"LO yang melamar gue b******k!" aku memandangi foto Bima yang dulu pernah diam-diam aku foto saat dia sedang bercanda dengan Ibu dan Arini. Aku mengetuk-ngetukkan jariku pada layar ponsel. Seolah itu bisa membuat wajah Bima tersakiti oleh jariku. Kejadian setelah dia menghinaku saat itu membuatku benar-benar kesal kepadanya, aku tidak pernah menghubunginya lagi. Dia yang melamarku, dia yang datang bersama orang tuanya ke rumahku, melamarku, dia yang memberikan janji janji bahwa kami akan saling menyukai. Dia pula yang menghancurkan itu semua! Terlebih dari hal itu, aku bahkan sudah lupa rasa kecewa yang sangat menyakitkan kepada Nata. Gara-gara ucapannya, sekarang Bima ikut-ikutan memandangku murah. Aku tidak menyangka bahwa semua lelaki sama saja. "Sudah siap Tania?" aku mengalihkan pa

