Makan Siang

1175 Kata
“Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Adrian sembari melepas seatbelt - nya dan beranjak keluar dari mobil. Naira cukup terkejut melihat Adrian yang ikut turun dari mobil. Karena tadi dia merasa tidak berbasa-basi menawari Adrian untuk mampir. Namun lelaki itu dengan cueknya turun dari mobil dan kini berjalan memasuki halaman rumah kontrakan Naira. Dan kini terlihat sedang mengamati berbagai jenis tanaman yang sangat rapi dan terawat itu. Meskipun halaman itu tidak luas, namun karena Naira gadis yang rajin dia mampu menyulap lahan sempit itu menjadi asri. “Naira… Kamu dari tadi kebanyakan melamun.” Adrian menepuk pundaknya karena Naira tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi. Sentuhan tangan hangat Adrian di pundak Naira membuatnya seketika tergagap, “Ng...gak… Saya nggak ngelamun kok. Itu.. Saya tinggal sendirian.” jawab Naira terbata-bata.  Pundaknya masih bisa merasakan hangatnya tangan besar milik Adrian. Naira kini merasakan keanehan pada dirinya sendiri. Rasa yang hangat, nyaman sekaligus mendebarkan. Hampir saja Naira menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman, namun dia sadar dan segera menetralkan raut wajahnya.  Adrian menoleh bingung, “Orang tua kamu dimana?” “Engh… Di luar kota.” jawab Naira singkat. Dia lalu mengajak Adrian masuk untuk menghindari pertanyaan selanjutnya. Sungguh, Naira sedang tidak ingin membahas tentang kedua orang tuanya. Dia masih belum siap untuk berbagi cerita mengendai keadaan orang tuanya. Tidak sekarang, dan tidak pada Adrian, lelaki yang baru dikenalnya. Biarlah sementara ini cukup Naira yang mengetahuinya. Karena Naira sendiri tidak ingin menerima penolakan lagi jika ada orang yang tahu kondisi kedua orangtuanya..Seperti yang dilakukan mantan kekasihnya dulu, yang memilih untuk pergi sejak tahu status kedua orang tua Naira adalah tahanan kasus pengedaran obat-obat terlarang. “Kamu masak apa Nai?” tanya Adrian seolah berbasa-basi, padahal sebenarnya dia sedikit berharap ditawari makan siang oleh Naira, agar dia ada alasan untuk bisa berlama-lama di sini. Menghabiskan waktu lebih lama untuk mengenal gadis manis ini.  “Sayur bening, sama ayam goreng. Menu sederhana aja, Mas. Yang makan juga cuma saya sendiri, jadi nggak pengen yang repot-repot.” “Saya mau kok, temenin kamu makan.” tanpa tahu malu Adrian menawarkan dirinya, karena Naira ternyata tak menunjukkan tanda-tanda untuk mengajaknya makan siang bersama. “Mas Rian mau makan siang di sini?” tawar Naira akhirnya. Tawaran itu disambut dengan anggukan bersemangat dari Adrian, membuat Naira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.  “Ya udah, saya siapin dulu. Mas Rian kalo mau nunggu sambil nonton tv, silahkan.” Naira menghidupkan televisi kecil di ruang tamunya. Sambil beranjak menuju ruang makan, Naira menyerahkan remote televisi pada Adrian yang langsung dengan santai duduk bersandar di kursi ruang tamu. Tak perlu waktu lama bagi Naira untuk menyiapkan makan siang mereka. Karena memang tadi pagi dia sudah memasak semuanya. Kini di atas meja makan sudah siap semangkuk sayur bening yang berisi bayam, jagung dan labu, beberapa potong ayam dan tempe goreng, serta sambal mangga muda yang aromanya saja sungguh menggugah selera. Membuat Naira sendiri meneguk air liurnya yang tiba-tiba terasa encer saat melihat bagaimana sambal mangga di cobek kecil itu seolah memanggil-manggil dirinya. Naira memanggil Adrian dan kini mereka berdua sudah duduk berhadapan di meja makan. Naira menyendokkan nasi ke piring, lalu mengisinya dengan sayur, ayam dan tempe goreng. Lalu dia menyerahkannya pada Adrian. Kemudian dia mengisi piringnya sendiri dan mulai menikmati menu sederhana itu dengan lahapnya. “Masakan kamu enak, Nai. Rasanya udah lama saya nggak makan makanan rumahan kayak gini. Nikmat sekali.” puji Adrian dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.. “Memangnya di rumah nggak ada yang masakin?” tanya Naira, kali ini dia menyodorkan sepotong ayam goreng lagi ke piring milik Adrian, karena entah kapan potongan ayam goreng yang pertama tadi sudah lenyap tak bersisa.. “Ada. ART saya masak sih, tapi saya aja yang sibuk, jadi jarang makan di rumah. Boleh tambah?” tanya Adrian tanpa sungkan. Naira mengangguk dan mengambil piring Adrian kemudian mengisinya lagi dengan nasi, sayur dan lauknya. Senang rasanya masakannya yang terlalu biasa ini dimakan dengan lahap. Setelah makan, mereka berdua kini duduk di ruang tamu sambil menonton tv yang menayangkan acara talkshow. Tidak ada tanda-tanda Adrian akan pulang. Naira sendiri sungkan jika harus meminta Adrian untuk pulang, tidak enak jika nanti Adrian justru mengira dirinya mengusir tamu. Jadi, saat ini mereka berdua hanya menikmati waktu dengan menonton tv sembari mengobrol santai.  “Minum, Mas…” ucap Naira yang baru saja membuat teh hangat untuk mereka berdua. Adrian tertegun sejenak. Berusaha mengingat kapan terakhir kali dia menikmati waktu seperti ini. Makan siang bersama, menonton tv bersama dan dibuatkan minum. Adrian merasa dilayani dengan baik oleh gadis ini. Padahal semua yang dilakukan Naira bukanlah hal istimewa. Dia hanya berusaha menjamu tamunya dengan baik, itu saja. Naira tidak ingin terlalu percaya diri meskipun dia merasa Adrian menyukainya, hanya saja Naira berusaha mengendalikan perasaannya. Ya, Naira tahu lelaki ini sedang mendekatinya “Makasih ya, Naira. Saya senang hari ini.” ucap Adrian bersungguh-sungguh. Wajahnya terlihat berbinar indah yang membuat ketampanannya semakin meningkat. Ketika hari beranjak sore, matahari sudah mulai terbenam dan langit yang cerah kini mulai gelap, Adrian berpamitan pulang. Senyum puas tercetak jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, kali ini dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Naira. Dia beralasan agar mudah menghubunginya besok pagi saat harus mengantar Naira bekerja, karena motor gadis itu tadi ditinggal di area parkir bandara. Satu hal yang Adrian lupakan saat itu adalah Rama. Bukankah tadi pagi dia berjanji akan menemani putranya itu menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Namun yang terjadi Adrian malah melupakan hal penting itu. Segera saja dia melajukan mobilnya dan pulang, untuk menemani Rama. Sesekali dia melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya di sebelah kiri. Dan ketika lampu lalu lintas di depannya sudah berubah menjadi hijau, Adrian mengemudikan mobilnya dengan cepat. Dia tidak ingin ketika dirinya tiba nanti Rama sudah tidur. Namun harapan tinggal harapan, dan janji itu kembali terlewatkan. Ketika Adrian tiba di rumahnya, langkah kakinya bergegas ke kamar putranya. Dan didapatinya Rama sedang tertidur pulas. “Maafin Ayah, ya Sayang. Ayah lupa sudah janji sama diri ayah sendiri buat nemenin kamu main hari ini. Lain kali, kita main sama-sama ya, jagoannya Ayah,” bisik Adrian sambil mengelus kepala putranya dengan lembut. Tidak lupa dia memberikan kecupan di kedua pipi gembul milik Rama. Kemudian dia beranjak menuju ke kamarnya sendiri, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.  Adrian menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya. Namun dia tidak bisa berbicara banyak, karena disana Muezza masih menghabiskan waktu bersama teman-temannya untuk berbelanja sehingga panggilan telepon itu bertahan tidak lebih dari dua menit saja. Membuat Adrian kemudian memilih untuk merebahkan dirinya di Kasur dan beristirahat sejenak. Sementara Naira, masih terpaku di teras depan rumahnya, menatap jalan yang kini sepi. Menatap tanpa kedip pada halaman tempat Adrian tadi memarkirkan mobilnya. Kini, tanpa sadar Naira tersenyum malu. Pipinya merona karena membayangkan lelaki itu.  ‘Apa aku udah nggak waras ya? Masa cuma terbayang wajah dia aja, aku jadi senyum mulu.’ monolog Naira dalam hati, sembari melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah.   26 Desember 2020, 20.36 WIB i n s t a g r a m : sweetjuly.me
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN