Kepalaku terasa berat ketika aku mendengar semacam perdebatan antara dua suara berat, dua orang laki-laki tengah berdebat tak jauh dari posisi aku berada, tak begitu jelas apa yang mereka perdebatkan sebab pendengaran serta penglihatanku masih kabur.
Aku mencoba mengerahkan semua tenaga yang ada untuk mengembalikan kesadaran.
Hal pertama yang kulihat hanya warna putih, semakin lama semakin jelas bahwa aku tengah terlentang memandang plafon. Aku melirik kearah tubuhku sambil bernafas sangat lega, pakaian masih lengkap, tak kurang barang sehelai benangpun ketika aku menyingkirkan selimut dan mencoba duduk.
Dua orang yang berdebat tadi menoleh padaku, mataku melebar ketika mengetahui dengan jelas siapa mereka, Kyoji Hime bersama Paman Arata Hime.
Paman Arata? Kali ini nyata, bukan lagi ilusi.
Bagai kilat aku langsung turun dari tempat tidur, berusaha secepat mungkin mencapainya, takut jika dia menghilang namun yang terjadi aku malah terjerembab dilantai beralaskan bulu-bulu sintetis yang lembut.
Aku menggaduh ketika kedua laki-laki itu mencapaiku dan membantu berdiri. Air mataku terjun bebas cepat dan deras, bukan sebab aku kesakitan, hanya karena rasa sesak di dadaku yang tiba-tiba melimpah tak terbendung lagi.
Rasa bersalahku terhadap mereka terhadap mereka teramat dalam dan sudah menghantui setiap langkahku. "Maaf" isakku parau "Maafkan aku, Paman" ingin kukatakan banyak hal, tapi yang keluar dari mulutku hanya isakkan "Karenaku, kalian..."
Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku ketika paman Arata membawaku kedalam sebuah pelukan hangat dan penuh kasih sayang. Pelukan yang telah lama kurindukan, ia bahkan mencium puncak kepalaku dan mengelus-elus punggungku "Tidak sayang, Bukan salahmu. Sungguh bukan salahmu" katanya mencoba menangkan tapi terdengar sedikit parau.
Kata-kata yang masuk ke telingaku membuat rasa bersalah makin tumbuh berkembang dengan subur. Kubenamkan wajahku pada d**a Paman Arata yang bidang, rasanya begitu nyaman dan aman.
Aku merindukan sentuhan seorang ayah, dan pamanku yang sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri, bahkan dia lebih menyayangiku lebih dari ayahku sendiri, hingga kekacau-balauan memisahkanku dari Paman Arata.
"Kau harus pulang, Baby Kay. Semua orang mencarimu. Jika mereka tahu kau ada disini itu tak baik bagimu. Kau seharusnya berada di tempat yang lebih baik, sayang, bukan di tempat laknat ini" Bujuk Paman Arata.
Aku melonggarkan pelukan yang tak ingin kulepaskan barang sedetikpun, memandang wajah paman Arata yang makin menua, bahkan lebih tua dari yang seharusnya. Tulang pipinya yang tinggi makin menonjol, kantung matanya makin besar dan rambutnya hampir memutih keseluruhan. Kehidupannya yang sekarang pasti sangat sulit dan berat.
Paman menatapku iba, mengelus pipiku dan menghapus jejak air matak yang belum kering.
"Izinkan aku bersamamu, Paman. Hanya sampai aku di wisuda, kumohon" Kataku memohon. Aku benar-benar tidak ingin pulang ke rumah, menghadapi ibuku dan menghadapi kenyataan kejam yang harus ku terima.
Paman Arata menatapku lebih lama, lalu memandang sebentar ke arah putra semata wayangnya yang hanya berdiri diam membiarkan kami melepas kerinduan, dan paman kembali menatapku sekali lagi tak selama tadi.
"Oh Baby Kay. Kau tahu betapa aku menyayangimu dan betapa tak berdayanya orang tua ini menolak permintaanmu. Tapi tempat ini j*****m sayang, busuk dan penuh kotoran" Kata Paman Arata masih mencoba membujukku.
"Aku tahu Paman" Kataku meyakinkan.
Kyoji tersenyum hangat padaku, lalu menarik tanganku ke atas dan menciumnya "Aku merindukanmu, Baby Kay. Lebih besar dari yang kau tahu" ungkapnya tanpa kebohongan sedikitpun di matanya yang berwarna gelap, lalu ia menautkan jarinya kepada jariku dan meletakkannya di pangkuannya.
Senyum hangatnya begitu menyihir minta dibalas. Akupun juga merindukan Kyoji lebih dari siapapun. Ingin juga kuutarankan padanya dengan kesungguhan, tapi bibirku kelu untuk membalas ucapannya.
Paman Arata mengizinkanku untuk tinggal, hanya jika aku mau belajar seluk-beluk bisnis HIME Enterprise dari yang legal hingga ilegal, dari yang baik hingga paling buruk dan juga dengan syarat aku tidak boleh keluar dari ruangan yang memisahkan diri dengan dunia laknat di lantai bawahnya.
Dan berakhir bersama Kyoji Hime di bioskop mininya, memandang layar besar. Sebelah tangannya memegang semacam remote dan tangan yang lain masih menggenggam tanganku.
Dilayar besar itu di tayangkan sejumlah foto, video, hingga CCTV dari ratusan tempat. Kebanyakan tempat yang sama dengan yang kulewati kemarin, tempat temaram dan dijelajahi perempuan berbaju minim berkelas.
"Semua gadis-gadis yang kau lihat kemarin, mereka melakukannya atas kemauan sendiri dan direkrut dengan proses audisi" Jelasnnya.
Keningku langsung berkerut samar "Audisi? Maksudmu seperti berlenggak-lenggok sambil menanggalkan pakaian mereka?" tanyaku mengutarakan isi kepala, aku dan Kyoji telah kembali seperti dulu, percakapan bebas tanpa segan mengatakan apapun, hal lain yang juga kurindukan.
Kyoji memandangku sebentar sambil menilai-nilai "Ya" jawabnya singkat. Lalu kembali menekan remote untuk menganti tampilan di layar, sejumlah contoh formulir yang gadis-gadis calon p*****r isi, serta foto-foto diri mereka yang cantik dan menggoda.
"Tunggu, berhenti di sana" kataku pada sebuah foto gadis bernama Mikasa Kito, gadis itu sangat mirip dengan sahabatnya Yui Kito. Apakah mereka bersaudara?
"Ada apa?" tanya Kyoji heran. Tapi ia lebih nampak terkejut karena foto itu, ekspresi langsung berubah mengeras, matanya menerawang sekejap.
Apa foto gadis bernama Mikasa berpengaruh juga terhadap Kyoji, sama dengan pengaruhnya terhadap perasaanku?
"Bukan apa-apa. Gadis itu nampaknya sangat polos, wajahnya bagai malaikat, tapi mengapa ia berbelok untuk jadi wanita penghibur? Lalu audisi, Kau yang melakukannya, Kyoji?" Tanyaku mencoba menyembunyikan sesuatu yang tak mengenakan hati, sesak, pilu dan nestapa.
Wajah itu mirip dengan Yui Kito dan juga mirip dengannya, karena dia dan Yui Kito sering di katakan memiliki kemiripan.
Melihat wanita bernama Mikasa, seolah-olah melihat diriku yang juga menjual kehormatanku. Dia merasa ingin membenarkan diri dalam samudra. Jay Sykes pasti memandang dan memikirkannya seperti dia memikirkan para p*****r itu.
"Begitulah, dunia ini penuh tipuan Kay, orang yang kau anggap baik belum tentu baik" jawab Kyoji langsung "Setelah dinyatakan lulus, mereka akan menjalani sejumlah tes kesehatan dan jika lulus, mereka menandatangani kontrak kerja"
Aku sama sekali tak ingin mempercayai kata-katanya dan merasa sakit yang aneh di sudut hatiku yang paling dalam, tapi itulah kenyataan pahit yang harus mulai kuterima. "Waaah, kau menang banyak kalau begitu" Komentarku acak.
Kyoji tak membalas komentarku, hanya nyengir kuda mempertontonkan deret giginya yang putih dan rapi. "Cerita klasik kota metropolis. Mereka kebanyakan masih berstatus pelajar di universitas kenamaan, ingin hidup mewah layaknya selebriti dengan kerja instan. Disini mereka hanya deal harga, lalu bertemu dengan teman kencan mereka di tempat yang ditentukan. Mereka bahkan hidup dengan mobil mewah dan tinggal di tempat berkelas. Kami membiayai semuanya. Dengan begitu mereka membuat teman-teman merasa iri akan kehidupan mereka di sosial media. Kalau mereka masih perawan, akan ada lelang. Tentu Kau harus tahu betapa fantastis harga tawaran atas mereka" Jelas Kyoji panjang lebar.