Dusta dari Masa Kecil

1146 Kata
Tuhan pernah mendengar doa. Setidaknya, dulu begitu yang Damar percaya. Hujan masih deras ketika ia akhirnya berdiri dari kardus basah itu, meninggalkan Gang Kelam dengan langkah berat. Plastik kecil tadi sudah ia serahkan. Uang receh yang lembab kini berada di saku jaketnya, dingin dan basah seperti hati yang tak lagi punya tempat untuk bersembunyi. Perempuan muda itu pergi tanpa banyak kata, hanya anggukan kecil dan mata yang menghindari tatapannya. Damar tak tahu apakah ia baru saja menyelamatkan malam itu atau justru menambah satu dosa lagi ke tumpukan yang sudah setinggi gunung. Motornya menyala pelan. Mesin tua itu menderu lemah, seolah ikut lelah dengan pemiliknya. Ia melaju menyusuri jalan sempit menuju Kosan Lumpur, angin malam menusuk kulit wajahnya yang basah. Setiap tikungan membawa ingatan yang tak diinginkan. Dan malam ini, ingatan itu datang lebih kuat dari biasanya. Di dalam kamar kosan yang sempit, lampu neon kuning redup menyala lemah di langit-langit yang berjamur. Damar melempar jaket basahnya ke sudut ruangan, lalu duduk di tepi kasur tipis yang sudah bolong di beberapa tempat. Bau lembab dan rokok lama memenuhi udara. Di dinding, cermin pecah memantulkan bayangannya dalam potongan-potongan yang tak utuh — seperti jiwa yang sudah lama retak. Ia mengambil rokok lagi. Tangan kanannya masih sedikit gemetar. Saat api menyala, ingatan itu datang seperti banjir yang tak bisa dibendung. Dulu, di Desa Sumberlumpur, malam seperti ini biasanya diisi suara azan yang jernih dari masjid kecil di ujung sawah. Damar kecil berusia sepuluh tahun, duduk bersila di tikar anyaman di ruang tamu rumah kayu mereka. Ibu duduk di depannya, tasbih kayu di tangan, suaranya lembut tapi tegas saat memimpin doa. “Ya Tuhan, lindungi keluarga kami dari segala mara bahaya,” ucap ibu. Damar mengulang dengan suara kecil, mata tertutup rapat, percaya bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya naik langsung ke langit. Ayahnya saat itu masih hidup, bekerja sebagai nelayan di pelabuhan kecil dekat desa. Pulang malam dengan bau ikan asin dan garam laut yang menempel di baju. Ia akan duduk di samping mereka, tangan kasar tapi hangat memegang bahu Damar. “Doa itu seperti jangkar, Nak. Tanpa itu, kita akan hanyut,” katanya suatu malam, suaranya dalam dan tenang. Damar percaya. Ia percaya sepenuh hati. Setiap kali ada badai di laut, ia berdoa agar ayah pulang selamat. Dan ayah selalu pulang. Sampai suatu hari, badai itu datang lebih besar dari biasanya. Ayah tak pernah kembali. Mayatnya ditemukan tiga hari kemudian, terdampar di Pantai Batu Hitam yang kini ia kenal terlalu baik. Ibu menangis diam-diam di belakang rumah, tapi di depan Damar ia tetap tersenyum. “Tuhan punya rencana, Nak. Kita harus tetap percaya.” Damar mengangguk saat itu, tapi di dalam d**a anak kecil itu sudah mulai tumbuh pertanyaan kecil yang tak berani ia ucapkan: Kalau Tuhan punya rencana, kenapa rencana itu harus menyakitkan? Kini, di kosan reyot ini, Damar tertawa kecil, getir. Rokok di bibirnya hampir habis. Rencana. Kata itu terasa seperti ejekan. Jika Tuhan punya rencana, maka rencana itu pasti adalah melihatnya tenggelam pelan-pelan di lumpur Karanganyar. Dari nelayan kecil di desa menjadi pengedar yang menjual racun setiap malam. Dari anak yang berdoa dengan mata tertutup menjadi pria yang memegang besi dingin di saku jaketnya, siap menghabisi nyawa jika keadaan memaksa. Ia bangkit, berjalan ke jendela kecil yang menghadap Sungai Hitam. Air sungai mengalir keruh di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Bau limbah dan ikan busuk naik ke atas, bercampur bau hujan yang masih turun. Di kejauhan, lampu-lampu Pelabuhan Lumpur berkedip samar, tempat ia sering bertemu bos kecil untuk ambil barang. Dunia bawah tanah itu sudah menjadi rumah keduanya. Rumah pertama di desa sudah lama ia tinggalkan, bersama segala dusta tentang Tuhan yang “selalu mendengar”. Tiba-tiba, ponsel di saku bergetar. Nomor ibu. Damar menatap layar yang menyala itu lama, jarinya ragu di atas tombol terima. Akhirnya ia angkat juga, suaranya serak setelah terlalu lama diam. “Assalamualaikum, Nak.” “Waalaikumsalam, Bu.” Suara ibu terdengar lelah, tapi masih ada kehangatan yang tak pernah hilang. “Kamu sehat? Sudah lama tidak telepon. Ibu khawatir.” Damar menelan ludah. “Sehat, Bu. Kerja di pabrik lagi sibuk. Maaf baru bisa angkat.” Ibu diam sejenak. “Kamu ingat adikmu? Dia sudah lama tak pulang. Ibu takut dia juga tersesat seperti… seperti kamu dulu.” Kata “seperti kamu dulu” terasa seperti pisau kecil yang menusuk pelan. Damar tahu ibu tak tahu yang sebenarnya, tapi kalimat itu tetap menyakitkan. Ia ingat adiknya yang kabur tiga tahun lalu, setelah melihat Damar pulang malam dengan mata merah dan bau racun yang menempel di baju. “Kakak monster,” bisik adiknya saat itu sebelum pergi. Kata itu masih terngiang sampai sekarang. “Dia pasti baik-baik saja, Bu,” jawab Damar, suaranya datar. “Mungkin lagi cari kerja di kota besar.” Ibu menghela napas. “Doakan dia ya, Nak. Ibu setiap malam masih berdoa untuk kalian berdua. Tuhan pasti dengar.” Damar tak menjawab. Kata “Tuhan pasti dengar” terasa seperti tamparan halus. Ia menutup mata, membayangkan ibu duduk di tikar yang sama, tasbih di tangan, berdoa untuk anak yang kini menjual kematian setiap malam. Kalau Tuhan dengar doa Ibu, kenapa Ia tak pernah dengar doaku yang dulu? Pembicaraan berakhir dengan janji Damar yang samar untuk pulang suatu hari. Saat telepon dimatikan, kamar terasa lebih sempit. Ia duduk kembali di kasur, tangan memegang kepala. Rokok ketiga dinyalakan. Asap naik ke langit-langit, berputar pelan seperti pertanyaan yang tak pernah selesai. Kenapa Engkau diam saja saat aku berdoa dulu? Kenapa Engkau biarkan ayah pergi, biarkan adik lari, biarkan aku jadi seperti ini? Tapi malam ini ada yang berbeda. Wajah perempuan muda di Gang Kelam tadi tak mau hilang dari pikirannya. Mata cekung itu, tangan gemetar, suara kecil yang meminta “satu bungkus aja”. Ia mirip adiknya terlalu banyak. Dan Damar tahu, besok malam perempuan itu mungkin akan datang lagi. Atau mungkin ia akan mati pelan seperti Rian. Damar berdiri, berjalan ke cermin pecah di dinding. Bayangannya terpecah menjadi beberapa bagian. Ia menyentuh permukaan yang retak itu dengan jari, merasakan dingin kaca yang tajam. “Kalau Engkau ada,” bisiknya pelan ke bayangannya sendiri, “kenapa Engkau biarkan orang-orang seperti aku tetap hidup? Kenapa bukan Engkau yang ambil nyawa kami saja?” Hening lagi. Hanya suara hujan di atap seng dan detak jantungnya. Tapi saat ia hendak berpaling dari cermin, ponsel bergetar lagi. Bukan ibu kali ini. Nomor Rian. Damar menatap layar itu dengan d**a yang tiba-tiba sesak. Rian tak pernah telepon malam-malam seperti ini. Biasanya ia datang langsung. Dengan tangan yang berat, ia angkat panggilan itu. Suara di seberang sana bukan suara Rian. Suara orang asing, serak dan tergesa. “Mar… lo harus ke sini sekarang. Rian… Rian nggak bangun-bangun lagi.” Dunia seolah berhenti berputar. Damar berdiri diam, rokok jatuh dari bibirnya ke lantai. Rian. Sahabatnya yang kemarin bilang mau berhenti. Dan sekarang, Tuhan — jika memang ada — mungkin sedang diam lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN