Bab 14

2186 Kata
Mungkin tampak bagimu aku sekuat baja, namun nyatanya dalamku hanya sebatas kaca.   Terkadang memang hidup tidak sesuai dengan keinginan kita. Terkadang hidup juga membalikkan semua yang kita mau. Apa yang kita inginkan terkadang malah harus kita relakan dan lepaskan. Namun yang terkadang kita tidak pernah harapkan datang begitu saja mengisi hari-hari kita. Hidup memiliki cara sendiri untuk mengajarkan kita makna akan semuanya. Namun hal yang perlu diketahui, hidup mengajarkan kita untuk senantiasa ikhlas dan mempercayakan semuanya kepada Allah. Allah tahu jalan terbaik untuk kita dan takdirNya pasti sangat indah meskipun kita saat ini merasa sangat tidak sesuai atau mungkin sangat kecewa, namun dibalik semua itu pasti akan ada hikmah yang dapat dipetik serta jalan terang akan muncul membawa kita dalam suatu keberhasilan. Seperti yang tertulis dalam surah Al Baqarah ayat 216, dimana berbunyi 'Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.' Maka seperti itulah yang kini tengah ia rasakan. Meringis sedih mendengar bagaimana Aji berusaha menenangkan Wulan. Sedangkan dirinya? Entahlah, jika ia berkata ini tidak adil, namun dalam hal apa ia bisa berkata demikian? Apa hanya karena Aji memerhatikan Wulan malam ini? Oh ya Tuhan, Nisa sadar Wulan sedang terpuruk. Dan memang sudah seharusnya Aji menghibur Wulan. Akan tetapi ada segelintir bagian hatinya yang merasa sedih. Apa Aji suatu saat akan berlaku sama kepadanya? Nisa mendesah lemah, mengusap-usap kedua lengannya yang merasa kedinginan malam ini. Waktu sudah hampir pagi, tetapi ia belum juga bisa memejamkan mata. Sejak tadi Nisa hanya merenungkan diri memikirkan kata-kata Lana yang begitu menusuk hatinya. "Tante janji sama Lana, enggak akan ada yang ambil papa Aji. Papa masih milik Mama, Lana dan Alan." "Terus Tante di sini buat apa?" "Tante hanya...." Ia menatap Lana lembut. Menahan kepedihan yang semakin dalam menumpuk di relung hatinya. "Tante lagi belajar, Sayang. Kayak Lana di sekolah. Anggap tante ini murid dan Papa Aji serta Mama Wulan adalah gurunya," jelas Nisa terbata-bata. "Memangnya Tante belajar apa?" "Tante belajar agama Sayang," jawabnya mencoba tersenyum. ‘Dan tante belajar mengasihi diri tante sendiri. Bahwa hidup adalah sebuah kesakitan yang terbalut kebahagiaan' sambungnya dalam hati. Ia tahu dirinya masuk di tengah-tengah keluarga yang begitu sempurna. Tapi percayalah, andai dia bisa menjadi sosok yang lebih kuat, tidak akan dirinya berada di sini sekarang. Sebelah tangannya menutup mulutnya agar suara isak tangis tidak terdengar oleh Aji dan Wulan yang masih terbangun. Buru-buru Nisa melangkahkan kaki, berjalan menuju area dapur di lantai bawah. Sesampai di dapur, kegelapan menyapanya seorang diri. Dia terus melangkah mencari sedikit air hanya untuk membasahi tenggorokannya. Napasnya tercekak kala air tersebut mengalir di tenggorokannya. Sedangkan bulir air matanya mulai turun membasahi pipi. Ia terus mencoba menghalau agar tidak menangis, akan tetapi dirinya terasa begitu lemah. Meratapi nasibnya yang selalu berujung kesedihan. Satu tarikan napas Nisa lancarkan agar mengembalikan emosinya. Menenangkan debaran jantungnya yang masih berdetak tidak beraturan. Jika sedang begini, pikiran jahatnya mulai mendominasi. Entah mengapa rasanya Nisa ingin mengamuk dan berteriak di depan wajah Aji kalau lelaki itu belum berlaku adil. Akan tetapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, tidak membenarkan hal itu. Ia begitu sadar sedalam apa cinta Aji untuk Wulan. Maka dari itu ia meyakini hatinya sekuat apapun Nisa berteriak, sikap Aji akan tetap sama. Wulan adalah segalanya. Nisa menarik sebuah kursi makan, lalu mendudukan dirinya di sana. Dalam gelap, lintasan kejadian-kejadian menakutkan yang pernah ia alami kembali terulang. Membuka luka hati