya. “Pak… kalau saya berhenti nyari halaman itu, apa mereka bakal berhenti ganggu saya?”
Evan menatapnya lama.
“Tidak,” ucap Evan akhirnya.
“Seseorang yang sudah berani mengancam, tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.”
Naya merasa dunia berputar. Ia memegang meja agar tidak jatuh.
“Tapi—” ia mulai berbicara, namun suaranya hampir pecah.
Evan menyela, “Kamu tidak sendirian. Saya akan urus ini.”
Naya hanya bisa mengangguk pelan, walau rasa takut masih membelenggunya.
Evan kemudian berjalan menuju pintu.
“Kita keluar sekarang,” katanya.
“Ke divisi legal?” tanya Naya ragu.
“Tidak.” Evan menoleh, tatapannya berubah lebih dingin dari sebelumnya.
“Kita ke ruang kontrol keamanan dulu. Saya mau cek siapa saja yang masuk lantai ini tadi malam.”
Naya berdiri, mengikuti Evan. Namun sebelum mereka sempat membuka pintu, ponsel Evan berbunyi.
TING!
Sebuah notifikasi email masuk dari sistem keamanan internal WCTG.
Evan membuka layarnya, matanya menyipit saat membaca isi email tersebut.
“Ada apa, Pak?” tanya Naya pelan.
Evan memiringkan layar ponsel, menunjukkan ke pada Naya yang isinya sebuah pemberitahuan otomatis.
“Akses tidak sah terdeteksi ke komputer Naya Almeera pukul 02.17 dini hari.”
Lokasi akses:
“Divisi Legal — Terminal 04 — user: RAKA.M”
Naya menutup mulutnya. “R–Raka?”
Evan mengangguk pelan, wajahnya semakin gelap.
“Dia benar-benar berani, bahkan sekarang sepertinya Raka akan bertindak secara terang-terangan,” ujar Evan.
Naya merasa dadanya mencengkram.
“Pak Evan… kalau begitu, kita harus lapor ke pihak yang berwenang!" ujar Naya, ia merasa dirinya sudah dalam bahaya, apalagi perusahaan ini.
Evan tidak menjawab. Namun, ekspresi wajahnya cukup memberi tahu.
“Tidak bisa Naya, ini masalah perusahaan dan ini harus diselesaikan sebagaimana dia memulainya,“ jelas Evan membuat Naya bergidik ngeri.
"Dan saya rasa ada seseorang yang memasukkan Raka ke sini dengan alasan tertentu,” sambung Evan.
"Kita harus cari tahu dulu dengan siapa Raka bekerja sama.” Naya menelan ludah mendengarnya.
“Jangan jauh-jauh dari saya hari ini. Apa pun yang terjadi.” Naya mengangguk cepat, meski tubuhnya masih gemetar.
Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke ruang kontrol keamanan WCTG.
Namun saat di dalam lift, tiba-tiba saja lift berhenti dan lampu berkedip-kedip, bergetar seperti ada yang memutuskan aliran listrik secara sengaja.
Hal itu membuat Naya ketakutan, sementara Evan mencerna apa yang sedang terjadi dan tanpa sengaja Naya berteriak dan menangis sambil memeluk lengan Evan.
Ia sudah tidak tahan lagi, runtuh sudah pertahanannya yang tidak ingin terlihat lemah, sampai akhirnya pingsan saat lampu lift mati total.
Dengan segera Evan menahan tubuh Naya agar tidak terjatuh dan buru-buru ia keluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menyalakan senter untuk melihat kondisi Naya.
"Na, Naya, Naya?" Evan menghela napas perlahan, menahan panik saat melihat Naya benar-benar tidak sadarkan diri.
Evan mulai menghubungi petugas keamanan untuk memberitahu bahwa dirinya dan Naya terjebak di dalam lift.
Setelah ini, Evan tidak akan mentolerir siapapun yang sudah mengganggu ketenangannya.