“Di mana Gendala?” Sanjaya kira, setelah mereka berhasil dan berkumpul di titik temu— seperti yang sudah di sepakati sebelumnya—semua akan baik-baik saja. Namun perkiraannya melesat kala Gendala tidak berada di titik temu. “Kukira ia bersamamu,” Nyimas menjawab. “Sepertinya dia ada masalah, biar kubantu.” Nyimas berbalik badan, hendak mencari Gendala, tapi Sanjaya melarangnya. “Itu terlalu berbahaya. Biar aku saja.” Sanjaya menahan bahu Nyimas. Nyimas melepas tautan tangan Sanjaya. Ia menggelengkan kepala. “Kita sudah sejauh ini melangkah, jangan sampai semuanya berantakan hanya karena kau kembali ke istana. Sebaiknya kau sembuhkan lukamu terlebih dahulu. Kau tahu bagaimana beringasnya mereka menginginkanmu.” Nyimas menunjuk pada beberapa luka di tubuh Sanjaya. Bukan itu yang membu

