visum et repertum

1217 Kata
Pov dali Setelah Pak Polisi pergi meninggalkanku untuk mengurus Dani dan kedua temannya. Aku di papah Darda untuk menemui dini yang ada di luar pagar, sambil menunggu ambulans menjemputnya. Terlihat banyak orang yang mengerumuni untuk membantu atau hanya sekedar melihat. Ketika aku sampai di situ maka kerumunan itu memberikan jalan buat aku dan Darda. "Bagaimana keadaanmu Din" Tanyaku sambil duduk selojaran di samping dini. Dini tidak menjawab, namun terlihat matanya mengeluarkan tetesan bening yang membasahi pipinya. Mungkin dia masih shok atas kejadian yang baru menimpanya. "Udah, Mas. Jangan ditanya dulu, biarkan dia tenang" ujar seorang warga yang menolong dini. Aku pun menuruti saran orang tadi, tidak melanjutkan pertanyaanku, memberi waktu dan membiarkan Dini menenangkan diri. Tak lama setelah itu ambulans pun datang, untuk membawa dini ke rumah sakit terdekat, para petugas medis dengan sigap mengangkat tubuh Dini keranjang pasien, lalu memasukkannya ke mobil ambulans. "Ada dari pihak keluarga yang mau ikut" tanya seorang petugas medis. "Aku ikut Pak" jawabku dengan cepat rasanya tidak tega membiarkan dia sendirian. "Ya sudah ayo masuk" perintah petugas medis itu. Akupun mengangguk lalu mendekati mobil ambulans itu. Namun tiba-tiba Darda memegang pergelangan tanganku untuk menghentikan langkahku. "Ada apa Dar" Tanyaku sambil membalikkan badan. "Motor lu bagaimana" tanyanya sambil menatapku. "Ya Allah, hampir lupa, terima kasih udah mengingatkan" jawabku sambil menepuk jidat. "kamu menolongku jangan setengah-setengah, sekarang Tolong bawa motorku mengikuti ambulans ini" lanjutku meminta tolong sama Darda. "Hah merepotkan saja, sini Mana kuncinya" jawabnya dengan Ketus seperti biasa. "Terima kasih ya Dar, jangaj telat bakwan Italy menunggu" ujarku sambil tersenyum karena memiliki teman sebaik Darda. "Nggak mau, nanti badan gua tambah bengkak" tolaknya masih dengan bernada Ketus. Setelah memberikan kunci motorku sama Darda. Aku masuk ke dalam ambulans menemani dini ,yang terbaring di atas ranjang, "yang kuat ya Din" ucapku sambil menggenggam tangannya dengan erat, seolah aku tidak mau berpisah lagi dengannya. Akhirnya mobil ambulans pun melaju meninggalkan rumah yang penuh kengerian, malau bantuan Darda tidak datang tempat waktu, mungkin hanya jenazahku yang akan pergi dibawa ambulans. Mobil ambulans melaju dengan kecepatan tinggi membelah gelapnya malam di kota Jakarta, dengan diiringi suara khas sirinenya. Tiba di rumah sakit Dini pun dibawa ke ruang UGD untuk mendapat pertolongan pertama, sedangkan aku bersama Darda yang tiba duluan dirumah sakit, menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu. "Elu juga harusnya dirawat dal" saran Darda "Nggak usah, aku sudah baikan kok, cuman lebam sedikit, wajarlah kan laki-laki" jawabku sambil berjalan menyusuri lorong menuju ruang IGD. Sesampainya di sana, terlihat Dini sedang diberikan pertolaongan pertama oleh dokter jaga, sebelum dilanjutkan kepenanganan tahap selanjutnya, setelah dokter selesai mengecek dini aku menghampirinya. "Bagaimana keadaannya dok" Tanyaku dengan panik. "Pasien baik-baik saja,cuman ada beberapa buka lebam di wajahnya, namun Bapak tidak usah khawatir karena kami sudah memberikan pertolongan pertama, sebelum ditindak lanjuti oleh dokter ahli" jawab dokter yang melepaskan stetoskopnya dari telinga. "Apa harus dilakukan visum" Tanyaku sambil menatapny "Jika Bapak ingin meminta dokter mengeluarkan visum et repertum, bapak perlu melakukan pelaporan ke polisi terlebih dahulu. Nanti Polis akan mengeluarkan surat permintaan visum dan dokternya akan menjawab surat permintaan tersebut dengan visum et repertum. Namun bukan berarti jika tidak ada surat permintaan visum pemeriksaan tidak bisa dilakukan. Pemeriksaan bisa tetap dilakukan, semua dicatat secara lengkap di dalam rekam medis kemudian dilakukan dokumentasi yang diperlukan. Biasanya jika datang ke fasilitas kesehatan, tanpa ada surat permintaan visum, tapi ingin dilakukan pemeriksaan forensik klinik, untuk keperluan visum di kemudian hari, pasien akan diberikan resume medis, seperti surat keterangan medis Jadi, sebenarnya bentuk suratnya saja yang berbeda. Itu yang Disarankan atau diedukasi kepada korban atau keluarga atau pendamping korban, untuk melakukan pelaporan ke polisi dengan membawa resume medis tersebut. Nanti polisi akan membuatkan surat pernyataan visum dan baru akan dikeluarkan visum et repertum oleh dokter forensik" jelasnya panjang kali lebar membuar mataku menaik keatas supaya bisa mencerna apa yang disampaikan. "Visum et reperum itu apa pak" tanyaku penasaran "Visum et repertum dalam proses peradilan dan penyidikan, bisa menjadi alat bukti yang sah dan memiliki kedudukan lebih tinggi, karena didalamnya jelas tertulis Pro Justitia yang artinya demi kepentingan hukum" pak Dokter menjelaskan dengan sabar. "Jadi sebaiknya saya harus bagaimana" tanya aku mau minta pendapat Dokter itu "Sebaiknya menurut saya bapak datang ke kantor polisi sambil membuat laporan penganiayaan seksual dan sekaligus meminta surat permintaan untuk visum, biar gak bolak-balik mengurusnya" "Terima kasih Pak atas penjelasannya dan pertolongannya" ucapku "Sama-sama, saya pamit undur diri dulu, besok pagi setelah dokter farensik datang, akan dilakukan pengecekan lebih lanjut" ucapnya sambil senyum lalu meninggalkan tempat kami. Tak lama setelah kepergian dokter, dini dipindahkan ke ruang inap untuk beristirahat, setelah mendapat pertolangan medis. "Maaf ya Din aku hanya mampu menempatkanmu di ruang kelas satu" ucapku yang duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya. Ruang kelas satu adalah ruang kamar rawat inap yang biasanya diisi oleh dua pasien, berbeda dengan ruang VIP yang biasanya hanya diisi oleh satu pasien saja, namun kebetulan ranjang yang di samping dini belum terisi, sehingga membuatku merasa sedikit lega, karena kalau banyak orang nanti bisa berdampak buruk terhadap mentalnya Dini hanya membalas kegenggaman tanganku dengan erat, tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya, sama seperti tadi hanya deraian air mata yang terus membasahi kedua pipi indahnya, membuat hatiku terasa sakit melihat orang yang aku sukai mendapat perlakuan seperti ini. "Udah jangan nangis terus, sekarang kita sudah aman, mending kamu istirahat" ucapku dengan suara lirih seolah merasakan apa yang dirasa Dini sekarang. Dia hanya membalikkan wajahnya menatap ke arah lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya, kuseka air mata yang terus mengalir di pipiny,a lalu ku naikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ya udah kamu tidur ya" pintaku sambil mengelus rambut yang tidak tertutup hijab, lama kelamaan, perlahan matanya mulai mengatup, setelah dirasa dini sudah tertidur, aku melepaskan gengngaman tangamya dengan perlahan, kemudiam bangkit untuk menghampiri Darda yang masih duduk menunggu di lorong rumah sakit. Setelah berada diluar kamar, terlihat darda sedang duduk di lantai, sambil memegangi handphonenya, matanya tertuju ke layar ponsel menatap game yang sedang ia mainkan, tanpa memperdulikan keadaan sekitar. "Dar" Panggilku dengan pelan karena takut mengganggu pasien lain. Namun dia acuh tetap fokus memainkan gamenya setelah kutepuk pundaknya baru dia menoleh ke arahku sambil melepaskan earphone-nya dari telinga. "Apa sih ganggu gua aja, jadi kalah nih" jawabnya dengan Ketus "Lagian aku panggil kamu diam aja, kamu kalau main game tidak tahu tempat dan waktu" gerutuku yang kesal melihat kelakuannya. "Elu jangan salahkan game gau, kalau enggak ada game ini, Mana mungkin gua bisa menolong lu "sanggahnya sanggahnya tidak terima "Ada apa" lanjutnya sambil memasukkan handphone ke saku jaketnya. "Mau minum soda nggak" tanya aku menembak dengan minuman yang dia suka, membuatnya menatap nanar ke arahku dengan senyuman termanisnya. "Ayo, emang pacar lu udah tidur" ujarnya buru-buru bangkit "Sudah, makanya aku keluar mau cari buah ke supermarket, kamu temenin ya soalnya masih ngeri kalau bawa motor, sebelum dia bangun" ajakku. "Siap Paduka, keinginan padaku adalah perintah bagi kami" ucapnya sambil membungkukkan badan meniru drama-drama yang dari Asia. Akhirnya kita berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang nampak sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 semua pasien biasanya beristirahat, dan orang yang menunggunya pun pasti sangat kelelahan setelah seharian mengurusi orang yang sakit. "Oh iya nanti kalau biaya rumah sakitnya kurang, lu pakai saja uang gua dulu" ujar Darda yang berjalan di sampingku meski Dia terlihat sangat cuek namun aslinya dia sangat baik. "Terima kasih ya atas penawarannya, semoga saja uangku cukup"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN