Bukan Mimpi

1012 Kata
“Sayang, besok aku pergi ke KL sama temen-temenku ya.” Gerakan tangan Adrian yang masih sibuk megancingkan kemejanya tiba-tiba terhenti. Dia lalu menoleh ke arah Muezza yang masih bergelung di bawah selimut sambil tersenyum manis kepadanya. Ah, istrinya ini memang menawan. Bahkan saat bangun tidur dia masih terlihat sangat cantik. “Kamu nanya atau ngasih tahu?” tanya Adrian perlahan. Muezza lalu bangun dari posisinya dan mulai merapikan tempat tidur mereka. “Udah book tiket dan hotel di sana.” jawabnya perlahan. Lagi dan lagi lelaki ini harus menghela nafas dalam demi menahan agar emosinya tak meluap. Akhir pekan adalah waktu untuk beristrirahat dan berkumpul bersama keluarga. Dan untuk kesekian kalinya Muezza lebih memilih menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-temannya. “Rama gimana?”  “Aku cuma dua hari kok. Kan bisa sama Mba Erni, atau nanti aku titipin di rumah mamah.” sahut Muezza cuek. “Nggak usah ke rumah mamah. Biar di sini aja sama Mba Erni, jadi aku masih bisa habiskan waktu sama Rama kalo udah selesai dari urusan kerjaan.” Muezza mengangguk setuju, “Boleh... Kamu akhir-akhir ini sibuk banget sampe jarang ketemu anak sendiri.”  Apa Adrian tidak salah dengar? Bukannya wanita ini juga sibuk sehingga lebih sering menitipkan anak mereka pada pengasuhnya karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah?  “Aku berangkat ya, Za…” pamit Adrian sambil berjalan keluar dari kamarnya. Dia berhenti sejenak ke kamar Rama untuk melihat putranya yang masih tidur, lalu mengecup pipi gembul putranya itu. “Ayah kerja dulu ya, Sayang....”  Kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Rama, menuju ke halaman dimana mobilnya sudah siap. Sebelum memasuki mobilnya, dihirupnya udara pagi yang segar. Jam yang melingkar di tangannya masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Karena hari ini dia harus mengunjungi salah seorang rekan bisnisnya yang berlokasi di luar kota dan memakan waktu lebih kurang tiga jam perjalanan, dia harus berangkat sepagi ini.  “Pak Bowo, kita nanti sarapan di jalan aja ya, mampir rumah makan yang biasa.” “Baik, Pak.” Mobil pun melaju membelah jalan raya yang masih cukup sepi meskipun hari sudah cukup terang. Di tepi jalan terlihat beberapa orang yang berolahraga pagi, bersepeda dan jogging. Udara pagi ini terasa segar dan menyejukkan karena tadi malam turun hujan, sehingga hawa-hawa dingin masih cukup terasa. Pak Bowo menepikan mobilnya ke halaman parkir sebuah rumah makan yang memang sudah buka sejak pagi dan banyak sekali orang yang sarapan disini. Adrian dan Pak Bowo lalu memesan makanan untuk mereka berdua dan duduk di kursi kosong yang terletak di pojok. Mereka menghirup teh hangat sambil menunggu pesanan mereka siap. Adrian terlihat menyibukkan diri dengan ponselnya, membaca berita di platform online. Namun hanya sejenak, karena ekor matanya menangkap sosok yang dikenalnya memasuki rumah makan ini. “Naira…” seru Adrian tanpa sadar, dan itu didengar oleh pemilik nama yang kemudian menoleh ke arah Adrian. Naira tersenyum lalu melangkah mendekat. “Mas Rian… Udah rapi, mau berangkat kerja ya? Pagi banget.” sapa Naira hangat. Adrian mengangguk sambil tersenyum sumringah, “Iya, kamu mau sarapan juga? Gabung sini aja.” “Boleh… Lagian tempat lain nggak ada yang kosong.” jawab naira sambil menarik kursi untuk duduk di depan Adrian dan Pak Bowo. “Pak Bowo, ini teman saya.” Adrian menjelaskan pada Pak Bowo. “Nai, ini Pak Bowo.” Naira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah pada Pak Bowo. “Saya Naira, Pak.”  “Saya Bowo, Mbak.” balas Pak Bowo sopan. Merekapun menunggu pesanan sembari mengobrol. Adrian tidak menyangka akan bertemu Naira hari ini, saat kemarin dia merasa kesal karena gadis ini tidak mau memberikan nomor ponselnya. Nyatanya, hari ini mereka bertemu lagi. Mungkinkah semua ini sudah ditakdirkan untuknya? Adrian menggeleng perlahan membuang segala pemikirannya, lalu membuang pandangannya ke arah lain, mengamati banyaknya orang yang datang untuk sarapan di tempat itu. Saat pesanan mereka datang, merekapun sarapan sembari mengobrol seperti teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama. Selalu saja ada topik yang bisa dibahas tanpa menciptakan rasa canggung meskipun ada Pak Bowo di antara mereka. “Kamu jam berapa masuk kerja?” tanya Adrian. “Hari ini saya libur, soalnya minggu kemaren full nggak ada libur karena gantiin shift nya temen saya yang lagi sibuk ngurusin pernikahannya.” Adrian mengangguk paham.  Tiba-tiba ponsel Adrian berdering, dari sekretarisnya. “Ya, Halo?” “Pak, meeting sama pimpinan PT. Green Kahayan hari ini dibatalkan karena beliau ada halangan mendadak.”  “Oh ya? Kenapa?” “Mertuanya kecelakaan di luar kota dan meninggal di tempat.” Adrian terdiam lalu memejamkan matanya karena terkejut. Setelah menghela nafas beberapa saat, dia berkata, “Kirim ucapan belasungkawa dan rangkaian bunga, ya…” “Baik, Pak…” Naira yang melihat perubahan pada raut wajah Adrian lalu mengerutkan keningnya. Namun dia hanya diam karena merasa ini bukan haknya untuk bertanya ada masalah apa. Naira berpura-pura sibuk merapikan tasnya dan bersiap untuk pulang, karena dia sudah selesai menghabiskan makanannya. “Loh, udah mau pergi?” seru Adrian ketika melihat Naira sibuk merapikan barang-barangnya. “Iya, Mas. Kelamaan kasian yang antri pada mau sarapan juga.” jawab Naira ketika melihat cukup banyak orang yang baru datang memasuki rumah makan ini. Naira lalu beranjak menuju meja kasir untuk membayar. Namun dia tidak sadar langkahnya diikuti oleh Adrian di belakangnya. “Berapa, Bu…?” tanya Naira sambil mengeluarkan dompetnya. “Sekalian punya saya, Bu.” seru Adrian, lalu menoleh ke arah Naira, “Saya yang bayar ya. Sebagai ucapan terima kasih karena udah nemenin saya sarapan.” Naira menganggukkan kepalanya pelan, lalu tersenyum tanpa bisa menolak. “Makasih, traktirannya ya, Mas. Sering-sering aja deh, biar saya bisa hemat.” Naira terkekeh geli dengan ucapannya sendiri yang terkesan tak tahu diri.Dia lalu memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas. “Boleh. Tiap hari juga saya mau, ditemenin sarapan, makan siang dan makan malam sama kamu.” Deg… Naira langsung terdiam saat mendengar ucapan Adrian barusan. “Eh.. Itu... Saya becanda kok…” jawab Naira gugup. “Tapi saya serius.” Kali ini Naira benar-benar kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa tersenyum canggung dan memilih berpamitan, lalu segera pergi dari hadapan lelaki itu.  Setelah Naira pergi, Adrian pun beranjak masuk ke mobil yang melaju membawanya ke kantor karena dia batal keluar kota. Sepanjang perjalanan, Adrian terdiam memikirkan pertemuannya dengan Naira tadi. “Aku pikir kamu hanya mimpi indah, bunga tidur saat aku lelah dengan semua kesibukanku. Yang datang memberikan penghiburan saat semua hal terasa melelahkan dan membuat aku ingin berhenti. Tapi ternyata kamu nyata adanya. Aku harus bagaimana.” bisik batin Adrian. 20 Nov 2020 12.14 WIB
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN