"Gimana? Lo ragu?" Raden menyentuh pundak Abi yang menegang. Entah sudah berapa lama mereka terdiam di depan rumah itu, memandangi rerumputan liar yang tumbuh tinggi, pagar besi tinggi yang berkarat, hingga sarang laba-laba dan debu—serta kegelapan tak berujung yang menyelimuti rumah itu. Aura negatif terus keluar dari dalam rumah itu—tidak, tapi, bagian depannya saja sudah menakutkan seperti itu. Raden memejamkan mata tatkala sebuah bola mata terbang ke arahnya, dan suara-suara tawa yang menggelegar dari salah satu ruangan tertangkap rungunya. "Kalau gue, sejujurnya gue ragu," Raden bergerak membuka gerbang rumah itu. Derit besi berkarat yang memekakkan telinga membuat Abi mengernyit geli. "Tapi, karena sekarang kita di sini. Rasanya sia-sia aja kalau kita gak take an action kan? Gue ma

