Faruq masih berusaha untuk mencerna segala hal yang terjadi di hidupnya akhir-akhir ini. Sungguh, jika dia bisa mengatakan yang sejujurnya pada keluarganya—pada Farida, istrinya, atau pada Azzam, putra sulungnya—Faruq pasti akan bilang pada mereka. Akan tetapi, sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Pilihannya hanya ada dua, katakan dan keluarganya hancur atau diam saja, tetapi Faruq terus menerus merasa sesak seperti sekarang. Bayangan masa lalu antara ia dan Lulu Kemala terasa menohok jantungnya hinvva Faruq kesulitan untuk bernapas dengan benar. Dia sesak, sungguh. Bagaimana kabar perempuan itu, ya? Apakah dia sudah menikah lagi dan sudah punya anak? Faruq menggeleng pelan. Dia tidak mau memikirkan Lulu Kemala lagi, tetapi perempuan yang namanya masih terus terukir di sudut-sudut ter

