Ritme pertama

1306 Kata
Naya belum pernah merasa sepanik ini ketika mengikuti seseorang berjalan cepat. Karena kali ini yang harus ia ikuti adalah Evan Wiradana, atasannya yang melangkah mantap menuju lift pribadi, dan Naya harus sedikit setengah berlari agar tidak tertinggal. “Jangan terlalu dekat, tapi juga jangan terlalu jauh,” ucap Evan tanpa menoleh. Naya mengerjap. “Baik, Pak.” Lift pribadi itu terbuka. Panelnya berwarna hitam matte dengan cahaya biru halus. Begitu pintu tertutup, suasana terasa sunyi, bahkan Naya bisa mendengar napasnya sendiri. Evan berdiri tegak, menatap angka di layar panel lift. Tidak ada kata-kata keluar dari bibirnya, tidak ada basa-basi, dan juga tidak ada usaha mengurangi ketegangan. Sepertinya memang begitulah dia. “Pak,” suara Naya akhirnya keluar sangat pelan. “Boleh saya tanya sesuatu?” Evan menggeser pandangannya sedikit. “Apa?” Naya menelan ludah. “Tugas saya untuk meeting hari ini… saya hanya mencatat atau perlu menyiapkan sesuatu?” Evan mengamati Naya sejenak, seperti sedang menilai apakah pertanyaannya cukup cerdas atau justru bodoh. “Cukup catat,” jawab Evan akhirnya. “Dengar baik-baik apa yang saya sampaikan. Kamu akan belajar dari sana.” Naya mengangguk pelan. “Baik, Pak.” Lift berhenti dan pintu terbuka, terlihat Jared sudah menunggu di sebrang lift sambil menatap layar ponselnya. “Kalian lama banget,” katanya sambil tersenyum simpati pada Naya. “Naya, kalau kamu pingsan, bilang ya. Biar aku tolongin.” Naya tertawa kecil meski gugup, “Nggak kok, Pak, saya baik-baik aja.” Evan menatap Jared datar. “Jared, tolong jangan menakut-nakuti Naya.” “Justru aku nenangin hatinya, Van. Kamu aja yang—” “Sudah.” Evan berjalan duluan. Jared hanya mengangkat tangan pasrah. “Tuh kan… dia selalu kaya gitu.” Naya tersenyum kecil sambil mengikuti mereka menuju ke parkiran dan berhenti tetap di depan Mobil hitam yang terlihat elegan. Jared duduk di kursi pengemudi, Evan duduk di kursi penumpang sebelah Jared, sementara Naya duduk di kursi penumpang bagian tengah seorang diri. Walau ruangan mobil cukup luas, aura Evan membuat Naya merasa duduk terlalu dekat. “Ini agenda meeting?” Evan menunjukkan layar tabletnya pada Naya. Naya sedikit menegakkan badannya agar bisa melihat layar tablet yang Evan tunjukkan di kursi depan. “Iya, Pak. Itu dari Janelle.” Evan menatap layar tablet dengan serius. “Ada detail yang kurang. Setelah ini, kamu minta revisi ke Janelle.” Naya mengangguk cepat dan menerima tablet dengan hati-hati. “Baik, Pak.” Setelah beberapa menit hening, Jared melirik ke kaca dashboard sambil tersenyum kecil. “Naya,” panggil Jared pelan, “kalau kamu bingung soal Evan, tanya aku aja. Aku paham semua kebiasaannya.” Evan mendongak, ikut melihat Naya dari pantulan kaca dashboard, “Tidak semua.” “Ya, 90 persen lah,” bantah Jared santai. Naya tertawa kecil, bingung harus bereaksi seperti apa, tapi ia senang karena kehadiran Jared mampu meredam ketegangan yang Evan pancarkan. Jared menambah, “Termasuk fakta bahwa dia tidak suka kopi terlalu panas. Pernah satu barista salah dan—” “Jared.” Evan memotong tanpa emosi. “Tidak relevan.” “Baik, baik…” Jared kembali fokus menyetir mobil sambil terkikik. Namun kejadian kecil itu membuat Naya sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tahu tidak semua orang di dekat Evan seserius itu. --- Meeting Pertama Naya Naya berjalan di belakang Evan dan Jared dengan buku catatan di tangan. Ia mengikuti kedua orang penting tersebut menuju ke ruang meeting. Terlihat Klien yang sedang menunggu tampak seperti jajaran eksekutif besar, berjas tebal, raut tegas, dan bahasa tubuh penuh otoritas. Ketika Evan mulai berbicara, ruangan langsung berubah. Aura pemimpinnya terpancar jelas dengan suaranya yang stabil, jelas, dan penuh pertimbangan. Naya mencatat dengan cepat semua hal penting yang ia dengar. Seperti, strategi branding, timeline produksi, revisi konsep, permintaan klien, dan catatan tambahan. Sesekali, Evan menoleh sekilas untuk memastikan apakah Naya mengikuti perintahnya untuk mencatat atau tidak. Setiap kali tatapannya bertemu dengan tatapan Evan walau hanya setengah detik, Naya bisa merasakan jantungnya berubah ritme. Tak terasa meeting berlangsung hampir satu jam dan sekarang sudah selesai. Kini para klien menyalami Evan dan Jared dengan puas. “Kerja bagus, Evan,” kata salah satu direktur. “Terima kasih,” Evan menunduk sopan. Saat mereka berjalan keluar, Evan melirik Naya. “Kamu mencatat semuanya?” Naya mengangguk. “Iya, Pak. Saya sudah rangkum.” “Boleh saya lihat?” Naya dengan gugup menyerahkan buku catatan itu. Evan langsung membaca cepat. Jared mencondongkan badan ikut melihat dari samping. “Wah… tulisan kamu rapi banget dan detail. Van, ini calon asisten terbaikmu nih.” Evan menutup buku catatan itu. “Tidak buruk.” Hanya dua kata, tapi Naya merasa seperti mendapatkan penghargaan besar. --- Sekarang mereka bertiga sudah kembali ke kantor WCTG. Di lift, Naya berdiri di belakang Evan sambil merapikan catatannya, dan Jared berbicara pada seseorang lewat ponsel, jadi hanya ada mereka berdua yang diam. “Kenapa kamu memilih melamar posisi ini?” tanya Evan tiba-tiba, membuat Naya terkejut. “Saya… ingin belajar langsung dari orang terbaik, Pak,” jawabnya jujur. Evan tidak menanggapi segera. Ia hanya menatap pantulan mereka di pintu lift, Naya yang tampak tegang namun berusaha kuat, dan dirinya yang berdiri tegak, dengan aura dingin. “Apa kamu tahu reputasi saya?” Naya menelan ludah, “Katanya Anda perfeksionis dan… sedikit menakutkan.” Evan mengangkat alis tipis. “Sedikit?” “E… iya, Pak.” Evan hampir tersenyum, sudut bibirnya bergerak sedikit, lalu kembali rata. “Saya lebih buruk dari itu,” katanya tenang. Lift berbunyi TING! dan Evan, Jared, lalu Naya langsung keluar. --- Baru beberapa langkah menuju meja kerjanya, Naya melihat seseorang berjalan cepat ke arahnya. Seorang wanita anggun dengan pakaian formal mahal. “Naya Almeera?” tanyanya langsung. Naya mengangguk bingung. “Iya?” Wanita itu menyerahkan map tebal, “Ini dokumen yang harus kamu siapkan dalam satu jam. Pak Evan membutuhkannya untuk presentasi internal.” "Apa? Satu jam? berat lagi Map nya," batin Naya. Naya agak panik tapi tetap menerima. “B-baik, Bu.” Wanita itu pergi tanpa banyak bicara. Jared mendekat dari belakang. “Itu dari divisi legal. Mereka memang suka mendadak.” Naya menarik napas cepat. “Satu jam cukup nggak ya…?” Evan menatapnya datar. “Bawa ke meja kamu. Kerjakan sekarang. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanya saya.” “Baik, Pak.” Naya bergegas pergi ke mejanya dan mulai memilah halaman-halaman penuh data keuangan, kontrak, dan detail proyek. Ia harus fokus, karena ini harus selesai. Ia tidak ingin mengecewakan di hari pertama. Beberapa menit berlalu dan… “Tidak… tidak mungkin…” gumam Naya. Ada satu dokumen penting yang hilang. Halaman ketiga belas tidak ada. Padahal itu inti dari presentasi Evan nanti. Ia memeriksa map berkali-kali, tapi tetap tidak ada. Degupan jantungnya melonjak, “Gimana ini…?” Kalau ia gagal di hari pertama kerja... bisa-bisa Evan langsung menganggapnya tidak kompeten. Naya menelan ludah, ia berdiri cepat dan hendak mengetuk pintu ruangan Evan untuk melapor, namun— Pintu terbuka dari dalam, Evan berdiri di ambang pintu, wajahnya serius. “Naya,” panggilnya pelan. Naya terkejut sampai hampir menjatuhkan map,“I-itu... maaf Pak, ada satu dokumen yang hilang dari bahan presentasi, Pak Evan.” “Jadi,” lanjut Evan, tatapannya tajam menusuk, “jelaskan kenapa bisa hilang?” Naya membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Sudah… dia pasti pikir ini salah Naya. “Kenapa?” tanya Evan lagi, nadanya lebih rendah namun lebih menekan. Naya menghela napas panjang, menatap Evan dengan mata yang mulai goyah. “Pak… saya rasa dokumen itu… memang tidak ada sejak awal.” Evan menatapnya lama, bahkan sangat lama. Lalu ia melangkah mendekat, dua langkah, tiga langkah, hingga jarak mereka hanya sejengkal. Aura dinginnya semakin terasa dan dengan suara yang pelan namun tajam, Evan berkata, “Kalau begitu… kita harus cari tahu siapa yang sengaja menghilangkannya.” Naya terbelalak. "Sengaja?" Sebelum ia sempat bertanya, Evan menambahkan, “Dan saya ingin kamu yang menemukannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN