Aku sempat syok dengan banyaknya ceceran darah yang berasal dari kepala Edwin. Kakiku gemetar dan seluruh tubuh ini berkeringat. Bukan karena takut, tetapi aku merasa sangat parno dengan darah. Perutku serasa bergolak, hingga aku jatuh terduduk di lantai hotel yang dingin. Mang Dirman yang sempat pingsan dihajar oleh Mas Edwin, tiba-tiba saja bangun dan menghampiriku. "Ya Allah, Non gak papa?" tanyanya dengan penuh rasa khawatir. Aku tak sanggup menjawab, hanya mampu menggelengkan kepala saja. Seorang petugas hotel datang membawakan ku minum dan memberikannya padaku. Tiga orang lelaki berbadan tegap menggotong Edwin keluar dari lobi dan secepat kilat petugas kebersihan hotel membersihkan ceceran darah tersebut. "Sepertinya ini masalah keluarga, tetapi karena adanya kekerasan, sebaiknya

