Ragil dan Tresna

1047 Kata
"Ragil bangun, kamu harus menyelesaikan hal ini!," seru Tresna membangunkan adiknya yang sudah terlelap. Dengan malas Ragil menyahut, "Mas, apa tidak bisa besok saja kita bicaranya? Aku sudah lelah mas! Mas sibuk acara tadi jadi aku lelah harus mengurus toko membantu ibu!" "Kamu lihat kan tadi saat aku ada acara dengan Cinta? Aku tak suka Senja berkomentar seperti itu!" lanjut Tresna. "Dia berkomentar seolah aku adalah kekasihnya. Apa yang akan dipikirkan Cinta jadinya nanti. Aku melihat wajah Cinta kaget dan banyak melamun setelah acara." "Aku tak mau Senja menganggu Cinta. Kenapa kalian tidak membicarakannya supaya semua masalahnya jadi lebih jelas. Aku tak suka kamu mempermainkan perasaan perempuan. Ingat Ragil, ibu adalah seorang perempuan. Saat ayah bercerai dengan ibu karena wanita lain kita sangat membenci ayah. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan ayah," Tresna berkata dengan tegas sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.  Ragil mengangkat guling yang menutupi wajahnya. Diusapnya matanya yang silau karena sinar lampu yang baru saja dinyalakan oleh Tresna.  "Mas, Senja tak kan mungkin mengganggu Cinta. Mereka kan tak bertemu. Lagipula, mas dan Cinta hanya teman kan? Itu yang selalu mas katakan kepada kami semua. Jadi biarlah Senja membantu meramaikan acara kalian tadi!" sahut Ragil. Tresna tampak gusar dengan ucapan Ragil yang menganggap remeh hal ini, "Ragil, kamu jangan sembarangan dengan hal ini. Aku merasa Cinta tak layak untuk disakiti karena dia.." Tresna berhenti bicara dan disambut dengan tertawa Ragil yang terbahak - bahak.  "Mas, sudah jatuh cinta kan sama cewek itu? Katakan saja. Jangan banyak alasan. Aku tahu itu mas. Kita kembar identik tahu rasanya kalau sedang jatuh cinta tapi tak berani mengungkapkan. Iya kan?" sahut Ragil. "Diam kamu. Kamu sendiri dengan Senja yang sudah pingin sekali nikah kenapa tak berani bicara tentang perasaanmu padanya? Aku berhati - hati dengan Cinta karena dia anak terpelajar. Aku takut salah berkata yang nanti dapat menyinggung dirinya. Tapi aku tak mau dia salah sangka menganggap aku sudah punya pacar. Aku tak suka rencanamu untuk memancing perempuan yang kita suka dengan membuatnya cemburu. Ini sama sekali tidak jujur. Aku mau cat hitam lagi rambutku, tak mau aku bergaya sepertimu yang hobi gonta ganti cat rambut." Tresna tampak masih kesal dan segera meninggalkan kamar Ragil. Ragil membalas pernyataan masnya dengan setengah berteriak," Mas, jangan dihitamkan dulu rambutnya. Cat rambutnya aku pakai yang mahal itu. Lagipula kan mas yang bilang mau ala Justin Bieber yang totalitas dong jangan setengah - setengah." Ibu yang mendengar kegaduhan di tengah malam akhirnya keluar juga dari kamarnya dan berpapasan dengan Tresna.  "Tresna, ada apa malam - malam begini ramai dengan adikmu?" Tresna terkejut karena berpapasan dengan ibu. Tresna lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan dia dan Ragil.  "Begini bu, aku tak suka Ragil mempermainkan perempuan meskipun maksudnya hanya untuk mengetahui apakah cewek ini suka padanya atau tidak. Dia sedang mendekati Senja bu, pembeli produk kita itu, cantik dan anak pemilik Mal terkenal yang kemarin diceritakan oleh Ragil", ungkap Tresna. "Masalahnya, Ragil pakai nama aku untuk mendekatinya bu. Jadi Senja menyangka yang suka padanya adalah aku. Aku dan Cinta , kenalan baruku dari Tempat Penjualan Daring, mulai sering bertemu karena kegiatan bersama. Aku sendiri tak berani mengungkapkan perasaanku pada Cinta karena dia kan anak kuliahan. Mungkin juga dia anak orang berada aku jadi merasa canggung dekat dia takut Cinta tersinggung. Nah, tadi aku lihat Cinta tampak kaget membaca komen Senja. Karena Senja tampak mengungkapkan rasa sukanya. Dia salah orang bu, yang suka Senja itu adalah Ragil bukan aku!" Ibu tampak tak terkejut dengan cerita ini. Sebab waktu SMA Ragil juga yang berbuat ulah mendekati teman kelas Tresna yang jadi bunga di sekolah mereka dengan mengatas namakan Tresna. Tresna sendiri tampak cuek dengan temannya itu. Sehingga kesalah pahaman makin meruncing ketika gadis itu malah menyukai Tresna yang memang lebih pendiam daripada adiknya Ragil. Gadis itu merasa sikap Tresna di kelas berbeda dengan Tresna yang sering diajaknya berbincang melalui telepon.  Akhirnya ibu pun turun tangan membantu meluruskan kesalah pahaman tersebut. Untung saja teman kelas Tresna ini dapat mengerti dan tidak mempermasalahkannya lebih lanjut. Ibu hanya geleng - geleng kepala saja mendengar penjelasan Tresna.  "Ragil lagi buat hal seperti ini. Harusnya memang dia segera kita nikahkan saja bagaimana Tresna? Supaya tidak menganggumu lagi," sahut ibu sambil tersenyum. "Ibu akan bicara dengan Ragil besok pagi agar dia menjelaskan hal ini ke Senja. Ibu minta kamu juga harus memiliki keberanian untuk bicara dengan Cinta. Jangan sampai berlarut - larut perasaanmu tak kamu sampaikan kepadanya. Apa yang kamu takutkan soal ini? Kamu takut dia menolakmu? Kalau kamu tak mengungkapkan maka kamu tak akan pernah tahu apa yang dirasakannya?" Malam itu Tresna hanya memilih diam seperti biasa ia lebih memilih untuk memikirkannya dahulu. Adiknya, Ragil memang yang lebih aktif dalam hal percintaan. Putus nyambung sudah biasa dialaminya. Namun Tresna selalu saja punya perasaan minder apalagi ia berpikir status sosial keluarga mereka bukan dari kalangan orang berada. Mereka harus berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, hingga Tresna pun tak dapat kuliah karena tak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah.  Menurut Tresna, Cinta adalah cinta pertamanya. Dia belum pernah sebelumnya dekat dengan seorang wanita sejauh hubungannya saat ini dengan Cinta. Oleh karena itu awalnya Ragil yang mengajak bicara Cinta untuk mengetahui apakah memang Cinta suka pada Tresna. Ragil yang merasa lebih berpengalaman menyatakan bahwa memang Cinta juga merasakan hal yang sama pada Tresna. Oleh karena itu Tresna dibuat sekeren mungkin oleh Ragil agar mendapatkan perhatian lebih dari Cinta.  Ragil memang bersikap agak keterlaluan dengan berpura - pura sebagai Tresna dan bercerita pada Ratna mengenai keinginannya untuk menikahi Senja. Ratna pun dan teman - teman di situs penjualan daring tersebut jadi saling bercerita dan pasti Cinta pun akan mendengarnya.  Awalnya Tresna turut saja dengan ide gila adiknya ini. Hingga akhirnya dia melihat kekecewaan di wajah Cinta saat membaca komentar dari Senja saat acara tadi. Tresna mulai sedikit percaya pada omongan Ragil kalau Cinta memang mulai suka padanya, Tresna memang sempat tak percaya karena seringkali Cinta marah kepadanya akan hal - hal kecil. Karena mungkin Tresna tidak pernah bergaul dengan wanita jadi kalau berkomentar maksudnya bercanda malah jadi membuat Cinta tersinggung dan marah kepadanya.  Maafkan aku Cinta, kata Tresna dalam hatinya. Seandainya kamu tahu apa yang kurasakan kepadamu. Maafkan karena aku pernah mengatakan aku sedang dekat dengan seseorang hanya karena ide Ragil untuk mengetestmu cemburu atau tidak. Malam itu akhirnya Tresna pun tertidur dikala ia memikirkan hubungannya dengan Cinta. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN