Info : Daily Update Pada Bulan September 2021
***
Pagi ini, Yohan dipaksa untuk sarapan bersama dengan papanya. Ada hal yang akan mereka bicarakan. Awalnya, Yohan menolak dan menunda dengan mengatakan : kenapa gak nanti malam aja?
Namun, karena ancaman papanya tentang segala fasilitas yang dimiliki, akan dicabut. Barulah Yohan mau turun dan sarapan bersama dengan papanya.
"Pagi, yohan." Sapa papanya, berusaha terlihat sebagai papa yang sempurna dan selalu melimpahkan kasih sayangnya, kepada putra semata wayangnya.
"Pagi, pa." Jawab Yohan, ekspresinya masih saja datar. Dia memilih duduk berseberanan dengan papanya.
Mereka menikmasi sarapan dalam khidmat sebelum akhirnya bertanya kepada si tunggal.
"Han, menurut kamu Anya itu bagaimana?" Pertanyaan Papa mengenai wanita yang selalu menjadi walinya ketika dipanggil guru BK. Membuat, Yohan mengernyit dengan tatapan memicing tajam.
"Ada apa, kenapa papa bertanya mengenai kak Anya?"
Papa menggeleng pelan, "Tidak ada, hanya minta pendapatmu saja. Bagaimana menurutmu tentang dia?"
Yohan mengendikan bahunya acuh, tidak ada yang special dan menurut Yohan. Anya adalah tipekal wanita cerewet yang hanya akan merecoki hidupnya saja.
Tapi, ketika Papanya tiba-tiba bertanya mengenai seorang perempuan. Bukankah, itu pertanda kalau papanya memiliki ketertarikan dengan, Asistennya sendiri?
Yohan tersedak ketika memikirkan kemungkinan itu. Anya memang wanita dengan cantik yang standar. Tidak terlalu cantik, namun juga tidak jelek.
Apakah, Anya akan menjadi mama Tirinya?
"Papa." Ucap Yohan, memanggil papanya itu dengan suara dingin dan terdengar sangat tidak bersahabat.
"Apa?" Tanya Papanya.
"Papa masih setia sama mama kan, walaupun mama udah gak ada?" Yohan bertanya tenang. Dia ingin tau, apa dugaannya mengenai Anya adalah benar.
"Tanpa kamu tanya, Papa akan menjawab iya." Balas Papanya.
"Lalu, apa papa akan menikahi Kak Anya?"
"Uhuk--" Papa langsung tersedak begitu mendengar ucapan putra tunggalnya. Yang benar saja, Dia sudah sangat tua walau masih terlihat seperti pria bujangan. Namun, dia tidak ada rasa tertarik sama sekali pada asisten yang sudah ia anggap adik sendiri itu.
"Katakan aja, aku tidak masalah selama dia memperlakukanku dengan baik." Ujar Yohan, yang semakin membuat si Papa memijit pelipis karena pusing.
Yohan segera bangkit, dia menyimpulkan sendiri dengan melihat reaksi papanya. Tidak ada yang salah, apalagi sang Papa mungkin butuh seseorang yang akan merawat dia sampai tua nanti.
Hanya saja, Yohan kasihan pada Anya. Dia menikahi pria yang sudah mau mendekati usia lansia. Yohan bahkan tidak yakin kalau dia bisa punya adik secepatnya.
Lagi pula, tampang Anya bukan seperti w************n yang siap menaiki ranjang atasannya demi naik jabatan atau mungkin, jadi nyonya kedua.
"Yohan!" Panggil papanya tegas, ketika Yohan hendak naik keatas, tepatnya menuju kamar.
"Kenapa, pa? Aku sudah menyetujui kalau memang Papa tertarik dengan Kak Anya." Jawab Yohan acuh dan kembali menaiki tangga.
"DENGARKAN PAPA YOHAN!" Papa kembali memanggil dengan suara keras. Namun, Yohan tampak tak peduli.
Papa jengah sendiri, "BUKAN PAPA YANG AKAN MENIKAH DENGAN ANYA, TAPI KAMU!" Teriakan bariton papanya membuat langkah kaki Yohan terhenti dan dirinya terhenyak dari segala pikiran.
"A-apa?"
"Turunlah, Papa akan mengatakan hal penting untukmu." Yohan segera kembali dan akan meminta penjelasan pada papanya, mengenai ucapannya tentang Anya dan Dirinya yang akan menikah.
Yohan kembali duduk ditempatnya semula, lalu menatap tak suka kearah papanya.
"Dengarkan baik-baik, papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Papa mau kamu ada yang merawat, karena papa tidak mungkin menikah lagi. Papa terlalu setia pada mamamu. Jadi, Papa memilih langkah ini."
Mendengar ucapan papanya, Yohan menyisir rambutnya yang hampir gondrong, membawanya kebelakang agar pandangannya tidak terhalang anak-anak rambut.
"Maksud papa, aku akan menikah dengan Kak Anya. Dengan alasan, ini semua demi kebaikanku?" Papa mengangguk.
"Anya adalah wanita yang baik. Dia bahkan mampu mengurusmu ketika kamu sakit. Kamu tidak ingat?"
Yohan mengangguk acuh, dia memang tidak memungkiri. Bagaimana, wanita itu lumayan berjasa kepadanya.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu akan menolak tawaran papa, menikah dengan Anya." Yohan tampak berpikir.
Tapi, bagaimana Papanya bisa menyimpulkan secepat ini? Kalau Yohan bisa tebak, Anya pasti tidak menyetujui pernikahan ini.
"Baik, Kalau Kak Anya memang setuju, aku gak masalah." Jawabnya dengan tatapan datar seperti biasanya.
Papa tersenyum penuh kemenangan, "Bagus, kalian berdua bisa menikah minggu ini. Papa akan minta tolong, Sonia yang menyiapkan segala t***k bengek pernikahan."
Ucapan Papanya sontak membuat remaja yang akan menginjak usia 20 tahum itu berjengit. "B-bagaimana bisa papa memutuskan hal ini dengan cepat? Papa sudah bertanya pada Kak Anya?" Yohan tidak menyangka, Papanya bisa cepat menyimpulkan masalah itu.
"Anya mengatakan, kalau kamu memang tidak keberatan dan menerimannya. Maka, Anya setuju."
Sial! Yohan salah langkah rupanya.
###
Drrt... Drrt...
Anya yang lagi bobok manja karena menikmati hari libur, harus terusik karena ada panggilan masuk kedalam ponsel pintarnya.
Dengan mata yang masih terpejam. Tangan Anya bergerak kesana-kemari diatas nakas. Mencari benda persegi panjang yang berhasil mengganggu tidurnya.
Anya mengucek pelan matanya, ketika merasa ada sesuatu yang lengket menempel disudut mata, yang diketahui sebagai t*i mata.
Ketika Anya berhasil meraih ponsel tersebut, Anya segera menekan tombol berwarna hijau, tanpa melihat siapa yang pagi ini mengusik tidurnya yang indah.
"Halo." Suara Anya yang serak khas bangun tidur, lebih dulu terdengar.
"Anya, kamu bisa mendengar suara saya dengan jelas kan?" Anya segera membuka kelopak matanya dan terkejut bukan main, mendengar suara pak Jeremy diseberang sana.
"I-iya."
"Baguslah, Kalah begitu bisa kamu datang kekediaman saya sekarang? Yohan sudah menunggumu untuk pergi ke butik."
"Ah maaf, Seharusnya Yohan yang kesana dan menjemputmu." Ralat si pak bos.
Hal itu malah membuat Anya bertanya-tanya. Kenapa pagi ini ada telepon dari Pak Bos dan mengatakan kalau Yohan akan kemari?
"M-maaf sebelumnya pak, kenapa Yohan harus kesini?" Tanya Anya dengan raut wajah bingungnya.
Terdengar kekehan diseberang sana, jantung Anya sudah cenat-cenut menanti ucapan selanjutnya yang mungkin, bisa mengkonfirmasi dengan segera. Untuk apa Yohan menjemputnya dipagi hari ini?
"Kamu tidak ingat, Anya?" Pak Bos malah balik bertanya. Sepertinya, mengerjai Anya dipagi yang indah ini bukan sebuah dosa atau kesalahan. Bagaimana dengan pemanasan terlebih dahulu?
"Yohan sudah setuju." Ucap Pak boss dengan suara yang tenang.
"Setuju...?"
Hening...
Anya masih mencerna dengan teliti apa yang berusaha Pak Jeremy ucapkan kepadanya. Dia masih belum connect karena baru bangun tidur.
"Maaf pak, setuju untuk?"
Anya menanti dengan harap-harap cemas. Semoga jawabannya tidak mengejutkan Anya di pagi hari yang cerah ini.
Dan yah... dugaan Anya sepertinya salah besar.
"Yohan sudah setuju untuk menikah denganmu."