MELAWAN RESTU

1013 Kata
Entahlah dia yang sekarang ini tengah berbeda dengan apa yang mereka pikirkan semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencana mereka dan lebih tepatnya kali ini mereka tidak tahu lagi harus mengatakan apapun itu selain mencoba untuk terdiam di alam benang yang dia buat sendiri. Beberapa saat berlalu begitu cepat dan kini wajah yang penuh dengan keceriaan itu seketika berubah menjadi wajah yang tampak lebih lemas tidak ada kata baik di antara wajah itu. Yah Rachel yang sekarang ini berjalan di daerah kamar tidurnya kembali lagi memikirkan tentang apa yang dia pikirkan dia juga belum tahu dengan pasti akan beberapa kejadian yang akan terjadi kepada dirinya dia berhias di meja rias setelah rasa bosan itu kembali lagi membuat mereka semakin tidak yakin. "Apa yang membuat kamu selalu terlihat tidak tenang seperti ini Rachel?" tanya wanita itu dia hanya melihat ke depan cermin itu dengan tatapan yang sendu. "Benarkah? lihat dirimu sekarang ini kamu adalah insan yang baik kamu juga adalah sisi di segala sisi," ucapnya saat itu dia kembali meyakinkan semua ini. "Mengapa anda terlihat begitu menyakiti diri anda sendiri? bukankah anda di lahirkan untuk terlihat cantik dari siapapun itu?" Beberapa pertanyaan dia lantunkan kepada dirinya sendiri entahlah apa maksud dia mengatakan ini dia memang benar-benar tidak tahu akan mengatakan apa-apa lagi namun yang pasti dia akan menjadikan ini sebagai sebuah perjalanan di tengah keresahan. Di sisi lain kali ini wanita dengan wajahnya yang tampak lebih dingin hanya menatap ke arah depan dengan tangannya yang kali ini mencoba meraih apa yang perlu dia raih yaitu gorden yang berada di depannya dia merasa bahwa saat ini sifatnya yang terlalu keras membuat beberapa orang di sekitarnya merasa risih dengan apa yang terjadi. "Mengapa aku menjadi sosok seperti ini?" tanyanya dan kembali menghembuskan napasnya lega karena semua apa yang ada di dalam pikiran dia akhirnya berhasil berjalan dengan lancar. Wajahnya yang tadi kusam menandakan bahwa dirinya tidak tahu lagi akan mengatakan apa-apa lagi itu dia hanya menyakinkan kepada hatinya saja bahwa saat ini dirinya adalah hal yang baik. "Samantha apakah kamu tahu bahwa kami adalah versi terbaik dalam hidup kamu." "Lantas mengapa saat ini kamu memilih menjadikan hatimu menjadi seperti ini?" "Dan kenapa juga saat ini kamu meminta kepada dirinya untuk tidak berhenti dalam mengurusi urusan hidup mu?" tanyanya dan kembali lagi mengatakan ini adalah sesuatu yang benar adanya. Seperti inilah dirinya dia tidak tahu lagi harus mengatakan apapun itu kecuali kepada dirinya dia hanya mengatakan bahwa dirinya tidak tahu dan sadar akan semua ini dia tersenyum dengan wajahnya yang saat ini tampak lebih dingin dan dia juga yakin dengan perubahan ini dia bisa membuat dirinya terasa lebih hidup. Beberapa menit berlalu dan tidak ada lagi orang yang bisa mengatakan bahwa mereka akan pergi dari lingkup ini, mereka hanya berjalan seiring dengan kekuatan mereka tidak ada kata yang tidak baik di belakang semua ini. Kenapa dengan kehidupan yang mereka jalani apakah ini adalah sebuah perjalanan di tengah konsekuensinya? atau apakah semua ini hanya menjadi keinginan mereka datang ke tempat ini? Bukan apa seperti ini namun yang pasti satu kata yang perlu mereka lakukan kembali lagi mencari dan menggali apa yang perlu mereka lakukan karena ini adalah suatu kehidupan yang baru bagi mereka setelah pulang dari tempat yang sangat curam saat itu. "Seperti apa yang kamu inginkan?" tanya lelaki itu datang dengan langkah kakinya yang saat itu juga menatap wajah dari Casilda dari kejauhan. Casilda hanya menjawab bahwa dirinya tidak tahu dengan spesifikasi yang dia inginkan bahkan dia juga tidak ingin berkata bahwa ini semua adalah sesuatu hal yang begitu tajam bukankah seperti ini? Casilda tersenyum saat melihat pria tampan dengan polesan wajah yang saat itu benar-benar indah dia tidak tahu harus berkata apa lagi selain memuji dari atas sampai bawah tubuh lelaki itu. Lelaki itu juga tahu bahwa Casilda adalah sosok wanita yang begitu rapi dan juga mudah tersentuh dia adalah pribadi yang membuat dia sadar akan semua ini beberapa menit telah berjalan dengan cepat dan kini semuanya berjalan dengan keinginannya Casilda. Makanan datang dan benar saja lelaki itu memasukkan sesuatu di dalamnya bukankah senang tetapi wajahnya kali ini benar-benar terlihat lebih berbinar lagi dia heran kenapa dengan semua persiapan ini sungguh sangat jelas terlihat lebih indah lagi. "Apakah ini?" tanyanya karena saat itu dia melihat bahwa ada pantulan cahaya yang begitu mendalam di tempat itu. "Ini hanyalah sebuah goresan yang membuat kamu sadar bahwa aku benar-benar mau mengenal dirimu lebih dalam dan juga mau mengatakan bahwa kamu adalah mimpi yang belum pernah aku dapatkan," ucapnya dengan nada yang jelas dia dan yakin ini akan membuat wanita itu merasa meluluh dengan apa yang terjadi. "Apakah kamu serius?" Casilda bertanya dia meyakinkan semua ini hanya menjadi bagian dari unsur yang dia inginkan. Bukan tentang apa-apa namun lebih baik saat ini mereka kembali ke alam sadar masing-masing dan yah ternyata seorang dari wanita yang bernama Casilda itu hanya bermimpi saja saking dia membutuhkan seorang ayang, bukankah ini sangat tidak masuk akal? Dia tidak tahu lagi harus mengatakan hal bodoh ini kepada siapapun melainkan dia hanya meruntuki dirinya yang betul-betul tidak bisa lagi mengatakan apapun dia kembali dengan wajahnya yang tampak indah dengan ngenes dan juga rambut yang sedikit acak-acakan. "Kenapa dengan aku?" "Wajahku terlihat runyam aku bahkan tidak dapat lagi mengatakan apapun. "Mama, kenapa dengan jodohku yang belum bisa kamu berikan pendapat?" "Jodoh semakin jauh sedangkan umur semakin tua, bagaimana konsepnya ini?" Dia bertanya-tanya dan selalu saja membuat semuanya menjadi sebuah hal yang perlu di ributkan antara pemikiran dan juga hatinya dia yakin dengan seperti ini dapat digunakan sebagai salah satu alat yang membenci dirinya di suatu kemudian hari. Casilda bangun dari tempat tidurnya dia hanya melangkah dengan langka yang gontai dan benar saja dia hampir saja terjatuh karena belum sadarkan diri. Beberapa saat kemudian dia akhirnya sampai di tempat membawa air minum, dia minum dan menjadikan air itu sebagai penyegar matanya dia mendapatkan itu. "Aku telah sadar, lantas bagaimana dengan pangeran yang menyelamatkan aku?" tanyanya dia hanya tahu bahwa saat itu penyelamat hidupnya ternyata berada di alam yang lain dari padanya. "Aku tidak mau mengatakan apapun kecuali kata bodoh," rutuknya sembari membuang rambutnya yang saat itu juga menghalangi pemandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN