Tampak seperti seseorang yang tidak lagi membutuhkan apa-apa kali ini dirinya mencoba untuk untuk tetap tenang di tenang derasnya ketidakyakinan dia miliki.
Dengan napas yang sendu dan juga langkah kaki yang mereka pelankan rasanya ini sungguh tidak enak karena semua ini, di tengah hutan ini mereka masih tidak bisa berkata apa-apa lagi mereka harus tetap berkomitmen untuk menjalankan perjalanan ini.
Mereka menatap ke depan dengan tatapan yang tajam berdoa supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak baik, namun siapa boleh mengatakan dan menjamin bahwa mereka bisa tidak memiliki rasa penasaran yang besar.
Mereka memutuskan untuk mengambil sebuah topik akan masa kuliah, entahlah ini bahkan lebih baik dari apa yang mereka inginkan terasa lebih plong dan lebih menyengarkan.
"Kalian tahu sewaktu pertama sekali kita masuk ke universitas kita, rasanya cogan berada di mana-mana bukan?" tanya Casilda dengan mulutnya yang saat itu benar-benar tidak bisa dia rem.
"Benarkah?" tanya Samantha yang berusaha untuk membangunkan kembali suasana.
"Iya kamu betul bahkan di kampus kami juga banyak yang seperti itu, astaga anak lelakinya terbuat dari apa?" dia mempraktekkan gaya-gaya sok suci tentang semua ini.
Beberapa menit telah berjalan dan kini Rachel yang sedari tadi ngakak melihat semua itu hanya bisa bernyanyi kecil saat mereka tidak lagi mempunyai sedikit pembahasan, mereka hanya ingin mengatakan bahwa ini sesuai dengan keinginan mereka dan sepertinya tidak ada masalah juga kalau mereka mengatakan ini karena tidak ada yang di salahkan dan yang di tekan.
Yang ada sekarang mereka berempat kembali lagi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menaiki mobil, yah karena tadi mana mungkin mereka bisa menaiki mobil di tengah macetnya jalan dan licinnya jalan, mereka tertawa dan hanya bisa menatap ke depan dengan tatapan yang sendu.
Kali ini Rachel yang membawa mobil tetapi entah kenapa perasaan Samantha sekarang tidak enak entah mengapa dia harus mengontrol segala sikap yang kurang percaya dirinya kepada sahabatnya
Saat ini tidak ada kata yang tidak baik untuk mereka melainkan saat ini mereka harus kembali menutup mata supaya memiliki kesempatan untuk berjalan dan berganti untuk membawa mobil tadi, Samantha benar-benar tidak sanggup lagi menahan matanya agar dia tidak tertidur dan lantas sekarang ini dia malah tertidur tadinya mempunyai rencana untuk tidak tertutup dan menemani temannya yang sedang menyetir dengan wajah yang masih datar tidak terlihat satupun kesakitan di dalamnya.
Rachel juga tidak tahu kenapa saat ini bulu kuduknya merangkak naik dia tidak paham dengan daerah ini seketika dingin dan seketika panas, entahlah dia tidak harus mengatakan seperti ini.
Rachel mencoba untuk bernyanyi kecil dia tidak takut dengan apapun karena memang jiwanya hanya ingin seperti ini bebas dan tidak mau di kekang, namun semakin dia bernyanyi rasanya semakin ada yang mengikuti dirinya sampai di kaca samping.
Perlahan dia mengangkat kaca samping itu agar tertutup rapat-rapat melihat ke belakang tepatnya semua orang yang kali ini sudah tertidur betapa malang nasibnya, ketika keringat dinginnya sudah bercucuran menahan rasa takut dia mencoba membangunkan Samantha.
"Bangun, Samantha temani aku."
"Samantha."
Tidak ada sama sekali pergerakan dan bukti kalau dia akan bangun maka dari itu dia tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali pasrah dengan keadaan, ini memang di luar logika namun ketika Samantha tertidur dia juga tida menginginkan itu.
Demi membuang rasa takut yang suda membara itu dia harus mengatakan bahwa ini semua tidak benar dan ini semua hanyalah bawaan dia saja yang tidak tenang, mana mungkin masih ada hal-hal yang seperti itu sekarang?
Dan yah dia berhasil merenggut dari saku celananya ponsel yang masih mempunyai full baterai tetapi dia malah menjatuhkannya karena tangannya yang mengigil, bukan karena dingin melainkan karena rasa takut yang dia miliki terlalu besar.
Dia menatap ke depan dan mencoba untuk menahan napas ini terlalu bodoh bukan? tiba-tiba dia nenganjak pedal rem dan mencoba untuk tetap bernapas di jalur yang telah di sediakan.
"Ada apa ini?" mereka bertiga serentak bangun dan melihat ke depan.
"Aku," ucapnya terdiam karena bibirnya sudah sangat pucat.
Samantha menyadarkan dirinya apa yang terjadi sekarang ini? apakah dirinya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dan lantas mengapa dia harus seperti ini? dia mencoba mengambil air dan menyemprotkan ke depan wajah Rachel.
Elica dan Casilda sebenarnya ingin tertawa namun tidak mudah bagi mereka tertawa di saat-saat seperti ini, memang wajah mereka sempat saling menatap satu sama lain dan ingin tertawa tetapi tidak bisa.
"Ada apa ini? Samantha aku rasa aku telah melakukan salah satu kesalahan yang bodoh," ucapnya dan kembali menatap ke depan dengan tatapan yang tidak baik-baik saja.
"Apa itu? jangan seperti ini ayok kita lihat ke luar," Samantha bergerak.
Ketika kaki Samantha bergerak ke luar dan tangannya membuka pintu ada hawa yang tidak diinginkan. Mengapa seperti ini dia sebenarnya takut juga tetapi dia harus bertanggung jawab karena dia yang mengajak teman-temannya dia juga yang akan melakukan semuanya.
Tiba-tiba Elica yang tak kenal takut keluar menyenter untuk semua bagian mobil itu, terutama kolong mobil entahlah melihat itu saja membuat ngeri Casilda mengapa dia mempunyai teman yang seperti itu?
"Ada apa? tidak ada siapa-siapa di sini? Ayolah kenapa kalian takut let's go hantu saja takut kepada saya," ucapnya dengan percaya diri dan lupa menyenter di bagian belakang mobil.
'Unting saja ada dia.' batinnya berkata setelah saat itu dia melihat keberanian yang di lakukan oleh Elica.
Masuk mobil dan kembali menutup mata dan kali ini Elica yang memutuskan untuk tidak memakai ponsel atau apapun itu dia mengambil alih supaya dapat menggunakan tempat itu dia takut kalau nanti Rachel malah Tidak fokus dan mereka malah tidak jadi untuk hiking.
"Baiklah kita boleh bertukar posisi bukan? biarkan saja aku yang membawa mobil itu dan kamu bisa istirahat di belakang," sarannya dengan wajah yang tenang.
Mobil melaju dan ternyata kucing adalah hewan yang di tabrak oleh Rachel tadi, entah kenapa ini memang sudah takdir atau hanya sebuah peringatan di atas segala kebingungan yang telah terjadi.
Kucing yang malang dia meninggal dengan isi perut yang keluar semua dan juga bola matanya yang hampir tidak bisa keluar lagi, dia terlalu mempunyai nasib malang sudah mati tetapi tidak di kuburkan lagi entahlah ini terlalu bodoh.
"Meong," kata terahkirnya yang mungkin berada di dalam dunia ini.
Mobil berjalan dan seiring dengan bola mata dari kucing itu yang perlahan mulai menghilang di tutup oleh kehitaman dunia.