kangen martabak

1402 Kata
Pod dali "Gimana kalau anak pak Wahyu? bapaknya udah setuju tuh!" Pak Agung menyarankan Aira untuk menjadi istriku. "Setuju Bagaimana Pak, jelas-jelas kita beda kasta?" Tanyaku sambil mengerinyitkan dahi. "Pas pertemuan Bapak sama Pak Wahyu dia menyebut nama kamu beberapa kali, bahkan katanya kamu sudah disuruh untuk mendekati anaknya, Saran bapak pepet terus jangan sampai lengah!" ujar Pak bowo dengan menggebu-gebu. "Kalau saya sih lurus-lurus aja Pak, lagian kita hanya pernah bertemu dua kali sama anaknya dari pertemuan itu sama sekali belum pernah ketemu lagi, ketemu juga di jalan tapi dia seolah tidak mengenaliku" aku sambil menghela napas panjang. CEmang kamu mau" tanya Pak Agung yang antusias. "Ini bukan soal mau atau enggaknya, tapi yang jadi problemnya, akunya itu layak apa nggak untuk Aira, secara perbedaan kita sangat jauh, ini Bukan Drama yang Beauty And The Beast, di mana laki-lakinya gembel istrinya seorang putri" jelasku sambil terkekeh menganggap yang kita bicarakan hanyalah candaan Semata. "Jangan pesimis gitu dong, kalau mau terus berusaha, sampai tujuanmu tercapai" Pak Agung menyemangati. "Tapi manusia menurut Bapak, memiliki batas kemampuan, jadi aku cukup tahu batasan itu" jelas ku mengingatkan perkataan Pak Agung. "Tapi jangan menyerah sebelum mencoba!" Pak Agung menimpali. Aku hanya tersenyum Getir menanggapi perkataannya, Bagaimana mau mendekati Aira, sedangkan aku saja selalu sibuk bekerja walau dengan gaji yang pas-pasan untuk bertahan hidup. "Kok diam? kamu suka ya sama anak Pak Wahyu?" tanya Pak Agung memecahkan lamunanku. "Hahaha hanya orang bodoh yang gak suka sama Aira, cewek secantik itu Mana mungkin ada pria yang menolaknya, cuma pria mana yang mampu untuk menjadikan seseorang Ratu, lagian membayangkan memenuhi kebutuhannya pikiranku tidak nyampe" sanggahku sambil tertawa "Soal memenuhi kebutuhan kan ada bapaknya, kamu tinggal menikmati saja lagian bapaknya kan orang kaya, terus dia anak satu-satunya pasti warisannya nggak akan jatuh kepada yang lain" jelas Pak Agung sambil menatap ke arah jalan. "Jadi aku tinggal menafkahi batinnya aja ya Pak?" aku memastikan perkataan Pak Agung dengan menarik kedua sudut bibirku. "Nah itu kamu pintar, sekarang kamu pepet terus anaknya, nanti ke duluan orang baru nyesel" ultimatum yang diberikan Pak Agung seolah aku adalah orang yang materialistis, lagian sangat tidak relevan kata itu menempel di sikap laki-laki. "Hahaha nggak tahu lah Pak, saya berdoa semoga saya cepat menemukan jodoh saya, siapapun dia itu adalah yang terbaik buat saya" ujarku sambil menghela nafas panjang melepaskan semua beban yang memenuhi rongga kepalaku. "Tapi Kamu harus ingat jodoh itu tidak jatuh dari langit, seperti hujan turun" ujar Pak Agung mengingatkan. "Rumah makannya di mana Pak?" aku berasa mengalihkan pembicaraan supaya tidak terus memojokkanku soal jodoh. Kita memang butuh orang yang peduli sama kita namun kita tidak butuh orang yang protektif terhadap kehidupan kita, jadi walaupun tujuannya mereka baik, namun itu membuatku tidak nyaman, sehingga aku mengalihkan pembicaraan supaya tidak terfokus membahas tentang masalah pribadiku. Aku juga Sama seperti orang-orang pada umumnya, yang mulai khawatir di umur yang sudah berkepala tiga, tapi dia masih menyendiri takut menjadi perjaka tua, apalagi sekarang jangankan untuk menikah calonnya saja masih abu-abu, makanya ketika ada orang yang mengingatkan tentang jodoh rasanya tidak nyaman, bukan tidak tahu berterima kasih tapi biarlah masalah pribadiku menjadi tanggung jawab sendiri. "Masih jauh, kamu mengalihkan pembicaraan. Bapak sangat setuju kalau kamu menikah sama anaknya Pak Wahyu" jawab Pak Agung seolah tahu apa yang aku pikirkan. "Amin, doain saja Pak!" ujarku supaya pembahasan ini cepat selesai. "Bapak doakan, tapi kalau kamunya tetap diam Sama saja itu bohong" ujar Pak Agung yang mengutip peribahasa berusaha tanpa berdoa itu sombong, sedangkan berdoa tanpa berusaha itu bohong. "Nampaknya saya harus membawa beras sama ayam jago nih ke rumah, biar bisa lebih mendalami" ucapku yang terus menghindar membahas tentang jodoh. "Hahaha boleh tuh" balesnya beras merah ya biar tidak kolesterol ujar Pak Agung yang mengeluarkan tawa. "Bapak bukan apa-apa mengingatkan seperti itu, karena walau bagaimanapun kamu adalah teman bapak sekaligus sebagai orang tuamu, jadi sepatutnya sesama teman bapak mengingatkanmu. Kodrat manusia itu memiliki pasangan, Karena itu adalah sudah menjadi ketentuan sang pencipta, jadi kalau sudah menemukan jodohnya jangan ditunda lagi, cepat nih halalkan dia! jangan terlalu memilih!. Karena manusia tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik sang pencipta" lanjut Pak Agung yang terus menasehatiku tanpa merasa bosan. "Terima kasih Pak Saya merasa senang masih banyak yang peduli sama saya. Walaupun saya bukan orang yang pantas untuk diperdulikan" ujarku lirih. Obrolan kita terus berlanjut, diselingi nasihat-nasihat kehidupan dari Pak Agung yang tidak bisa didapatkan dari buku atau bangku sekolah, melainkan dari pengalaman kehidupan itu bisa dipelajari. Aku merasa sangat senang karena secara tidak langsung ini adalah pelajaran gratis mengalir begitu saja. Pak agung menghentikan pembicaraannya sesaat setelah mobilnya terparkir di sebuah restoran ikan bakar yang tadi dia Sebutkan, kita berdua turun lalu masuk ke dalamnya. rongga hidungku dipenuhi dengan wangi ikan bakar menggetarkan usus-usus dalam perut seolah tidak sabar ingin diisi. "Dali" siapa seseorang ketika aku sudah memasuki restoran itu. Seketika pandanganku tertuju ke arah mana datangnya suara, terlihat orang yang aku kenal meski hanya baru sekali bertemu, namun memori otaku menyimpan pertemuan itu dengan sangat baik sehingga aku tidak lupa. "Pak Bagas" gumamku sambil mencium punggung tangannya. "Mau makan Dal?" tanya Pak Bagas setelah memperkenalkan dirinya sama Pak Agung. "Ya pak, Bapak juga mau makan?" aku balik bertanya. "Saya sudah makan, kebetulan tadi ketemu klien di sini, jadi sekalian saya makan siang juga" pak Bagas menjelaskan kepentingnya berada di restoran itu. Aku hanya mangaukan kepala tanpa menimpali perkataannya. "Oh iya Kapan kamu main ke rumah lagi?, kangen martabaknya" lanjut Pak Bagas sesaat setelah melihat aku terdiam. "Hehehe" hanya gumaman itu yang keluar dari kedua bibirku, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal, bingung harus menimpali seperti apa, karena itu sangat tidak mungkin terjadi, kalau Stella tidak mengundangnya, Lagian kalau hanya martabak pinggiran seperti itu mana, mungkin Pak Bagas tidak sanggup membelinya. "Ya sudah silakan dilanjut, saya pamit dulu nanti, kalau ada waktu ingat kamu main ke rumah ya!" Ujar Pak Bagas sambil menyalami kita berdua lalu keluar melewati pintu restoran. "Itu siapa Dal" tanya Pak Agung yang kepo setelah Pak Bagas tidak terlihat lagi. "Kita pesan makan dulu, nanti aku kasih tahu" jawabku sambil senyum Tidak menyahuti pertanyaannya Aku mendekati meja waiter untuk memesan makanan, Pak Agung pun tanpa bertanya lagi dia mengikuti yang aku lakukan, lalu kita duduk di meja yang kosong nampak belum terlihat ramai karena ini belum masuk waktu istirahat kantor. "Yang tadi itu siapa? rasanya Bapak mengenalinya, namun Entah di mana, bapak lupa" Pak Agung yang masih bertanya tentang Pak Bagas. "Pak Bagaskara, namun aku juga tidak mengetahui detailnya seperti apa, karena baru sekali aku bertemu dengannya, itu pun tidak lama, sebelum mengantar anaknya makan malam" jawabku menjelaskan sesuai sesuai apa yang terjadi. Dengar nama Baskara, disebut Pak Agung mengeringitkan dahi seolah dia lagi mengingat sesuatu. "Kalau nggak salah, beliau itu memiliki usaha yang bergerak di bidang properti, di bawah naungan grup apa gitu?" ujar Pak Agung yang mulai mengingat sesuatu. "Kurang tahu juga sih Pak" jawabku seolah tidak memperdulikan perkataannya. "Coba kamu cari di Google dengan nama Bagaskara, aku yakin dia itu orangnya" pinta Pak Agung yang masih merasa penasaran. Dengan malas aku mengeluarkan ponsel lalu membuka aplikasi pencari nomor satu di dunia, setelah mengetikkan namanya di kolom pencarian, keluarlah artikel-artikel yang berhubungan dengan nama Bagaskara beliau adalah salah satu pemilik perusahaan bernama karasri Group bergerak di bidang properti. "Nah kan benar apa yang saya bilang, beliau bukan orang sembarangan" ujar Pak Agung yang berdecak kagum. Sama halnya denganku yang mengagumi Pak Bagaskara, bukan karena aku mengetahui dia memiliki perusahaan properti nomor 1 di kota Jakarta, melainkan sikapnya yang ramah dan rendah hati, bahkan dia mau memakan makanan yang aku bawa, padahal makanan itu cuma martabak yang aku beli di pinggir jalan, mungkin begitulah sikap orang yang sukses mereka pandai menghormati orang. "Kamu pacaran sama anaknya? pantas saja kamu nolak pas bapak jodohin sama anaknya Pak Wahyu, ternyata kamu punya incaran yang lebih besar, salut salut" ujar pak Agung sambil mengakat kedua jempolnya. "Nggak Pak, kebetulan saya sama anaknya adalah teman kerja di cafe" aku menjelaskan Sebenarnya apa yang terjadi. "Hah" jawab Pak Agung sambil membulatkan mata seolah tidak percaya, sebenarnya aku juga tidak percaya stela mau bekerja di cafe setelah aku mengetahui keberadaan rumahnya l. "Kok mau anaknya kerja begituan, harta bapaknya aja tidak akan habis walau dimakan 10 turunan: lanjut Pak Agung menambah rasa herannya. "Tidak tahu lah Pak, Mungkin begitulah orang-orang kaya menjadikan pekerjaan itu bukan sebagai kebutuhan Namun sebagai pasihon saja" jawabku yang tidak mau terus membahas tentang orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN