MENGINGINKANNYA

1005 Kata
Klara dan Seo Ji saling menatap satu sama lainnya lalu menatap Tae Haa dengan tatapan bingung. "La---lalu, Tuan mau wanita seperti apa?" tanya Klara dengan sangat gugup. "Berikan map itu!" titah Tae Haa yang sekilas melirik Nam Joo. Nam Joo langsung menganggukkan kepalanya dan memberikan map coklat pada Klara, namun Seo Ji langsung mengambil map itu dan membukanya dengan cepat. "Bisa-bisanya mereka memberikan Bos jalang seperti ini," batin Nam Joo yang dari tadi menatap ke-lima jalang itu. Klara dan Seo Ji benar-benar menatap dan membaca serius selembar kertas yang ada didalam map tadi. "Bagaimana?" tanya Tae Haa setelah beberapa menit suasana hening. "Jadi tidak mau jalang?" Lagi-lagi Seo Ji menanyakan itu padanya. BRAK! BRAK! Tae Haa menggebrak meja dengan sangat kencang membuat beberapa makanan dan minuman yang ada diatas meja ikut terangkat. "Ma---maaf Tuan!" Seo Ji membungkukkan badannya lalu Klara juga ikut membungkukkan badannya. "Bagaimana saya bisa meniduri jalang kotor dan murahan seperti mereka!" Tae Haa benar-benar menghina ke-lima wanita yang ada di depannya itu. Tae Haa juga memberikan tatapan tidak suka dan tatapan penuh benci pada kelima wanita itu. "Idih, siapa juga sih yang mau melayani lelaki angkuh seperti kau!" sentak salah satu jalang itu. "Benar, dia sangat angkuh dan menyebalkan," celetuk wanita lainnya. "Tampang sih oke tapi kalau angkuh untuk apa, tidak sudi aku melayani lelaki seperti itu," hinaan wanita lainnya lalu melangkah pergi begitu aja meninggalkan ruangan VVIP. Tae Haa tidak terima dirinya di hina dan di ejek dengan ke-tiga wanita jalang itu. Tae Haa langsung bangun dari duduknya dan mengambil sebotol wine. "Ayo kita pergi aja dari sini!" Wanita lainnya langsung pergi begitu aja karena ia juga tidak suka dengan tingkah arogan dari Tae Haa. Lama-lama semua wanita yang dibawa oleh Seo Ji tadi langsung pergi begitu aja dari ruangan, lalu Nam Joo bangun dari duduknya mencoba menenangkan Bosnya. Karena Nam Joo tau apa yang akan terjadi setelah ini, Nam Joo sangat mengerti siapa Bosnya dan bagaimana karakter Bosnya itu. "DASAR KAU w************n!" Tae Haa mengumpat pada lima wanita tadi lalu ia melemparkan botol wine yang dari tadi ia genggam dengan penuh emosi yang meluap-luap, Tae Haa ingin melemparkan botol wine itu pada salah satu wanita tadi. Namun tiba-tiba aja ada seorang wanitaain masuk kedalam ruangan, dan dengan cepat Nam Joo langsung menghampiri wanita itu untuk tidak terkena lemparan botol dari Bosnya. BRAK! Botol wine itu mendarat tepat di lengan kanan Nam Joo dan Nam Joo berhasil menghalangi wanita yang baru aja masuk ke dalam ruangan dengan cara memeluknya. "ASTAGA!" Klara berteriak saat melihat tingkah Tae Haa yang sangat menyeramkan. "A---apa itu," gugup seorang wanita yang masih berada di pelukan Nam Joo. "NAM JOO, APA YANG KAU LAKUKAN!" Tae Haa berteriak seperti di hutan, suaranya benar-benar lantang dan sangat nyaring di dalam ruangan. Nam Joo langsung melepaskan pelukannya pada wanita itu lalu wanita itu sangat gugup dan ketakutan. Klara dan Seo Ji langsung menghampiri wanita itu, lalu Nam Joo menyentuh lengannya yang terluka akibat Bosnya. "Mi Cha, kenapa kamu kesini?" tanya Klara pada wanita itu. Wanita yang baru aja masuk adalah Mi Cha, entah kenapa ia tiba-tiba datang ke ruangan ini. Mi Cha benar-benar mirip patung, ia masih berdiri dan terdiam di posisi awal ia datang. "Cha!" Klara mencoba menggoyang-goyangkan tubuhku karena aku terus-menerus bengong. "Kenapa sahabat kamu?" tanya Seo Ji sambil menatapku bingung. Seo Ji sangat kenal siapa aku begitu juga aku mengenal dirinya, karena aku adalah sahabat dekat istrinya membuat Seo Ji mengenal siapa diriku. "Sepertinya Cha agak syok," jawab Klara lalu merangkul pundakku dan ingin melangkah pergi dari ruangan, namun tiba-tiba aja... "STOP!" Teriak Tae Haa, lalu Klara menoleh kebelakang dan menatap Tae Haa. "Tuan, saya izin keluar karena sahabat saya sepertinya agak syok dengan kejadian tadi," ucap Klara dengan sopan dan meminta izin pada Tae Haa untuk pergi dari ruangan. "Saya tidak izinkan kau dan wanita itu pergi!" teriak Tae Haa. "Tuan, saya akan mencarikan wanita lain untuk Tuan," kata Seo Ji yang mencoba membiarkan istri dan sahabat istrinya pergi dari ruangan ini. "Saya tidak butuh wanita lain tapi saya butuh dia!" Tae Haa menunjuk wanita di samping Klara dengan telunjuk kirinya. Klara, Nam Joo dan Seo Ji langsung melirik ke arahku lalu aku menatap lelaki itu dengan bingung. "Sa---saya? Kenapa Tuan butuh saya?" tanya aku yang agak gugup. Aku benar-benar gugup dan sangat takut saat melihat wajah lelaki itu. Wajahnya seperti sedang emosi dan menahan emosi. "Saya butuh kau selama sembilan bulan," jawab lelaki itu. "Sembilan bulan? Apa maksudnya?" Aku benar-benar enggak mengerti dengan apa yang di katakan lelaki itu, lalu aku menatap Klara dan Seo Ji secara bergantian. "Maaf Tuan, kalau dia enggak bisa menjadi wanita yang Tuan inginkan," ucap Klara. "Kenapa enggak bisa?" tanya Tae Haa dengan wajah sombongnya lalu berkata. "Saya bisa berikan apa yang dia inginkan!" "Apa yang aku inginkan?" batin aku yang sedang memikirkan sesuatu. Hening... Seo Ji dan Klara saling bertatapan, lalu mereka juga menatap diriku dengan tatapan aneh. "Mi Cha memang sedang membutuhkan biaya untuk hutang adiknya hari ini, tapi apa dia mau melahirkan anak untuk lelaki lagi?" Lagi-lagi Klara menanyakan itu didalam batinnya sendiri. "Tidak mungkin wanita polos sepertinya mau mengabulkan keinginan wanita gila sepertinya," batin Seo Ji. Klara dan Seo Ji benar-benar sedang bingung, namun ia juga sangat butuh biaya untuk membayar hutang di Klub mereka. Mereka juga memiliki banyak hutang akibat Seo Ji sering sekali main judi dan akhirnya Klub yang akan menjadi tanggungan untuk hutang-hutang Seo Ji. "HEI! KENAPA DIAM!" Tae Haa berteriak lagi. Karena tidak ada jawaban, Tae Haa langsung duduk di sofa dengan sangat kasar. Tae Haa juga langsung meneguk wine yang langsung dari botol. "Bos, sepertinya kita jangan cari wanita itu di sini," ucap Nam Joo yang udah berdiri di samping Tae Haa. "Saya menginginkan wanita itu!" Tae Haa menunjuk diriku lagi dengan telunjuk kirinya. "Ke---kenapa kamu mau menginginkan saya?" tanya saya yang mencoba memberanikan diri walaupun sedang gugup. Tae Haa memberikan senyuman menyeringai, lalu ia kembali bangun dari duduknya dengan menggenggam botol wine di tangannya. "Bos, jangan lakukan ini lagi!" Nam Joo masih memegangi luka tadi dan mencoba menenangkan Bosnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN