4 bulan kemudian. Perutku mulai membesar dan saat ini aku tidak tinggal di Apartemen Natalie melainkan di sebuah rumah mewah di tengah-tengah kota Amerika. "Dingin sekali," batin aku yang kembali menarik selimut. "Nyonya bangun, sebentar lagi Tuan Tae Haa datang," ucap seseorang yang mencoba membangunkan aku. "Aku masih ngantuk, bi Nia!" teriak aku yang langsung menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tebal. Bi Nia adalah pembantu yang tinggal di rumah ini dan ia sangat baik selalu melayani aku layaknya anak kecil. Bi Nia juga selalu sabar dengan tingkahku seperti ini. "Nyonya, bibi tidak tanggung jawab kalau Tuan Tae Haa nanti marah-marah pada nyonya karena telat bangun," ucap bi Nia seperti mengancam aku. Dengan terpaksa dan rasa malas yang sangat besar didalam tubuhku, aku langsu