terdalamnya. Tanpa ia rasakan tubuhnya sudah banjir akan keringat dingin akibat dari ketakutan. Kedua matanya menyelusuri ke sekeliling, menatap dalam gelap seakan-akan ada seseorang yang telah mengintainya. "Tidak ... lepaskan!!" Di sebuah ruangan gelap dengan sedikit pencahayaan terdapat kilatan cahaya dari pantulan sebuah benda tajam. Sosok yang membuatnya ketakutan semakin senang melihat dirinya berteriak histeris meminta untuk dilepaskan. Sebuah pisau yang berada di tangannya sengaja ia goreskan dipergelangan tangan Nisa untuk menekannya agar menyerah pada keadaan. "Aku tidak akan melepaskamu, Nisa." "Tolong jangan.  Aku mohon jangan sentuh aku lagi." "Teriaklah sesuka hatimu, karena tidak akan ada yang mendengarnya." Hingga kalimat terakhir itu terucap, bayangan ketakutan itu semakin menusuknya. Membuatnya lupa cara bernapas dan merasa sesak di tubuh. "TIDAAAAKKKKK!!" teriaknya bersamaan dengan sebuah tepukan di bahu Nisa. Kepalanya menegok, melihat tangan siapa yang berada di bahunya. "Hei, tenanglah," bisik Aji pelan. Nisa mendesah lega. Tubuhnya meluruh lemas, napasnya mulai berjalan teratur kembali setelah tahu siapa yang baru saja mengagetkannya. Sebenarnya Aji tidak bermaksud membuat Nisa kaget, namun sejak tadi Aji perhatikan dengan seksama, Nisa seakan berada di tempat yang lain. Hingga akhirnya ia menyetuh bahu itu dengan perlahan. Tetapi berefek sangat kuat. Rasa kaget itu sudah menjawab Aji bila sejak tadi Nisa melamun seorang diri di tengah gelap malam. "Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Aji. Ia mengambil posisi duduk di hadapan Nisa dengan pandangan tidak lepas dari perempuan itu. "Kebetulan aku terbangun tadi," jawabnya penuh kebohongan. Nisa menyampirkan helaian rambutnya ke balik telinga kemudian menatap Aji takut. Ia yakin Aji tahu bila kini dirinya tengah berbohong. Namun nyatanya Aji mencoba percaya akan jawaban Nisa. "Apa sudah shalat Tahajud?" Tanya Aji kembali karena setelahnya tadi Nisa hanya kembali diam. Nisa menggeleng lemah. Tahajud? Ya Tuhan selama 29 tahun hidupnya sekalipun ia belum pernah melakukannya. Ralat. Pernah sekali ketika serempak dulu pada zaman sekolah menengah pertama, guru-gurunya meminta semua murid untuk shalat tahajud. Agar semuanya kelak akan lulus ujian. Tetapi waktu itu Nisa hanya ikut-ikutan saja. Jangankan bacaan untuk sholat tahajud, bacaan sholat biasa saja dia masih mengeja. Layaknya seorang anak kecil yang belum bisa membaca dan menulis sedikitpun. Kadang dulu ia merasa iri jika teman-temannya sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Sedangkan ia, huruf hijaiyah saja tidak hafal. Lalu bagaimana bisa ia disebut seorang perempuan yang beragama Islam. Banyak sekali kekurangan yang dia miliki. Terlebih lagi setelah kejadian terburuknya itu selalu menghantuinya, membuat Nisa tidak memiliki semangat hidup. Ia sudah terlalu putus asa hingga pernah melakukan aksi nekad yang berujung penyesalan seumur hidup. "Nis," tegur Aji kembali. "Mau mas contohkan caranya?" Ucap Aji perlahan. Ia takut menyinggung perasaan Nisa. Tetapi tanggapan Nisa begitu senang. Ia mengangguk cepat dengan senyuman dibibirnya. "Ayo," ajak Aji. Tangannya terulur ke arah Nisa agar disambut oleh perempuan itu. Namun terjadi keheningan sesaat di antara mereka. Nisa masih saja diam membisu. Dengan tatapan fokus kepada tangan Aji. "Kenapa lagi?" Ungkap Aji merasa aneh. Karena merasa tidak ada pergerakan, Aji meraih tangan Nisa kemudian menggenggamnya erat. Hangat.... Rasa itu yang pertama kali Nisa rasakan. Sengaja ia menggerakan ibu jarinya di tengah genggaman tersebut. Agar dia yakin bila memang Aji yang tengah menggenggam tangannya saat ini. Ketika kakinya terhenti, Nisa mendongakan wajah. Menatap wajah Aji yang seperti menahan senyum. "Mas wudhu dulu. Nanti kamu setelahnya," jelas Aji. Dalam keheningan Nisa mencermati setiap gerakan dari Aji. Mulai membasuh kedua tangannya, merapal doa yang entah apa, hingga berakhir dengan membasuh kedua kakinya. Kemudian ditutup dengan doa kembali. Mengapa terlalu banyak doa yang Aji baca? Apa nanti dia bisa menghafal sebanyak itu? "Ayo, kamu sekarang." Tanpa berbicara, Nisa berjalan mendekat. Mulai membuka sebuah keran air di mana tempat Aji tadi berwudhu. Gerakan yang Nisa lakukan perlahan-lahan sekali. Dia sesungguhnya takut melakukan kesalahan. Apalagi Aji masih setia menemani di sampingnya. "Basuh sampai ke bagian sikumu. Lakukan mulai dari bagian kanan," ucapnya menjelaskan. Kemudian ketika Nisa ingin membasuh kedua kakinya, hampir saja ia tergelincir jatuh jika Aji refleks tidak menangkapnya. "Astaghfirullah al'adzim. Pelan-pelan." "Maaf," cicitnya. Nisa sedikit menggerutu dalam hati. Semua ini karena tatapan Aji yang membuatnya tidak fokus. Namun untung saja Aji memiliki refleks yang bagus. Mungkin jika tidak, tubuhnya sudah mencium lantai sekarang. Setelah wudhu selesai, Aji menjelaskan doa apa yang dibaca. Agar menyempurnakan wudhu tersebut. Lelaki itu juga menjelaskan bila mana kita harus menjaga wudhu kita setiap saat. Bukan malah melakukan wudhu setiap saat. Kening Nisa semakin berlipat mendengar penjelasannya. Tetapi entah dari mana datangnya kesabaran Aji hingga ia bisa dengan lembutnya mengajarkan Nisa segalanya. "Mas tanya satu hal, berapa banyak kamu sholat setiap harinya?" Nisa menggeleng pelan, membalas tatapan Aji yang masih sibuk dengan kain sarung berwarna merah. Lelaki itu mengulum senyum, kemudian memposisikan dirinya untuk melakukan sholat. "Tidak apa-apa. Semua orang berawal dari ketidakmampuan. Jangan berkecil hati. Mas akan membantumu," ungkapnya. Malam ini Nisa menjadi saksi bagaimana lembutnya sosok Aji. Lelaki itu memang sungguh luar biasa, batinnya memuji. Dia sempat menyesal pernah meremehkan Aji. Dan bahkan Nisa pernah merasa ketidakadilan ketika malam pertamanya kemarin. Namun sekarang rasanya ia malu karena pernah berpikir negatif. Nyata di hadapannya, sosok Aji masih penuh dengan keajaiban yang tidak pernah Nisa bayangkan. Apalagi lantunan ayat-ayat suci yang keluar dari bibir Aji membuatnya tanpa sadar menangis. Berbisik dalam hati agar Tuhan mendengarnya untuk tidak memisahkan lelaki ini dalam hidupnya sampai kapanpun. 'Bagiku cinta bukanlah tentang suatu keinginan untuk bahagia. Namun lebih kepada sebuah keharusan untuk saling membahagiakan. Aku untukmu dan kamu untuk KITA'   ***   Tak terasa sinar rembulan telah berganti dengan teriknya matahari pagi. Burung-burung mulai berkicau tidak mau kalah dengan suara kokok ayam jantan yang berteriak lantang. Masih di dalam kamar yang sama, kedua insan saling memeluk erat satu sama lain. Setelah malam panjang yang sudah mereka lewati kini seharusnya keduanya mampu menyambut pagi dengan bahagia. Di dalam pelukan Aji, Nisa masih terus terdiam memandang ke langit-langit kamar yang mulai terlihat jelas. Di sampingnya, Aji masih setia mendengarkan segala cerita Nisa serta ketakutannya selama ini. Dan baru tadi malam Aji mengetahui dengan jelas atas apa yang telah terjadi. Batinnya ingin sekali mengeluarkan amarah. Tetapi logikanya masih mampu berjalan dengan baik. Tidak seharusnya kejahatan dibalaskan oleh kejahatan. Mungkin bagi Nisa yang mengalaminya, semua ini adalah mimpi buruk. Namun ketika mimpi buruk terjadi, apa kita harus merusak mimpi tersebut lalu menggantinya menjadi lebih baik. Tidak, kita bukanlah Tuhan. Kita hanya manusia biasa. Manusia yang ketika diberikan cobaan bukan menerimanya dengan amarah, namun dengan kesabaran. Karena sekuat apapun manusia marah atas cobaan yang Tuhan berikan, apakah cobaan tersebut akan menghilang dari hidup kita? Tentu saja tidak. Namun bila kita menghadapinya dengan ikhlas, mungkin cobaan yang menimbulkan luka tersebut akan lebih cepat mengering. Walau setidaknya kita tahu akan terselip bekas luka di sana. Tetapi setidaknya kita bisa menghindarinya jika terjadi kembali. Maka dari itu kenapa Tuhan berkata manusia adalah makhluk sempurna. Karena Dia memberikan kita akal dan pikiran agar bisa menjadi lebih baik. Akan tetapi bila akal dan pikiran tersebut tidak digunakan, apa bedanya manusia dengan hewan? Bahkan seekor kucing saja bisa lebih pintar mengakali bagaimana caranya bisa mendapatkan seekor ikan di atas meja. Oleh karena itu, Nisa berjanji akan menghadapi segalanya. Aji pun selalu berusaha bagaimana caranya untuk berada terus di samping istri keduanya itu. "Terima kasih Mas, Nisa jadi lebih baik," ucapnya. "Sama-sama," sahut Aji. "Walau kita baru kenal, namun mas akan berusaha menjadi sosok suami yang baik untukmu. Mungkin sekarang ini mas tidak akan menyentuhmu lebih dulu. Biarkan kita saling mengenal. Lalu setelahnya, mas yakin waktu akan menjawabnya." Nisa mengangguk setuju. Traumanya terhadap mimpi buruk itu tidak mudah dihilangkan. Bagaimana nanti jika kontak fisik itu terjadi dan dia belum siap, apakah tidak menyakiti Aji? Karena itu dirinya setuju akan usul Aji. Biarkan waktu yang menjawab segalanya kelak. Mungkin saat ini ia hanya ingin kenyamanan lebih dulu. "Nis," "Iya Mas." "Terima kasih," bisik Aji kembali. "Untuk?" Nisa melirik Wajah Aji di sampingnya. Lelaki itu nampak tersenyum sebelum membalas tatapannya. "Untuk segala pengertianmu, untuk kebaikan hatimu, untuk kesabaranmu, untuk kasih sayangmu. Apalagi mas dengar kemarin Lana tertidur di dalam pelukanmu. Mas tidak tahu harus berkata apalagi." Nisa terkekeh geli, ia kembali menempatkan kepalanya pada bidang d**a Aji yang kini menjadi tempat favoritnya. "Sama-sama, Mas. Aku enggak sebaik itu. Karena aku cuma perempuan biasa. Mas jangan kaget bila nanti sikap asliku hadir. Aku bisa menjadi sosok yang menyebalkan," godanya. "Tapi...." Sambungnya pelan. "Tapi apa?" "Tapi seumur hidupku tidak akan mungkin kubiarkan rasa egoku menyerang sahabat sejatiku, Wulandari saputri. Walau pada akhirnya egoku akan menyayat diriku sendiri, aku rela. Asalkan Putri tetap bahagia," gumamnya. Tanpa sadar gemuruh di d**a Aji terasa. Dia juga takut bila saat itu terjadi, bukan Nisa atau Wulan yang terluka karena saling menyerang. Namun ia takut tidak bisa memposisikan dirinya sebaik mungkin. "Enggak usah gugup gitu Mas," canda Nisa. Tubuhnya menjauh dari pelukan Aji kemudian menatap manik mata Aji begitu dalam. "Mas harus tahu, mungkin aku bukanlah perempuan pertamamu. Tapi percayalah ada cinta terbaik yang akan kuberikan. Walau hadirku tak pernah kau inginkan, namun tanpa kau sadari diriku akan selalu Mas butuhkan," ungkapnya. Walau terdengar pelan, entah mengapa di telinga Aji tersirat begitu banyak janji di sana. Sampai-sampai Aji langsung merengkuh tubuh Nisa dalam dekapan hangatnya. Mencium kening perempuan tersebut sambil merapalkan doa yang sejak menikah belum sedikitpun dia berikan. "Yaa Allah, ridhoilah kami dari ketetapan-Mu. Berilah keberkahan kepada kami atas segala apa-apa yang telah Engkau putuskan, sehingga kami tidak suka mempercepat apa yang Engkau akhirkan dan tidak pula mengakhirkan apa yang telah Engkau percepatkan." "Terima kasih, Mas. Akhirnya Mas mendoakan Nisa," isaknya kencang. Tanpa sadar Nisa begitu bahagia mendengar doa yang Aji bisikan dipuncak kepalanya. Meniupkan angin segar untuk jiwanya. Setidaknya suaminya sudah melakukan satu tugasnya yang begitu mulia. Mendoakan istrinya dengan sepenuh hati. "Alhamdulillah."   Anggaplah cinta kita adalah magnet. Semakin semesta iri untuk memisahkan, semakin kuat pula tarikan cinta yang kita miliki. ----- continue. Lanjut gak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN