Kami duduk di kursi masing-masing. Sarapan kali ini Umi yang memasak. Sebenarnya sempat aku larang, tetapi beliau kekeh ingin memasak. Katanya rindu membuatkan sarapan untuk Mas Adam. "Kok rapi banget,Ais. Mau ke mana?" Umi menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Maaf,Umi, sebenarnya Aisyah sudah bekerja di butik satu bulan ini. Bosan di rumah sendirian,Mi," dustaku. Sebenarnya alasan utama karena aku tak ingin terlalu bergantung dengan Mas Adam. Aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa mengandalkan nafkah dari suamiku itu. Sedang rumah tangga ini belum jelas ke mana arahnya. Cinta belum tumbuh, atau mungkin mati sebelum bertunas. "Kenapa tidak bekerja di perusahaan Adam saja, Nak?" tanya Abi heran. "Aisyah tidak berbakat bekerja di perusahaan Mas Adam,Bi. Takutnya malah

