Yes, I'm Bastard
.........
Rico keluar dari kamarnya dengan wajah yang berseri. Dia sangat bahagia untuk malam ini dan tentunya untuk hari-hari berikutnya.
Dia menuju dapur untuk menyiapkan makan, dia tahu jika gadisnya pasti kelaparan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan gadis itu belum makan karena dia menggagahinya selama dua jam ini.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Kepala pelayan tersebut. Rico menganggukkan kepalanya.
"Siapakan makanan untuk saya." Perintah Rico lalu tidak beberapa lama maid yang lain juga datang dan menyiapkan makanan yang di perintahkan oleh Rico.
"Jika sudah selesai, antar ke kamar saya." Lalu Rico berlalu dari dapur dan para maid tersebut bernapas dengan lega. Bagaimana tidak anak sulung keluarga Fernandes tersebut tidak menggunakan baju dan membuat perut kota-kotaknya terlihat.
"Astaga sejak kapan tuan Rico bersikap seperti itu?" Tanya Maid yang bernama linda sedangkan maid yang lain hanya bisa mengangkat bahu mereka bahwa mereka tidak tahu juga.
"Huss jangan bergosip, cepat selesaikan makanan yang Tuan inginkan tadi." Kata kepala pelayan yang bernama maria.
.......
Ben menatap Diana yang makan dengan lahap, tadi gadis itu memberitahu diri nya jika ia belum makan sama sekali. Dan penyebabnya adalah Rico.
"Apa tidak bisa pelan-pelan?" Tanya Ben saat melihat Diana makan bagai orang yang tidak makan selama satu minggu penuh. "Diam lah, kau tahu aku tidak makan dari sore dan lihat lah jam sekarang!" Jawab Diana dengan sengit. Sedangkan Ben hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Sampai kapan gadis ini tidak mengenal dirinya. Apa harus dia menggunakan kekerasan agar Diana sadar bahwa gadis itu dulu nya adalah milik nya.
Sedangkan Diana hanya fokus dengan makannya saja, dia tidak menyadari dengan tatapan yang di berikan oleh Ben untuknya.
Ben sangat mengutuk Rico yang dengan beraninya mengurung Diana di dalam kamar sendirian. Apa pria itu tidak bisa menelponnya sebentar saja agar dapat mengamankan Diana saat itu.
"Hey kau melamun apa?!" Ben terkejut dengan teriakan yang diberikan oleh Diana. Dulu gadis ini tidak sebar-bar ini.
"Apa kau tidak bisa anggun sedikit, kau sangat tidak sopan." Dengus Ben lalu pria itu berjalan ke arah ranjang dan melepas Jas yang sedari tadi ia gunakan. Sedangkan Diana mengerutkan keningnya saat melihat Ben yang bersiap tidur di atas ranjang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Diana dia meninggalkan sisa makanannya di atas meja lalu berjalan ke arah ranjang.
"Tidur, apa ada masalah?" Diana mendengus mendengar jawaban pria itu. Semua oramg juga akan tahu jika dia akan tidur.
"Lalu dimana aku tidur? Tidak mungkinkan kita satu ranjang." Kata Diana sedangkan Ben membaringkan dirinya di atas ranjang apartemen tersebut dengan nyaman.
"Mungkin saja, tapi jika kamu tidak ingin disini kamu bisa tidur di atas sofa itu." Tunjuk Ben dengan sofa tempat Diana makan tadi.
"Dasar gila, mana mungkin seorang Diana fernandes tidur di sana." Diana berjalan menuju jas Ben yang terletak di atas nakas samping Ben.
"Apa yang kau cari?" Diana tidak mengiraukan perkataan Ben, gadis itu terus mencari dimana Ben menyimpan telepon genggam miliknya.
Lalu Diana mendapatkan apa yang ia inginkan, namun handphone tersebut ternyata menggunakan pola yang Diana tidak tahu sama sekali.
"Buka, aku ingin menelpon Rico biar dia yang akan menjemputku disini." Ben menatap telpon tersebut dengan wajah Diana secara bergantian. Sekarang dia sudah duduk di pinggir ranjang.
"Aku tidak mau." Tolak Ben lalu dengan cepat pria itu menarik tangan Diana sehingga gadis tersebut duduk di pangkuan Ben. "Aku selalu menahan ini, tapi untuk malam ini aku tidak bisa lagi." Bisik Ben lalu pria itu mencium bibir Diana dengan rakus. Sedangkan Diana terkejut dengan perlakuan yang diberikan oleh Ben.
Selama ini pria itu tidak pernah sama sekali berani menyapa bahkan menyentuhnya jika tanpa seijin Rico.
"Mmppttt...." Diana mencoba mendorong bahu Ben namun itu hanya sia-sia karena dengan cepat Ben menidurkan Diana di atas ranjang.
"Sial Ben! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Diana saat Ben sudah melepaskan ciumannya. Sedangkan Ben hanya bisa menatap Diana dengan intens lalu jari-jari tangan miliknya mengusap dengan oelan binir Diana yang di baluri oleh saliva keduanya.
"Aku sungguh merindukan dirimu." Rancau Ben dan itu berhasil membuat Diana mengerutkan keningnya. Dia heran bukankah dia dan Ben tidak saling mengenal? Mereka juga kenal karena Ben yang bekerja untuk Rico jadi bagaimana bisa pria itu merindukannya.
"Awas!" Diana mendorong bahu Ben lagi namun, lagi-lagi tenaganya tidak kuat hanya untuk menyingkirkan Ben yang berada di atasnya.
Ben kembali mencium Diana kali ini lebih rakus dan bahkan kedua tangannya tidak segan lagi untuk memasuki baju kaos milik Diana. sedangkan Diana lama kelamaan terbuat dengan apa yang diberikan oleh Ben untuknya.
"Aahhh...Bennnhh..." Desah Diana Ben mengangkat tubuh Diana sebentar guna melepas baju gadis itu setelah baju Diana terlepas ben juga membuka bra berwarna hitam milik Diana.
"Shitt! Kau sangat mempesona Diana." Umpat Ben namun u*****n itu membuat diri Diana bertambah b*******h. Dia melupakan semuanya yang dia inginkan hanya kepuasan untuk malam ini.
Ben ikut melepas kemeja kerja miliknya dan membuat pria itu tidak menggunakan baju lagi. Dan hal itu membuat Diana terpesona.
Ben mulai mencium bibir Diana lalu turun ke leher gadis tersebut bahkan dia tidak segan meninggalkan bekas disana. "Kau bertambah menggairahkan jika ku beri tanda disini." Ben memegang leher Diana yang sudah ia tandai dan hal itu membuat bulu kuduk gadis itu merinding.
Ben turun ke area bukit kembar yang sangat pas di tangannya lalu dia juga memberikan tanda, tidak puas disana Ben juga mencium perut rata milik Diana dan membuat gadis itu menggeliat kegelian.
Tanpa membuang waktu Ben langsung membuka retseleting jeans milik Diana lalu dia menurunkan jean tersebut tidak lupa dengan celana hitam milik Diana.
"Ben ini salah." Kata Diana saat Ben menatap intinya dengan sangat b*******h bahkan tangan pria itu membuka lipatan miliknya.
"Apa yang salah honey, aku tidak ingin mendengar kata-kata itu. Mendesahlah itu yang harus kau lakukan." Kata Ben lalu pria itu mengirup aroma milik Diana dengan mata terpejam rasa yang selama ini dia rindukan, selama hampir tiga tahun.
Tidak tahan Ben langsung melepas celana bahannya dan juga boxer yang ia gunakan sedangkan Diana membelakkan matanya saat melihat apa yang ada di balik boxer tersebut.
"Kau menyukainya hmm, kau tahu dia sangat merindukan diri mu." Kata Ben sambil mengurut miliknya yang sudah sangat menegang sedangkan Diana mengerutkan keningnya heran dengan kata-kata Ben yang membuatnya berpikir, apakah dia dan Ben dulu saling mengenal?
Ben yang tersadar dengan perkataannya langsung saja mencium bibir Diana. Diana tidak ingin membuat gadis itu terlalu berpikir yang keras-keras. Ben menindih Diana dengan satu tangannya sebagai penyangga tubuh berotot yang dia miliki. Sedangkan satu tangan nya membimbing miliknya agar bisa masuk ke lembah yang selama ini dia rindukan.
Ben mengelus milik Diana menggunakan miliknya dan hal itu membuat Diana mendesah dengan mata terpejam.
"Sssthh...ahhh masukkannhh cepathhh.." Desah Diana lalu dengan sekali hentak Ben memasukkan milknya dan membuat Diana terpekik kaget.
Ben langsung memompa miliknya dengan pelan dia tahu gadisnya masih menyesuaikan diri karena dia tahu selama kurang lebih tiga tahun ini Diana tidak pernah b******a selain bersama dirinya.
"fassterss..hmn..akhh." Desah Diana sedangkan Ben menambah kecepatannya dan tidak lupa dia memberikan kecupam-kecupan di wajah dan bibir Diana.
"Ahhh...sssttt." Geram Ben dia langsung mengulum p****g milik Diana yang sudah sangat menegang dengan masih berusaha mencapai kenikmatan di bawah sana.
Sedangkan Diana merasa lega saat pelepasan yang ia nantikan akhirnya keluar juga.
........
Yang masih anak-anak mohon diskip aja ya....
Ini aku gak baca ulang , kalau kalian menemukan typo kalian bisa komen langsung ya