pertolongan

1291 Kata
Pov dini Kemudian kak dani mendekatkan wajahnya ke arah wajahku yang sudah tidak berdaya, karena kaki dan tanganku sudah diikat, sehingga dengan leluasa dia menjilat seluruh area wajahku, tanpa ada yang terlewat sedikitpun, seperti kucing yang sedang membersihkan tubuhnya. sesekali dia mengecup pipiku dengan lembut, membuatku semakin merasa jijik dengan semua perlakuannya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan menggerak-gerakan tubuh, berharap bisa terlepas dari cengkraman iblis biadab ini, namun semakin berusaha melepaskan diri maka makin habis pula tenagaku terkuras. Setelah puas menjilati area wajahku, tanpa ada yang terlewat, dia mulai turun ke area Leherku, sehingga membuatku menaikkan pundak, agar Leherku tidak tersentuh olehnya. namun dengan sabar dia terus berusaha, tanpa ada kekerasan seperti di awal, tangannya mulai meraba ke area dadaku, sambil terus menjilati leherku, dia meremas-remas kedua dadaku silih berganti. Ada rasa aneh yang mengalir di tubuhku, seolah menikmati semua yang dilakukan oleh kak Dani, namun rasa perih dalam hati yang begitu sakit membuatku menepis rasa itu. "Tolong hentikan Kak" pintaku sambil terus meneteskan air mata. Tak Ada Jawaban keluar dari mulut Kak Dani, hanya Deru nafas yang berhembus tidak beraturan memenuhi Tengkku. membuatku merasa geli. "Hentikan Kak" cuma kata itu yang terus keluar dari mulutku, berusaha supaya kak Dani dengan sadar hentikan perbuatan kejinya. Dengan perlahan kak Dani membuka satu persatu kancing baju yang kukenakan, lalu dia menurunkan kecupannya ke bawah leher, dengan buas dia melahap kedua Dadaku, aku hanya bisa menangis Meraung, seperti orang yang kesakitan, Tak Rela rasanya tubuhku diperlakukan seperti ini. Kak Dani hanya tersenyum menyeringai memperlihatkan Barisan yang kuning. Setelah puas bermain dengan kedua Dadaku perlahan dia menurunkan Celanaku, namun dia kesusahan ketika mau melepaskannya, karena kakiku masih terikat membuatku merasa sedikit lega dan geli melihat kebod0hannya. namun rasa lega itu tidak bertahan lama setelah ia mengeluarkan pisau cutter yang diambil dari tasnya. Kak Dani mulai merobek Celanaku menggunakan cutter, sehingga celana itu terlepas dengan sempurna,lalu kak dani melemparkan sisa sayatan celana menjauh dari tubuhnya. "Sabar ya sayang, kamunya ngelawan, Jadi akunya harus repot begini" ujar kak Dani sambil menyimpan kembali pisau cutter menjauh dariya, mungkin dia merasa takut itu akan jadi bumerang baginya. Kemudian dengan santai dia membuka seluruh bajunya, tanpa menyisakan sehelai benang menutupi tubuhnya yang coklat, membuatku semakin merasa ngeri dibuatnya apalagi ada benda tumpul yang berdiri di depan tubuhnya. Setelah bajunya terlepas dia kembali berjongkok di bawah kakiku, lalu ia mencoba menindih tubuhku dengan tubuhnya, namun dia sangat kesusahan ketika dia hendak menusukku karena kedua kakiku yang masih terikat tidak bisa dibukanya. "Sabar ya Sayang, aku mau lepas dulu ikatannya dulu tapi kamu janji jangan macam-macam yah" ucapnya dengan suara sangat berat sambil melepaskan ikatan di kakiku. Setelah ikatan itu terlepas, Merasa Ada Kesempatan, dengan yang masih tersisa aku tendangkan kakiku, ke arah punggunya, sihingga dia tersugkur. "B4ngs4t!!!! Dasar cewek jal4ng: bentaknya sambil bangkit berdiri dengan kasar dia memiringkan tubuhku. Bugggg!! Buggg!! Buggg!! "Awwwwwwwww" teriakku dengan sangat kencang setelah pukulan itu mendarat di paha bagian samping, sehingga membuat kakiku mati rasa tidak bisa digerakkan lagi. Lalu dia membalikkan tubuhku dengan kasar agar terlentang kembali seperti semula. Plakk!! Plakk!! Seolah tidak puas dengan meninju pahaku, dia kembali menamparku dengan beberapa lemparan yang sangat keras, membuat kepalaku berdenyut, penglihatanku Mulai kabur tidak kuat menerima siksaan itu. sehingga aku memejamkan mata untuk meradakan nyeri yang ada disekejur tubuhku. Kedua pahaku terasa ada yang membuka, hembusan nafas menyapu area int1mku, perlahan hembusan nafas itu berubah menjadi jilatan-jilatan yang menyusuri setiap inci lubang int1mku. kak Dani menjilatiku seperti srigala yang sedang menjilati darah buruaanya. "Ya Allah maafkan atas semua dosaku" gumamku dalam hati seolah tersadar bahwa tidak ada tempat memohon pertolongan kecuali kepadaNya Dengan mata yang masih tertutup, aku berdoa meminta pertolongan kepada Dzat yang maha penolong, Berharap ada keajaiban yang bisa melepaskanku dari jeratan ini, karena aku yakin tidak ada yang mustahil baginya. Air mataku terus membasahi pipi, menyesali atas Kejadian yang menimpaku saat ini, menyesal terhadap diri sendiri, yang tidak mau mendengarkan nasehat Kak Dali, yang melarangku untuk menemui kak Dani seorang diri. Namun dengan kebod0hanku, aku malah mengabaikannya nasihatnya sehingga terjadilah hal buruk seperti sekarang. Kak Dani mulai berjongkok merapatkan pahaku dengan pahanya, dia bersiap untuk melancarkan serangannya kelubang kehormatanku, aku hanya merapatkan bibir dan kedua pahaku dengan sangat kuat, untuk menahan rasa sakit yang aku terima, sakit akan Kehilangan mahkotaku sebagai perempuan. Brraaakkk!!!! Suara pintu yang di dobrak, membuat kak dani menghentikan niatnya, sehingga senjatanya tidak jadi menghunus kehormatanku, dengan sisa-sisa tenaga aku tendangkan kembali kakiku ke tubuh kak Dani, namun itu tak membuatnya bergeming, mungkin karena tenagaku yang sudah terkuras habis, sehinga tendangaku sangat lemah. "Eh b4ngs4t, kamu mau ngapain, itu adikmu sendiri g0blok" ujar suara yang sangat aku kenal, terdengar Deru sepatu yang berlari mendekati arah kak Dani. Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!! Terdengar beberapa pukulan yang mengenai tubuh, membuatku sedikit membuka mata dengan perlahan, terlihat keadaanya yang sedang menatapku dengan dengan sayu. "Kamu nggak apa-apa Din" tanya Kak Dali sambil melepaskan jaketnya ,untuk menutupi tubuhku, lalu membantiku membuka ikatan tali yang ada di tangan. :Hanya deraian air mata yang mengalir deras sebagai jawaban dari pertanyaannya, lidahku terasa kelu apalagi sehabis menerima siksaan yang begitu berat. "Kamu harus kuat, Ayo bangkit, tutupi tubuhmu, sebelum baji94n ini bagun kembali lagi" desis kak dali dengan sangat cepat. Dengan perlahan kuangkitkan tubuhku, yang terasa masih sangat sakit, lalu kukenakan jaket pemberian Kak Dali, lalu kutarik seprai yang menutupi kasur untuk menutupi area tubuh bawah ku. "G0bl0k, s1alan kamu mengganggu kesenangan orang" ujar kak Dani sambil menyeka darah yang mengalir di bibirnya. "Lu tuh yang g0blok, sampai-sampai Adek sendiri kamu rambut kesuciannya, dasar binatang" Balas Kak Dali tak kalah garang darinya. Tidak ada perkataan lagi setelah kak dani dengan kondisi masih telanjang menyerang Kak Dali dengan membabi buta, seperti hewan buas yang kehilangan mangsanya, namun Kak Dali tidak tinggal diamz dia membalas serangan itu dengan Sama buasnya, akhirnya pertempuran sengit tidak terelakkan, mereka berdua saling pukul, saling tinju, saling lempar, saling banting, Mereka terlihat sama kuat. Namun pertempuran menjadi tidak seimbang, ketika seorang dari teman Kak Dani datang sembari memegangi telinganya, dia datang membantu kak Dani, untuk sama-sam melepuhkan Kak Dali. "Dini pakai celana itu, terus t kamu lari dan mencari bantuan" pekik Kak Dali di sela-sela pertarungan mereka sambil melemparkan celana kak dani. Melihat keadaan Kak Dali yang mulai terdesak membuat tenagaku seolah pulih kembali, aku mengambil celana Kak Dani yang Tadi dilemparkan oleh kak dali. "Cepat kamu cari bantuan, jangan bengong begitu" pekik Kak Dali lagibsetelah sudut matanya menangkapku yang sudah selasai memakai celana. "Cepetan dini" teriak Kak Dali sembelum pukulan keras mendarat dirahangnya. perasaan bimbang, antara Bertahan di sini atau keluar mencari bantuan apalagi melihat keadaan yang semakin terdesak, namun kak dali terus memaksaku pergi, untuk cepat mencari bantuan, akhurnya aku berlari menuju arah pintu kamar, namun langkahku terhenti ketika sudut mataku menangkap kak dani, yang sudah siap menyerang kembali dengan pisau cutter ditangannya "Cepat pergi jangan hiraukan aku" ujar Kak Dali Dengan dengan berat hati, aku lanjutkan langkah kakiku, untuk segera keluar agar cepat mendapat pertolongan. "Aggggrhhhh" Terdengar teriakan Kak Dali, seperti orang yang kesakitan, membuatku seketika menghentikan langkahku kembali, kubalikkan badanku untuk membantunya namun aku sadar dengan keadanku sekarang yang tidak ada kekuatan, jangankan untuk menolongnya, untuk berjalan aja aku tidak kuat kalau tidak dipaksakan. Aku butuh bantuan orang lain sehingga kubulatkann tekad untuk segera mencari pertolongan, meningalkan kak teriakan kak dali. "Maafkan aku Kak" gumamku sambil terus berlari dengan sempoyongan menuju pintu keluar. Setelah berada di luar pagar, aku kebingungan hendak mencari pertolongan ke mana, namun tiba-tiba dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil mendekatiku, dengan penglihatanku yang mulai kabur, aku melambai-lambaikan tangan, supaya mereka mobil itu terus mendekat, apalagi diatas mobil itu ada lampu biru yang berkelip, sehinga aku tidak ragu memangilnya. Setelah mobil itu sampai dihadapanku, keluarlah beberapa orang pria mendekatiku, namun ketika aku hendak menghampirinya mataku tiba-tiba gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN