"Dengannya?" aku mengulang apa yang di ucapkan oleh Tae Haa. Tae Haa langsung merangkul pinggangku dan menekankan tubuhku padanya. "Kenapa kau sangat dekat dengan asistenku?" tanya Tae Haa dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. "Ah, Tuan. Sakit," ucap aku dengan merintih dan memegangi perutku yang sudah lumayan besar. Tae Haa langsung melepaskan rangkulan itu. "Maaf!" Suara yang datar seperti acuh tak acuh dengan perutku yang sedang mengandung anaknya. "Aku tidak ada hubungan apapun dengannya," jawab aku. "Sudah ayo kita pergi!" Tae Haa sudah malas membahas itu, ia langsung menggenggam tanganku dan ingin melangkah pergi. Namun aku menghentikan langkahku dan berkata. "Tuan, kita mau kemana?" tanya aku sambil menatapnya. "Kenapa selalu memanggil aku Tuan!" Suara be

