BAB 4: RUANG PENGHAKIMAN

751 Kata
​"Aura, masuk." ​Suara Pak Heru, Kepala Sekolah SMA Cakrawala, terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi reputasi Aura. Di dalam ruangan yang berbau kertas lama itu, Aura merasa oksigen tiba-tiba menipis. Ibunya duduk di kursi kayu dengan wajah pucat, tangannya terus meremas tisu. Di sudut ruangan, Dimas berdiri tegak dengan hoodie hitamnya, tatapannya sulit dibaca. ​Di atas meja Pak Heru, botol ramuan herbal itu berdiri tegak, dikelilingi oleh tumpukan kertas hasil cetakan tangkapan layar dari grup w******p kelas dan akun VibeTok Aura. ​"Kamu tahu, Aura, sekolah ini punya aturan ketat soal membawa barang-barang yang tidak jelas fungsinya, apalagi yang berpotensi membahayakan kesehatan," Pak Heru memulai, suaranya tenang tapi tajam. "Laporan yang masuk ke email pengaduan sekolah sangat detail. Ada bukti kamu mencoba meyakinkan beberapa siswa kelas sepuluh bahwa ramuan ini bisa 'menenangkan pikiran' sebelum ujian." ​"Saya nggak pernah tawarin ke siapa-siapa, Pak! Itu bohong!" Aura memekik, air matanya mulai menggenang. ​"Buktinya ada di sini," Pak Heru menunjukkan cetakan pesan dari akun anonim yang mengirimkan screenshot percakapan Aura di sebuah forum. "Mungkin kamu tidak bicara langsung, tapi jejak digitalmu di komunitas DeepMind menunjukkan kamu seolah-olah menjadi 'agen' untuk produk ini. Sekolah tidak bisa membiarkan promosi obat-obatan tanpa izin medis di lingkungan ini." ​Ibunya terisak. "Pak, Aura hanya ingin sembuh. Dia merasa dia Bipolar..." ​"Itulah masalahnya, Bu," sela Pak Heru. "Sekolah sudah menghubungi dr. Aris setelah menerima laporan ini. Meskipun dr. Aris tidak bisa membocorkan detail karena kode etik, beliau mengonfirmasi bahwa Aura tidak memiliki diagnosa klinis seperti yang ia pamerkan di media sosial. Ini namanya penipuan publik yang membawa nama sekolah, Aura." ​Keputusannya mutlak: Aura diskors selama dua minggu. Dia dilarang mengikuti ujian tengah semester yang akan datang, dan namanya harus dibersihkan melalui permintaan maaf tertulis di mading sekolah. ​Saat keluar dari ruang Kepala Sekolah, koridor sekolah yang tadinya sunyi mendadak terasa sangat bising. Meskipun tidak ada suara, Aura bisa merasakan mata setiap siswa yang mengintip dari balik kaca jendela kelas. ​"Ra," panggil Dimas saat mereka sampai di parkiran motor yang sepi. ​Aura berbalik dengan wajah merah padam. "Puas kamu, Dim? Bara puas sekarang? Dia beneran pengen aku hancur cuma karena aku salah riset di internet?!" ​Dimas menghela napas, wajahnya tampak lelah. "Bara nggak akan berhenti sebelum kamu 'turun' dari panggungmu, Ra. Dia merasa kamu sudah mengotori perjuangan orang-orang yang beneran sakit. Dia mau kamu melakukan satu hal: Live Streaming klarifikasi malam ini. Akui kalau kamu cuma cari perhatian." ​"Kalau aku lakuin itu, aku bakal jadi bahan tertawaan seumur hidup, Dim!" ​"Kalau kamu nggak lakuin itu, Bara bakal kirim foto-foto pribadimu saat kamu lagi histeris di klinik ke grup angkatan. Dia punya akses ke sana, Aura. Aku nggak bisa jagain kamu terus." ​Malam itu, kamar Aura terasa seperti penjara. Ponselnya terus bergetar. Notifikasi dari VibeTok kini isinya hanya makian. Tagar #AuraFake menjadi trending di lingkaran pertemanan sekolahnya. ​Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Bukan dari Bara, bukan dari Dimas. ​Pesan: “Jangan dengerin Dimas. Dia cuma manfaatin kamu buat deketin Bara lagi. Kamu nggak sendirian, Aura. Buka jendelamu.” ​Aura tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia memberanikan diri menyingkap gorden. Di balik kaca jendela, di bawah lampu jalan yang temaram, berdiri seorang gadis. Dia memakai seragam olahraga sekolah yang sama dengan Aura. Tangannya memegang sebuah papan tulis kecil. ​"DIMAS BOHONG. DIA YANG KIRIM BUKTI KE KEPALA SEKOLAH." ​Dunia Aura serasa berputar. Dimas? Cowok yang selama ini menemaninya ke dokter, yang terlihat sangat peduli padanya, justru yang mengkhianatinya? ​Aura membuka jendela dengan tangan gemetar. "Kamu siapa?" bisiknya pada gadis di bawah sana. ​Gadis itu menurunkan papannya. Wajahnya terlihat penuh luka memar yang ditutupi makeup tebal. "Aku mantan pacar Dimas. Dan aku tahu persis gimana cara dia mainin psikologis orang lewat nama 'Bara'. Bara itu nggak nyata, Aura. Bara itu cuma sisi lain dari Dimas." ​Petir menyambar di kejauhan, menerangi wajah gadis itu yang kini tersenyum tipis. Aura merasa perutnya mual. Jika Bara adalah Dimas, maka selama ini dia sedang dipermainkan oleh satu orang yang sama. ​Tepat saat itu, pintu kamar Aura diketuk pelan. ​"Aura? Ini Dimas. Aku bawa makanan. Kita perlu bicara soal live streaming nanti jam delapan." ​Aura menatap gadis di bawah jendela, lalu menatap pintu kamarnya. Ia terjepit di antara dua kenyataan yang sama-sama mengerikan. ​Siapakah sebenarnya gadis di bawah jendela itu? Apakah Dimas benar-benar menciptakan sosok "Bara" untuk memanipulasi Aura, atau ini adalah jebakan lain untuk menghancurkan kepercayaan Aura yang tersisa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN