17. Bertemu Yui Kito

1040 Kata
"Bisakah lain kali kau tidak menyelonong masuk kamarku," kataku dari dalam selimut. Aku takut menampakkan diri, karena wajahku mungkin sudah merekah merah karena malu. "Aku tidak ingat dalam kitab ketentuan lama ada pasal yang mengatakan seorang suami harus minta izin sebelum masuk kamar istrinya," balas Jay Sykes penuh pembelaan. "Itu masih tiga hari lagi." Aku memperingatkannya mengingat tenggat waktu pembatalan pernikahan kami masih tinggal tiga hari lagi. "Siapa peduli," katanya terdengar acuh tak acuh. "Kau tahukan pencuri harus diberi hukuman." "Apa?" tanyaku pura-pura tak mengerti dan tak mendengar. Aku menggerjap mencoba mencerna dengan cepat apakah ia barusan mengancamku? Sebab aku merasakan bahwa ia berpindah semakin dekat ke arahku. Tiba-tiba saja selimut yang membungkusku lenyap karena ditarik dengan cepat olehnya. Lalu di lempar ke lantai. "Aku baru tahu kalau istri tiga hari lagiku adalah maling kaos." katanya dengan kentara nada menuduh pencuri yang tertangkap basah. "Aku heran kemana hilangnya kaos-koas favoritku," tambahnya mendakwa menekankan kesalahanku. Kutangkupkan kedua tanganku didepan wajah, berusaha keras menutupi wajahku yang resapi malu. Dari jari-jari yang kurenggangkan aku bisa mencuri lihat kearahnya yang menatapku dengan senyum aneh diwajahnya. Senyum licik yang menyimpan banyak misteri di dalamnya. Aku yakin ia telah memikirkan rencana jahat di otak busuknya. "Apa hukumannya?" tanyaku mencoba menentang, tapi suaraku terdengar gemetaran di telingaku. "Temani aku ke pesta temanku hari ini." katanya makin mendekat, aku membelalakkan mata atas tindakannya yang selalu saja di luar batas tebakanku dan memegang pergelangan tanganku dan menjauhkannya sehingga ia bisa dengan leluasa melihat diriku yang merona kaku. "Baik... Baiklah," kataku berusaha mengalihkan pandangan darinya ke arah pintu keluar "Aime... Aime," teriakku gelagapan, tapi aku tahu cengkeramannya di pergelangan tanganku yang di buka lebar di samping kepala makin kuat dan posisi kami makin dekat saat ia menggeser lututnya di atas kasur. Ia mendorong tanganku dan aku mencoba menahan dan melawan, perbedaan kekuatan yang signifikan membuatnya dengan mudah mengalahkanku, sehingga aku terlentang di atas tempat tidur dibawahnya. Ia makin merapatkan dirinya padaku, menghasilkan diriku yang panik bukan kepalang. Ketika kuyakin wajah kami hampir berdempetan, aku berpaling sehingga ujung hidungnya mengenai pipiku. "Jangan terlalu gugup begitu, aku tak akan melakukannya jika kau tidak memberi izin, seperti waktu itu" katanya sebelum melambaikan tangan di pintu penghubung "Bersiap-siaplah, kau punya banyak waktu" "Tapi aku harus menemui temanku siang nanti" Kataku. Entah mengapa sedikit kecewa. Ada apa denganku? "Terserah kau" katanya acuh tak acuh. Aku menyipitkan mata saat memandang keluar jendela kaca agar bisa melihat dengan jelas dari lantai dua, mata serta otakku setuju laki-laki yang baru saja keluar dari mobil bersama dua anak laki-laki adalah Jay Sykes. Jay Sykes yang mengatakan aku istri tiga hari laginya tadi pagi. Satu dari anak laki-laki itu menggenggam tangan Jay dan satu lagi berlarian lebih dahulu sehingga Jay menyerukan sesuatu yang tak mungkinku dengar. "Aku ikut senang karena kau akan segera di wisuda. Selamat Ella sayang. Tanggal berapa kau akan diwisuda?" Tanya sebuah suara lemah dan lembut, dan penuh perhatian. Aku mengalihkan pandanganku kearah Yui Kito yang baru saja bertanya, lupakan soal Jay, dia mungkin saja bersama keponakan atau anak siapapun itu, itu bukan urusanku. Yang jelas ada hal penting yang harus kutanyakan pada Yui. Yui Kito berparas amat cantik, rambut panjangnya digerai amat cantik, ia tinggi, anggun dan keibuan, duduk dihadapannya aku merasa sangat kontras dan agak rendah diri. Dia sahabatku yang paling dekat, Cafè tempat kami bercakap-cakap adalah miliknya, maksudku salah satu miliknya. Meski usia hampir sama denganku, bahkan Yui lebih muda satu tahun, ia sudah punya banyak, usaha kecil, bekerja di majalah bedar DEpH dan juga telah mengabdikan hidupnya pada panti asuhan sejak awal masah kuliah. Seringkali aku merasa iri padanya. Ia tak punya banyak hal, ia yatim piatu, tapi ia punya cara mendapatkan keluarga tanpa hubungan darah yang loyal padanya. Sangat sangat kontras denganku. Aku punya hampir segalanya, kecantikan, keluarga sayang semuanya mengkhianatiku. Kecantikanku bagai pedang bermata dua, menyakitiku dan menimbulkan masalah tanpa akhir. Keluargaku mengunakanku, mengorbankanku di atas egoisme mereka sendiri. Tidak perlu cari tahu lagi, ibuku dan adik-adikku pasti telah kembali tinggal di Kediaman Hime yang besar dan megah luar biasa. Dilayani banyak pelayan dan bisa mendapatkan apa saja hanya dengan lambaian tangan. Dan aku mesti terjebak tinggal di lingkungan Sykes yang sarat akan aturan, gugup setiap harinya dan tidak sekalipun merasakan ketentraman dan ketenangan. Yang anehnya, aku bahkan berharap Jay Sykes memperlakukan dengan baik. Sayang dia sangat sibuk sehingga tidak mengacuhkan sama sekali. Meski sudah kucoba tepis, ingatan tentang Jay yang terus menganggu pikiranku tak mau pergi saat aku mengatakan "Kalau tidak ada perubahan jadwal seharusnya tiga puluh, pastikan kau punya waktu dan aku mesti mencuri kau dari anak-anakmu sementara waktu" Anak-anak. Dua bocah laki-laki yang kulihat terus menganggu otakku. Yui kito tergelak dengan sangat anggun "Mereka bakal memusuhimu kalau begitu" Katanya ringan agak bercanda. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" kataku ragu-ragu setelah menimbang bagaimana menanyakan pertanyaan penasaran yang mungkin menyinggung Yui Kito pada akhirnya. "Tanyakan saja apapun padaku, kenapa kau jadi tiba-tiba begini, kita kan sudah seperti keluarga, kau tahu aku tidak punya lagi keluarga kandung" kata Yui Kito begitu terbuka dan murah hati, sehingga aku makin tidak enak hati. "Hmm" Aku bergumam dan aku ragu akan menyingung perasaan Yui "Apa kau kenal dengan Mikasa Kito atau di keluargamu ada yang bernama itu?" Tanyaku pada akhirnya. Aku benar-benar orang yang tidak bisa menahan penasaran. Apalagi persoalan Yui Kito yang menurut sangat misterius. Meski dia nampak lembut dan baik hati, aku terkadang merasakan jarak dan penolakan halus dalam gerak tubuhnya. Yui memandangku dalam dan cukup lama, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar dan ia nampak murung "Dia mendiang kakak perempuanku, meninggal empat tahun lalu. Kau tahu nama itu dari mana?" Tanyanya masih mempertahankan ketenangan dan kelembutan di wajahnya, tapi sekilas kulihat kebencian dan kemurkaan di mata cokelat terangnya. Betapa bodohnya aku menanyakan sesuatu yang mungkin akan mengungkit luka lama Yui Kito. Perasaan aneh lainnya mulai menyerangku. "Aku pernah mendengarkannya sekali di kampus" kataku berbohong. Aura Yui Kito saat ini benar-benar berbeda dari Yui Kito yang kukenal. Ia terasa asing, membuatku amat berhati-hati "Maafkan aku Yui, aku tidak bermaksud menyingungmu, karena namamu dan dia belakangnya sama, aku.. " "Tidak apa-apa Ella, dia sudah tiada" segah Yui dan semakin membuatku tak enak hati. Apakah Yui tahu kakaknya pernah menjadi p*****r? Meski aku penasaran tak seharusnya menghancurkan perasaan Yui lebih dalam lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN