Kupikir mereka akan memberiku kamar terpisah dengan Jayden, tapi ternyata tidak. Mereka menempatkanku dalam satu ruangan yang sama dengannya, kamar milik Jayden. Jayden terlihat begitu santai dan seperti tidak peduli jika aku berada di dalam kamarnya. Dia sedang tidur terlentang dengan kedua tangan di bawah kepalanya dan menatap kearah langit-langit kamar. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dia pikirkan atau dia rasakan saat ini karena dia masih tidak bisa untuk diajak berbicara. “Apa kau baik-baik saja Jayden? masih merasa sedih?” aku duduk di ujung tempat tidur, sedikit jauh dari Jayden. Memang sedikit tidak nyaman karena aku tidak pernah berada dalam satu ruangan yang sama dengannya meskipun kami pernah saling menginap di apartemen masing-masing. “Situasi menjadi semakin tidak terken

