Aku pun Punya Perasaan yang Sama (Episode Akhir)

2297 Kata
Aku melihat Tresna dengan wanita itu. Betapa bodohnya aku mengharapkan Tresna. Aku tak bisa melupakan peristiwa di toko buku saat Tresna bermesraan dengan gadis cantik anak pemilik Mal Indonesia. Hatiku begitu hancur menyaksikannya. Tresna yang kukenal menjadi tampak asing di pandanganku saat itu. Padahal saatku bersama Rendra yang ada diingatanku adalah Tresna yang sudah mengungkapkan perasaannya dengan memesankan aku secangkir kopi bertuliskan ungkapan romantis perasaannya. Aku menjalani hari - hariku dengan lebih banyak berdiam dan fokus pada tugas kuliahku. Aku tak mau perasaan kecewaku mengganggu tanggung jawabku yang harus kuselesaikan. Namun memang wajah dan sikapku tak dapat berbohong. Aku tak bisa menutupi perasaanku yang sebenarnya. Seringkali aku bersikap menyendiri dan fokus dengan tugas - tugas kuliahku untuk persiapan skripsi. Rendra pun seperti memberi ruang bagiku untuk mempertimbangkan keputusanku. Aku pun menjadi tak bersemangat membina hubungan dengan siapa pun. Rendra begitu pun Tresna tak lagi banyak menghubungiku. Aku pun merasa tak punya cukup waktu untuk menghubungi atau sekedar berbincang dengan mereka. Hari ini adalah Sabtu pagi. Aku merencanakan untuk pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari beberapa buku penunjang bahan skripsiku. Jam 10 pagi aku sudah sampai di pelataran kampus yang mulai banyak kendaraan untuk mahasiswa yang ada kuliah di hari Sabtu. Aku tak bersama Tari karena dia sibuk dengan acara arisan keluarganya. Aku berangkat ke kampus dengan kendaraan umum. Aku baru akan memasuki ruangan perpustakaan saat tiba - tiba telepon genggamku berbunyi yang menandakan ada obrolan yang masuk. Kuambil telepon genggamku dari dalam tas ranselku sambil aku bergerak ke pinggir taman di depan perpustakaan. k****a tulisan disana, nyaris jantungku berhenti berdetak saat kulihat nama yang mengirim pesan itu. Tresna, pesan ini dari Tresna. Sudah lama sejak aku melihatnya saat di Mal Indonesia dia baru berkabar lagi. "Cinta, apa khabarmu? Maaf aku lama tak mengajakmu berbincang!" tanya Tresna mengawali obrolannya. Tiba - tiba aku teringat saat aku mengirim pesan sebelum aku melihatnya di Mal Indonesia. Tresna belum menjawab pesanku saat itu hingga hari ini dia menanyakan kabarku. Kulihat Tresna sedang mengetik kalimat lanjutannya,"Telepon genggamku sempat rusak beberapa waktu lalu dan ada beberapa nomor telepon ikut hilang saat dibetulkan. Maaf jika kamu sempat menghubungiku namun aku tak meresponnya!" Aku bingung harus menjawab apa saat itu. Aku telah melihatnya dengan seseorang dan membuatku begitu bersedih dan kecewa. Perasaanku sempat hancur dan kecewa akan apa yang kulihat. Aku berusaha menenangkan diriku dan tetap positif dalam menjawab pertanyaannya. "Hai Tresna, kabarku baik saja. Aku masih sibuk juga menyiapkan bahan - bahan untuk menuliskan skripsiku. Bagaimana denganmu semoga kamu juga bahagia ya!" ketikku untuk menjawab obrolaku dengan Tresna. "Syukurlah kamu baik - baik saja. Aku sedang mempersiapkan toko untuk usahaku yang baru. Sebentar lagi akan ada acara besar juga di keluargaku jadi aku pun ikutan sibuk, " balas Tresna. Aku berpikir dengan kata - katanya mengenai sebuah acara besar dalam keluarganya. Pikiranku pun mengarah kemungkinan Tresna akan menikahi gadis itu. Tiba - tiba lututku pun melemas. Aku kemudian langsung memutuskan obrolan singkatku dengan Tresna. Aku mungkin merasa takut dengan kemungkinan cerita Tresna berikutnya tentang pernikahannya. Sedikit berbohong aku kemudian membalas obrolan Tresna,"Tresna, maafkan aku harus menyudahi obrolan kita karena kuliah hampir mulai. Salam untuk keluargamu ya!" Tresna pun menjawab dengan mengirimkan emotikon wajah yang tersenyum untuk membalas perkataanku. Aku nyaris tak dapat berkonsentrasi dengan perkataan Tresna tadi. Di dalam ruang perpustakaan aku banyak termenung dan tidak dapat fokus saat mencari bahan - bahan skripsiku. Aku rencana tadinya akan tinggal selama dua jam di perpustakaan namun aku tiba - tiba ingin segera pulang dan merebahkan diriku di tempat tidurku. Pikiranku membuatku tampak begitu lelah. Hanya sejam aku berada di kampus dan kemudian aku segera kembali pulang ke rumah. Setelah makan siang bersama dengan ibu, aku tetap merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri. Ibu melihatku begitu murung dan tidak banyak berkata - kata selama makan siang saat itu. "Cin, ada apa denganmu? Mengapa kamu tampak murung saat ini? Adakah masalah yang mengganggumu?" tanya ibu saat dilihatnya aku selesai makan siang. "Hanya lelah bu. Mungkin karena tugas kuliahku yang mulai tampak semakin banyak. Aku hanya ingin mencoba beristirahat di kamarku setelah makan siang," sahutku. Ibu kemudian menghampiri kursiku dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku pun tersenyum dan mengumpulkan piring dan gelas makan siang kami, kemudian membawa ke dapur dan mencucinya. Siang itu panas sekali kurasakan. Aku berusaha memejamkan mataku namun aku tak dapat juga tertidur. Kulihat jam di telepon genggamku sudah menunjukkan jam 2 lewat. Aku tiba - tiba teringat pada Tari dan mencoba membuka obrolan dengannya. "Tari kamu sedang apa? Apa kamu sedang di rumah?," tanyaku pada Tari. Tari menjawabku sekitar lima menit kemudian,"Hai Cin, aku baru saja selesai membantu membereskan rumah karena acara arisan keluarga baru saja selesai. Masih ada makanan kalau kamu mau kemarilah kita sambil ngobrol di rumahku," balas Tari. Aku yang merasa mulai bosan di kamarku menjadi tertarik akan ajakannya untuk ngobrol di rumah Tari. Akhirnya aku meminta ijin ibu untuk pergi ke rumah Tari dan berbincang di rumahnya. Ibu memberikan ijin dan aku mulai berjalan ke rumah Tari yang hanya beberapa blok saja dari rumahku. Ibu Tari mengijinkanku untuk masuk ke ruang tamu yang sudah rapi sehabis acara arisan hari ini. Tak lama kenudian Tari pun keluar sambil membawa beberapa kue dan es sirup yang terlihat sangat segar di cuaca yang terasa panas di luar sana. Kami mengawali perbincangan kami seputar kuliah kami dan dia bertanya apakah tadi aku jadi pergi ke perpustakaan. Aku bercerita aku tak berlama - lama berada di perpustkaan dan hanya sejam kemudian aku memutuskan untuk pulang karena ada yang mengganggu pikiranku. Tari pun bertanya ada masalah apa denganku dan aku menceritakan mengenai obrolanku dengan Tresna hari ini dan kejadian di Mal Indonesia yang belum pernah aku ceritakan pada Tari saat itu. Tari pun tampak mengerutkan dahi mendengar ceritaku. Kemudian Tari pun mengungkapkan beberapa hal lain yang membuatku menjadi terkejut dibuatnya. "Sebentar Cin. Jadi kamu melihat Tresna dengan gadis kaya yang kita temui di parkiran Mal Indonesia? Apa kamu yakin orang yang kamu lihat adalah Tresna?" tanya Tari kemudian. Aku menjelaskan keyakinanku dan menyebutkan ciri - ciri Tresna dan juga beberapa kebohongan Tresna mengenai pilihan buku favoritnya. "Dia berbohong padaku Tari. Dia katakan dia suka membaca buku novel misteri dan detektif sepertiku. Lalu dia cerita lebih suka membeli buku - buku cerita di toko buku bekas. Padahal dia membeli komik mahal di Mal Indonesia," sahutku dengan nada kesal sambil meneguk miniman es sirup untuk mendinginkan perasaanku saat itu. Kulihat Tari tampak mengerutkan dahi dan berpikir keras tentang sesuatu. Tari pun kemudian berusaha meluruskan masalah yang kuhadapi ini. "Aku heran saat kamu sebutkan ciri - ciri Tresna katamu dia berambut merah muda? Aku teringat saat acara pengumuman pemenang acara Penjualan Daring kemarin rambut Tresna kan hitam, Cin!" jelas Tari. Aku pun menjadi teringat akan hal itu. Apa mungkin sesingkat itu Tresna kembali mengecat rambutnya setelah dia merubahnya menjadi hitam? Kemudian Tari melanjutkan analisanya,"Sepertinya Tresna bukan tipe yang suka gonta ganti cat rambut. Aku hanya lihat rambutnya berwarna merah muda saat acara lomba berlangsung. Lalu kamu katakan bahwa Tresna suka novel detektif dan misteri tapi pria berambut merah muda itu menyukai komik mahal. Mungkinkah mereka adalah kedua orang yang berbeda?" Aku pun menjadi terkejut dengan analisa Tari. Aku yang sudah terbakar api cemburu mungkin jadi salah menilai bahwa orang yang bersama dengan anak gadis pemilik Mal Indonesia adalah orang lain bukan Tresna. Kemudian ada hal lain yang Tari jelaskan kepadaku mengenai Tresna,"Cin justeru aku menunggu kamu bercerita soal perasaanmu dengan Tresna sudah sejak lama. Tepatnya sejak pengumuman lomba acaramu dan Tresna. Aku merasa Tresna cemburu kepadamu hari itu karena dia melihatmu berpelukan dengan Rendra di dalam toko buku!" Aku kaget mendengar penjelasan Tari kali ini,"Apa? Tresna melihatku berpelukan dengan Rendra di toko buku?" Tari pun melanjutkan kisahnya. Dia memang melihat Tresna yang berada di luar toko buku saat akan menjelang pengumuman pemenang akan diadakan. Tresna terlihat tampak terkejut saat itu melihatku berpelukan dengan Rendra yang memang sudah lama tak bertemu. Tari merasa perubahan wajah Tresna saat melihat dari kaca. Tresna salah paham dan cemburu. Akhirnya Tari menyimpulkan ada kesalah pahaman antara aku dan Tresna yang harus diselesaikan kami berdua. "Cin, kalian harus bertemu. Banyak kesalah pahaman antara kalian berdua yang harus segera diluruskan. Aku merasa kalian berdua saling mencintai dan cemburu karena kesalahapahaman saja!" jelas Tari. Aku pun merasa aku dan Tresna harus bertemu kembali dan jujur akan perasaan kami serta meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kami berdua. Akhirnya aku pun berpamitan sore itu dari rumah Tari dan bermaksud menghubungi Tresna dan mengajaknya untuk bertemu dengannya. Aku mengambil telepon genggamku dan menekan nomornya untuk berbicara langsung dengannya. Lama nada sambung itu berbunyi dan tampak tidak diangkat oleh Tresna. Aku mencoba menekan ulang nomor telepon Tresna. Kali ini telepon diangkat dan terdengar suara lembut seorang gadis diujung sana. "Hallo, maaf ini siapa ya?" Aku terkejut dengan suara gadis yang menyapaku. Tapi aku berusaha menguatkan diriku untuk menyebutkan namaku dan keinginanku berbicara pada Tresna. "Oh iya mbak Cinta. Mas Tresna sedang ke ruangan sebelah untuk ukur pakaian pesta pernikahan bersama Ragil," suara gadis itu jelas di seberang sana. Tiba - tiba duniaku serasa berputar air mataku mulai mengalir perlahan. Lalu aku menutup pembicaraanku dengan gadis di seberang sana dengan perasaan yang tak karuan. Aku mematikan telepon genggamku karena tak kuat lagi membayangkan pernikahan Tresna dengan gadis lain. Ragil? Siapa Ragil itu? Selama aku berteman dengan Tresna, dia tak pernah menyebut nama itu. Aku mulai terisak di bantal tempat tidurku. Aku merasakan bantalku mulai basah hingga aku tertidur dengan sendirinya karena lelah. Aku terbangun karena ibu mengetuk pintu kamarku untuk mengajakku makan malam. Aku melihat ke jam dinding kamarku dan saat itu sudah pukul delapan malam. Aku memberikan jawaban pada ibu akan segera menyusulnya makan malam. Aku memutuskan untuk membasuh diriku agar tubuhku terasa segar. Aku menemani ibu makan malam dengan tidak begitu semangat. Ibu membuatku jahe hangat setelah kami selesai makan malam karena dipikirnya aku masuk angin. Aku meminum jahe hangat tersebut dan terasa tubuhku agak ringan. Aku mulai merasa sedikit nyaman dan memutuskan kembali ke kamarku setelah jam 10 malam. Aku tak dapat tidur dan berkeinginan untuk menonton dari telepon genggamku. Kunyalakan telepon genggamku dan saat layar mulai tampak terang, kulihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Tresna. Jujur aku takut untuk meneleponnya kembali. Aku takut mendengar kenyataannya bahwa memang dia yang akan menikah. Saat aku penuh dengan kebimbangan tiba - tiba aku melihat Tresna kembali mencoba menghubungiku. Aku sempat ragu dan kaget untuk mejawab panggilannya. Namun kukuatkan hati demi sebuah kebenaran dan kejujuran untuk angkat panggilan darinya. "Hallo..." sapaku. Terdengar suara agak ramai di seberang sana ada musik mengalun lembut seperti suasana suatu acara. "Cinta, maafkan aku tadi berusaha menghubungimu karena aku takut kamu salah paham terhadapku," seru Tresna di seberang sana dan dia melanjutkan penjelasannya. "Saat ini aku sedang di acara pertunangan adikku, Ragil. Dia yang akan menikah dua minggu lagi. Jadi tadi aku sedang ukur jas bersama dia dan calon istrinya yang angkat telepon dari kamu!" Aku terkejut sekaligus lega mendengar penjelasan Tresna. Rupanya Ragil adalah nama adiknya yang akan menikah dua minggu lagi. Tanpa berlama - lama lagi aku pun akhirnya mengajaknya untuk bertemu besok di kedai kopi tempat kami biasa bertemu. Aku merasa Tresna juga harus mendengarkan penjelasanku mengenai hal yang dilihatnya saat aku bersama dengan Rendra. Tresna pun akhirnya menyetujui ajakanku untuk bertemu dengannya besok. Tiba - tiba aku mulai merasakan semangat hidupku kembali b*******h. Ternyata Tresna masih ingin menemuiku dan aku masih memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaanku sebenarnya padanya. Malam ini aku ingin segera cepat pagi dan bertemu dengan Tresna untuk menjelaskan semua kesalahapahaman kami. Aku janji bertemu dengan Tresna sekitar jam 2 siang karena Tresna masih harus menghadiri acara makan siang bersama keluarganya sehubungan acara pernkahan adiknya. Aku tiba lebih dulu di kedai kopi tempat kami janji untuk bertemu. Aku sengaja duduk dekat jendela agar terlihat jika Tresna datang. Kulihat sedan berwarna putih berhenti di depan kedai kopi pas jam dua siang. Tampak pria berambut merah muda keluar dari mobil dan bertukar posisi dengan Tresna yang tadi berada di tempat duduk sopir. Aku terhenyak, ternyata Tresna dan pria berambut merah muda itu adalah Ragil. Ternyata Ragil adalah pria yang kupikir Tresna bersama gadis anak pemilik Mal Indonesia. Tresna melambaikan tangan padaku yang tampak terkejut melihat dirinya dan Ragil. Dia pun memasuki pintu dan duduk dihadapanku dengan senyum manisnya. Tresna kemudian menjelaskan mengenai Ragil yang adalah kembarannya. Setelah Tresna selesai bercerita aku meminta ijin pada Tresna untuk memesan secangkir kopi kesukaannya. Tresna sempat mencegahku untuk memesan karena biasanya dia yang memesan untukku. Namun aku bersikeras untuk memesankan pesanan khusus untuk kami berdua. Aku kembali duduk di hadapan Tresna dan mulai menjelaskan tentang Rendra. Aku pun meminta maaf pada Tresna karena menjadi salah paham denganku saat Rendra dan aku bertemu di toko buku kala itu. Tresna terkejut darimana aku mengetahui bahwa dia ada di sana saat itu. Aku sampaikan bahwa Tari, sahabatkulah yang melihatnya berada di luar jendela. Hari ini ada yang ingin aku katakan kepadamu Tresna, begitu kataku selesai aku menjelaskan pada Tresna. Sesaat kemudian pelayan pun mengantarkan es kopi pesananku. Aku membantunya meletakkan minuman itu di hadapan Tresna dan di hadapanku. Aku tersenyum saat kulihat mata Tresna membaca tulisan yang ada di gelas es kopi pesananku. Dengan mata berbinar - binar, Tresna kembali memandangku dengan senyum dan tangannya mulai menggenggam tanganku. Dia mengeser perlahan gelas es kopinya dan mendekatkan wajahnya ke arahku. "Cinta, aku mencintaimu. Ini yang akan aku katakan sebenarnya saat hari kemenangan kita! " lembut suara Tresna terdengar di telingaku. Aku sangat menikmati momen bahagia ini bersamanya. Aku tahu Tresna akan tersenyum dan jujur kepadaku setelah membaca tulisan di gelasnya,"Aku tahu apa yang kamu rasa sebab aku adalah Cintamu!" Ini bukan akhir dari perjalanan kisah kami. Namun kami menikmati prosesnya dengan bahagia dan setia. Tuhan sengaja membentuk kami agar kami bertemu kembali di saat yang tepat. Terima Kasih untuk pembaca setiaku. Tunggu terus kisah - kisahku selanjutnya ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN