Bab. 02

1022 Kata
Yes, I'm Bastard ...... Clarinda atau yang biasa di sapa Arin tersebut, telah bersiap-siap sesuai rencananya tadi siang bahwa dia akan menemui sang kakak di kantor milik kakaknya. Dia turun dari lantai dua dimana kamarnya berada, saat sudah berada di ruang tamu Arin tidak melihat siapapun. Mungkin orang rumah sedang keluar pikir nya. Hari ini Arin memilih mengemudi sendiri tanpa bantuan mang Ujang, tadinya mang Ujang ingin mengantar dirinya namun Arin menolaknya karena dia juga akan bertemu sahabatnya yang sejak satu tahun ini tidak pernah bertemu. Dia menggunakan google maps untuk bisa mengetahui dimana temannya tinggal, saat tujuan sudah sampai dengan cepat Arin menelpon sahabatnya. "Hallo, gue udah di depan." Kata Arin sambil menatap sekitar mansion besar tersebut. "Oke, Clarinda lo bisa masuk bentar gak soalnya gue lagi sakit perut." Jawab orang yang ada di seberang sana. "Gila lo, ya udah gue masuk, awas lo kalau lama." Lalu setelah itu sambungan telepon berakhir, Arin melangkah untuk memasuki mansion tersebut. "Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya satpam yang sedang menunggu di depan mansion. "Saya temannya Diana, tadi dia menyuruh saya untuk menunggu nya." Jawab Arin dengan senyum nya yang tidak pernah luntur. "Oh maaf nona saya tidak tahu, silahkan masuk." Lalu satpam tersebut membuka pagar dan Arin berterima kasih dia berjalan menuju pintu utama mansion milik keluarga Diana. Lalu seorang maid membuka pintu untuk Arin padahal gadis itu sama sekali belum memencet bel, dan maid tersebut seakan tahu akan kedatangan. "Silahkan masuk nona." Maid yang tadi membuka pintu membimbing Arin untuk menuju ke arah ruang tamu, gadis itu disuruh duduk di sifa yang ada di sana sementara maid tersebut pergi ke daput untuk membuat minuman. Seorang pria turun dari lantai dua rumah tersebut, dia melihat gadis itu dengan lekat tidak berniat menegur dia langsung berjalan menuju dapur. Sedangkan Arin tidak sadar jika baru saja ada seseorang yang berjalan melewati. Arin menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, Dia sudah sangat lama menunggu bahkan ini sudah kesekian kalinya dia menghembuskan nafasnya. "Hufftt." "Nona, silahkan." Maid yang tadi baru saja membawakan minuman dan cemilan untuk dirinya. "Terima kasih." Ucap Arin dengan senyum mengembang, sedangkan maid itu membalasnya dengan senyuman juga dan segera pamit dari sana. Sedangkan pria tadi masih melihat Arin melalui pembantas antara dapur dan ruang tamu, dia baru tahu ketika jika gadis yang selama ini ia pantau tengah berada di dekatnya. Jika saja dia tidak terbangun tadi dan menguping pembicaraan Diana pasti dia tidak akan tahu jika gadis yqng sebentar lagi akan menjadi miliknya itu tengah duduk manis di sofa dalam mansion orang tuanya. Arin menyesap jus yang tadi maid berikan untuknya, dia tidak sadar jika minuman itu sudah di berikan obat yang akan membuatnya tidur pulas. Sekitar 15 menit setelah meminum jus tersebut, Arin menguap menahan kantuk. Dia heran bukan kah selama beberapa jam tadi dia juga tidur tidak bisa menahan kantuk Arin langsung tidur di atas sofa dengan menggunakan jaket sebagai selimutnya. Sedangkan di tempat lain, Diana gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamar nya, dia mengambil tas selempang yang berada di atas nakas, lalu berjalan menuju pintu untuk segera menemui sahabatnya yang sudah lama menunggu dirinya. Saat hendak membuka pintu, ternyata pintu tersebut terkunci. Dengan menggedor-gedor dan berteriak Diana berusaha membuka pintu. "Hei! Buka pintunya." Teriak Diana gadis itu melempar tas selempang miliknya, lalu mencari kunci pintu. Seingatnya tadi dia tidak mengunci pintu sama sekali. Lantas siapa yang mengunci nya. Jangan bilang ini adalah ulah adik nakalnya? Namun jika benar anak itu maka sekarang Diana pasti sudah mendengar cekikan/suara tertawa adik nya namun ini sama sekali tidak ada dan hening. Lalu siapa dalang dari semua ini. Diana berusaha membuka kunci pintu dengan beberapa anak kunci yang ada di laci milik nya namun itu sama sekali tidak ada yang cocok. "Aaaa, sial! Siapa yang membuat ulah seperti ini?!" Teriak nya dengan jengkel, lalu dia mengambil telepon yang dia simpan di tas selempang miliknya. Namun dia juga tidak menemukan handphone itu, Diana duduk dengan jengkel di atas kasur besar miliknya. Dan mengingat siapa yang berani-beraninya membuat dia terperangkao di kamar ini. "Setan! Rico b*****t!" Teriaknya dia baru sadar, bahwa yang membuatnya terperangkap disini adalah kakak sialan nya. Pantas saja tadi dirinya tidak mendengar suara apapun, dan ternyata pria itu dengan lihai menjebak dirinya. Diana melamun sebentar, dia memikirkan jika Rico yang mengunci nya disini berarti pria itu sedang bersama temannya. Sial! Dia baru sadar bahwa Rico menyukai Arin maka dengan segala cara Rico memikirkan segalanya agar bisa bertemu dengan Arin. Sumpah serapah keluar dari mulut Diana, jika Rico inginbertemu dengan Arin bukan begini caranya. Bukan dengan menguncinya disini, baiklah dia akan memikirkan cara agar bisa membalas Rico. "Kau akan menerima akibatnya kakak ku tersayang!" Kata Diana dalam hati, dia tidak akan memaafkan Rico kali ini. Dia akan melihat bagaimana seorang Diana mengamuk. ...... "Tuan ingin membawa teman nona Diana kemana?" Tanya salah satu maid yang mengantar Arin tadi. Sedangkan Rico terkejut setengah mati. Sial! Maki nya dalam hati, sejak kapan seorang Rico bisa segugup ini. "Kau tidak lihat, dia sedang tertidur dan aku akan memindahkannya ke kamar." Jawab Rico dengan jengkel, lalu membawa tubuh Arin untuk dia gendong. Rico membawanya ke lantai atas, lantai dimana kamarnya berada. Rico membaringkan tubuh Arin di atas ranjang miliknya, lalu dia melepas sepatu milik Arin dengan hati-hati agar tidak membuat gadisnya terbangun. "Akhirnya sayang, kau sudah berada disini. Tidur dikamar milik ku." Bisik Rico, dia sangat bahagia saat melihat Arin yang berbaring dengan nyaman di atas kasurnya. Rico membuka baju milik nya sehingga dia telanjang d**a lalu dia berbaring di samping Arin. Rico memeluk gadis nya dengan sangat erat. Namun pikirannya tiba-tiba teringat nasib sang adik. Rico akan meminta maaf nanti jika dia ingat, pria itu tertawa jahat ketika mengingat perbuatannya kepada Diana. Siapa suruh menjadi adik yang matre maka dia akan mendapatkan harga yang setimpal darinya. Rico mengecup leher putih milik Arin, dia sungguh ingin memiliki gadis yang ada di pelukannya ini sekarang, namun dia tidak ingin jika tidak mendengar suara desahan Arin. Dia sangat ingin mendengar suara gadisnya. Maka Rico harus bersabar sampai gadisnya terlepas dari pengaruh obat tidur. ....... Yasss jangan lupa vote?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN