Mantra Kitab Kuno

1009 Kata

Sanjaya bangun terhuyung. Di sandarkannya tangan pada dinding gua untuk menstabilkan posisinya. Tak lupa ia memeriksa terlebih dahulu kondisi sangkar burung emasnya. Setelah dikira tak ada yang fatal terjadi barulah ia mengangkat wajah. Matanya menghunus tajam pada Gendis. Urat-urat di mata memperlihatkan betapa marah lelaki itu. “APA?!” Gendis tak kalah melotot. Siapa suruh membohonginya. Dia sudah cukup muak dengan janji-janji para pertinggi dengan orator-orator imitasinya di televisi. Jadi tak ada wadah lagi untuk menyimpan lelucon penuh kebohongan. Lagi pun kondisi Gendis bukan sebuah komedi. Jadi ia merasa berhak melakukan hal tadi pada lelaki itu. “Aku belum selesai bertutur kata,” ungkap Sanjaya. Tertatih ia berjalan mendekat. “Tapi kau sudah bersikap brutal,” protesnya. Gendis

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN