48

2628 Kata

Raden mengembuskan napas panjang. Ia mondar-mandir di kamarnya seperti setrika rusak. Entah kapan abi akan bangun, sementara jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Pria itu menggigit bibir bawahnya. Ia telah melewatkan dua pelajaran sampai detik ini. Ia ingin meninggalkan Abi, namun benaknya berkata bahwa dia harus tetap tinggal. Dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Abi. Kemungkinan bahwa Abi akan kembali dengan jiwanya pun sangat kecil. Jadi, mana mungkin Raden akan keluar dari kosan dan meninggalkan Abi sendirian? Rasanya, pikiran dan hati kecilnya tidak dapat diajak bekerja sama sekarang. Keduanya selalu mengutarakan jawaban yang berbeda. Ponsel yang sejak tadi berada di genggaman Raden tiba-tiba bergetar. Pria itu menatap lahar ponselnya yang bertuliskan nama Rara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN