Sheeran sedang menata kue keringnya ke dalam wadah ketika lonceng rumahnya berbunyi. Jarum pendek jam sudah menunjuk ke angka sembilan, siapa kira-kira tetangga yang sudi mengunjunginya di jam-jam seperti ini? Menghela napas panjang, Sheeran menghentikan pekerjaannya, beranjak dan melangkah gontai menuju pintu rumahnya. Dan ketika daun kayu itu terbuka, ia hanya mampu diam mematung. Bibirnya terkatup rapat dan netra sebening madunya berkaca-kaca. Sesaat ada perasaan emosional yang mencoba menguasai. Marah, sedih, rindu, semua bercampur menjadi satu. "Aku membencimu," ujar Sheeran. Meski ucapannya begitu, ia malah memeluk sosok di hadapannya. Menumpahkan rasa rindu yang menguasainya selama beberapa tahun belakangan ini. "Maaf, maafkan aku Sheeran." Alfdrein yang tinggi menjulang dan besa
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


