Pertanyaan

1144 Kata
“Saya pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telpon saya.”  Sedikit tidak rela, namun dia harus memaksa dirinya untuk pulang, karena hari sudah beranjak senja. Adrian sudah seharian ini menemani Naira yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur dan bergelung di balik selimut tebalnya. “Mas tenang aja, nanti malam ada Amita yang kesini. Dia mau nginap, nemenin saya di sini.” Dahi Adrian berkerut sejenak, “Amita? Siapa?” “Temen saya di kafe.” jawab Naira sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kini dia berdiri dan berjalan mengiringi kepergian Adrian yang beranjak untuk pulang. Ketika kaki Adrian melangkah melewati pintu depan rumahnya, tangan Naira terulur menahan lengan Adrian. Membuat lelaki itu menoleh dan menghentikan langkahnya. Hening seketika ketika Adrian dan Naira sama-sama terdiam. Adrian masih menunggu Naira yang terlihat ingin berbicara. “Makasih ya Mas Rian sudah nemenin saya seharian ini. Sampe nggak masuk kerja karena nungguin saya.” Adrian tersenyum sembari mengelus punggung tangan Naira yang masih betah berada di lengannya. “Cepat sembuh ya. Saya nggak mau lihat kamu sakit lagi.” Naira hanya mampu mengangguk, kedua matanya sudah berkaca-kaca. Entah kenapa perasaannya menjadi selemah ini. Dia terharu dengan perhatian yang diberikan oleh lelaki ini. Adrian yang melihat kedua bola mata indah milik Naira sudah hampir menumpahkan air matanya, serta merta menarik tubuh Naira ke dalam dekapannya.  Hangat. Nyaman. Namun mendebarkan. Hanya itu yang mampu dirasakan oleh Naira saat ini, saat dirinya berada di dalam pelukan Adrian.  “Kenapa malah nangis sih?” tanya Adrian lembut, sebelah tangannya bergerak mengusap kepala Naira perlahan. Naira menggelengkan kepalanya di dalam dekapan Adrian. Kedua tangannya masih tergantung di kedua sisi tubuhnya. Bingung apakah harus membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Adrian, atau tetap membiarkannya seperti ini saja. Belum sempat Naira memutuskan apa yang akan dilakukannya, Adrian sudah terlebih dahulu mengurai pelukannya untuk berpamitan lagi. “Jangan lupa minum obatnya. Kalo sampe besok masih demam, ke dokter ya.” pesan Adrian. “Iya… Hati-hati di jalan ya, Mas Rian.” Ketika Adrian sudah memasuki mobilnya, dan perlahan menghilang dari pandangannya, Naira beranjak masuk ke rumah. Tubuhnya masih merasa dingin, padahal saat diukur menggunakan termometer, suhu tubuhnya cukup tinggi. Inilah akibatnya karena kemarin dia kelelahan bekerja dan sempat sedikit kehujanan. Naira tersenyum senang, karena menyadari satu hal. Sejak tak lagi tinggal dengan orang tuanya, biasanya saat sakit seperti ini Naira hanya sendirian. Merebahkan diri di depan televisi dan menyantap semangkuk mi instan jika rasa lapar datang menghampiri. Namun hari ini berbeda karena ada Adrian yang menemaninya seharian ini. Mengingatkannya untuk makan, minum obat, dan menungguinya tidur. Hal itu terasa manis bagi gadis seperti Naira. --- Adrian tidak langsung mengarahkan mobilnya menuju ke rumah, melainkan ke salah satu toko milik temannya. Dia sudah memesan sesuatu untuk Muezza. Hadiah anniversary seperti yang dijanjikannya pada Muezza beberapa waktu lalu. Meskipun sedikit terlambat, namun tetap tidak mengurangi niatnya untuk memberikan hadiah itu pada istrinya. Dan ketika dia tiba di rumah, Rama menyambutnya dengan riang. “Ayah…” teriaknya sambil berlari ke arah Adrian yang terlihat sedikit kerepotan membawa sebuah box berukuran besar. “Ayah bawa apa?” tanya Rama bingung melihat kotak besar itu. Belum sempat Adrian menjawab, Muezza datang mendekatinya. Muezza pun tak kalah bingung melihat benda yang dibawa oleh suaminya. Sebenarnya Muezza ingin langsung menanyakan perihal kepergian Adrian selama seharian ini. Namun dia urung menanyakannya, karena ada Rama di dekat mereka. Muezza tidak siap jika nanti ternyata Adrian berbohong, atau justru marah pada Muezza sehingga dia tidak bisa mengontrol emosi dan membuat keributan di depan putranya yang masih kecil. “Buat kamu, Za. Maaf telat ya, kado anniversary nya.” bisik Adrian sambil memeluk Muezza singkat. Kedua sudut bibir Muezza tertarik membentuk senyuman yang indah, “Wah… Apa ini, Sayang?” ujarnya senang. “Buka aja.” Muezza merobek kertas pembungkus kotak besar itu, ditemani Rama yang juga terlihat antusias. Dan ketika semua kertas pembungkus sudah berhasil disingkirkan, Muezza membuka kotak itu. Sebuah sepeda lipat berwarna tosca. Sepeda Brompton. Beberapa waktu lalu Muezza memang sempat bercerita pada Adrian bahwa dia ingin membeli sepeda untuk berolahraga. Karena saat ini, kegiatan bersepeda pada pagi atau sore hari sedang marak dilakukan oleh sebagian orang. Ada yang bersepeda seorang diri, berdua dengan pasangannya, atau berkelompok. Terkadang mereka mengenakan kostum yang sama, dan menentukan rute yang cukup jauh untuk mereka tempuh. Tetapi tidak jarang pula sekelompok anak muda atau ibu muda yang bersepeda untuk sekedar mengikuti trend. Dengan kostum yang cantik, kacamata hitam dan polesan make up agar terlihat fresh saat mereka mengambil gambar untuk di upload di media sosial nanti.  Apapun tujuan mereka, yang pasti manfaat yang dapat diambil dari kegiatan mereka salah satunya adalah tubuh yang sehat. “Cantik banget warnanya. Aku suka. Makasih ya, Sayang.” ucap Muezza senang. Tiba-tiba Rama menjerit keras, “Huaaaa…”  Air mata dengan deras mengalir di kedua pipinya. Membuat Adrian dan Muezza sedikit terkejut dengan tingkah putra mereka. “Rama kenapa nangis?” tanya Adrian. “Sepeda… Lama mau sepeda, Yah… Nda… Sepeda...” ucapnya sambil menahan isak tangisnya. Muezza memeluk Rama untuk menenangkannya.  “Rama masih kecil, belum bisa naik sepeda. Nanti naik sepeda sama bunda aja, ya…” rayu Muezza sambil mengelus punggung Rama dengan lembut. Namun Rama menggeleng tidak setuju. Sepertinya dia ingin memiliki sepedanya sendiri. Tangisannya membuat Adrian menyerah dan berjanji untuk membelikannya sepeda juga. “Besok kita beli sepeda buat Rama, ya…” Seketika saja tangisan Rama berhenti, berganti dengan senyuman lebar dan tepuk tangan. Kepalanya mengangguk-angguk setuju dengan janji ayahnya. Adrian dan Muezza sudah beranjak menuju ke kamar mereka, karena waktu sudah cukup larut malam. Adrian merebahkan tubuhnya di kasur, sementara tangannya terlihat memainkan ponselnya sejenak. Lalu meletakkannya di nakas. Muezza yang masih sibuk dengan ritual sebelum tidurnya, sempat melirik sejenak melalui kaca rias di depannya. Memperhatikan wajah suaminya. Kedua tangan Muezza sibuk membersihkan wajahnya dengan kapas dan cairan pembersih. Setelah itu memakai toner, krim dan serum secara bergiliran di wajahnya yang terlihat mulus, kenyal dan sehat. Memang, jika ingin terlihat cantik kita harus rajin merawat diri, bukan?  Setelah ritual malamnya selesai, Muezza beranjak dari depan meja rias menuju ke tempat tidur.  “Sayang, aku mau tanya.” ujar Muezza berusaha santai, meskipun tubuhnya sedikit bergetar karena gugup. Tangannya terlihat sibuk melepaskan jubah yang menutupi gaun tidurnya, hingga menyisakan gaun tidur bertali kecil di kedua bahunya. Gaun itu berbahan satin yang lembut dan sangat pas di tubuhnya. Dia menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Sembari berbaring menghadap ke arah suaminya. “Tanya apa, Za?” Hening sejenak. Sepertinya Muezza ragu untuk menanyakan apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi siang. Namun tak lama kemudian, terlontar juga pertanyaan itu. “Hari ini kamu nggak ke kantor ya? Kemana?” Berteman denganku di sosmed yuk. F B : Sweet July I n s t a g r a m : sweetjuly.me 4 Januari 2021 22.26 WIB
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN