Drunk

1605 Kata
Aku berharap Pak William mengajakku ke salah satu mall di daerah sini saja. Namun, ternyata ia mengajakku ke sebuah butik yang memandangnya saja membuatku silau. "Eeemm ... kita ke sini untuk beli baju, Pak? Kenapa tidak ke mall saja? Lebih banyak pilihan..." tanyaku tanpa bisa melepas pandangan mataku ke arah gaun hitam berbahan velvet, dengan bahu terbuka dan lengan panjang transparan bermotif polkadot. Terpajang cantik di depan toko. Oke. Mungkin gaun itu akan terlihat indah pada Dokter Lyn yang memiliki body semampai. Kalau aku yang memakainya, mungkin akan terlihat lucu! Walaupun bukan gaun panjang, tetap saja, bukan? "Hei, nona ... kau ingin selamanya di luar sana? Masuklah. Kita tidak akan pulang jika tidak ada gaun yang cocok untukmu." Pak William menjelaskan. "Ta...tapi, Pak! Terlalu mahal kalau saya beli gaun di sini. Sayang uangnya, Pak!" Aku masih berusaha berkilah. "Sudahlah. Kamu 'kan, mau jadi partner saya, masa pakai gaun pasaran? Ini makan malam bisnis, Tasya..." jelas Pak William. 'Saya tau, sih. Tapi saya ngerasa gak cocok dengan model gaun begini. Ya ampun...' Aku berusaha menjelaskan dalam hati. "Baiklah..." Aku mencoba iklas walaupun dalam hati masih ragu, apakah ada gaun untuk wanita dengan bentuk tubuh sepertiku? Mungkin pemilik toko akan memberikan gaun untuk anak remaja. Ah, sudahlah, terima saja. Ddrrttt... ddrrttt... Aku mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol untuk membuka kuncinya. "Maaf, Nona! Tidak boleh mengambil gambar di sini..." jelas salah satu karyawan butik, sambil menunjukkan tanda larangannya. "Saya ingin menghubungi seseorang. Tenang saja ... walaupun ingin, saya masih taat peraturan kok..." jelasku. Aku tidak dapat menemukan keberadaan Pak William. Kuduga, ia sedang memilih baju di ruagan sebelah. 'Baiklah, Sya! Apa kamu harus memilih gaun? Bagaimana kalau harganya terlalu mahal?' batinku bingung. Lamunanku buyar ketika seorang pegawai toko mengajakku ke ruang ganti. Aku agak bingung, karena aku sendiri belum memilih satu gaun pun. "Mr. Salim ingin agar Anda mencoba ini..." jelas pegawai itu menyerahkan gaun yang kutatap bermenit-menit tadi, yang membuatku menghayalkan body kurus ku akan tenggelam ke dalamnya. "Okeeey..." *** Aku keluar dari ruang ganti dengan sedikit risih. Gaun itu seharusnya hanya kupakai malam ini, tapi tadi saat mengintip harganya, aku malah takut mengecewakan harapan Pak William. Dengan buru-buru, aku kembali masuk ke dalam ruang ganti. "Loh, tadi saya dengar suara langkah kakimu ... apa ada yang salah?" Pak William mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Sejenak, aku melihatnya dalam setelan jas hitam. Kulirik jam di tanganku, waktu masih menunjukkan pukul lima lebih dua puluh. Masih ada satu setengah jam lagi hingga dinner nanti, tapi Pak William sudah sangat siap dengan pakaiannya. Tidak akan bohong, aku ingin melihatnya terus-terusan. Sosoknya sangat, aah ... tidah bisa kujabarkan! 'Mengapa Tuhan menciptakan makhluk sempurna terlalu cepat?' batinku miris.  Andai saja ia lahir sepuluh tahun lebih lambat, mungkin aku akan menjadi salah satu dari sederet gadis yang ingin menjadi kekasihnya. Aku benar-benar harus sopan dan mengalihkan pandanganku ke tempat lain. "Tapi ... Bapak janji tidak akan meledekku, ya?" aku memohon. "Tidak akan ... ayolah. Kamu masih harus ke salon untuk merapikan rambut dan menambahkan sedikit model di sana..." tambahnya.  Aku melangkah keluar dan sama sekali tidak berani menatap siapapun di ruangan itu. "Oke. Yang itu saja!" Sayangnya, Pak William hanya memandangku sekilas. Setelah itu kami mencari sepatu, masih di butik yang sama. Aku suka memakai sneekers. Namun, aku juga terbiasa dengan heels. Aku menyukai pesta yang diadakan teman-teman kampusku, dan pada saat-saat seperti itulah, yang membuatku terbiasa dengan heels. Ada beberapa pilihan yang diberikan oleh para pegawai disana. Agak bingung antara stiletto merah yang sexy atau platform yang lucu, akhirnya aku menjatuhkan pilihan ku pada platform baby rose yang terlihat simple namun lucu. Selain itu, platform juga membuatku terlihat sedikit lebih tinggi jika harus berjalan dengan bosku nanti malam. *** Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh lima. Orang yang meriasku baru saja selesai. Rambutku telah rapi. Aku bangkit dan melihat penampilanku di depan cermin malam ini. Luar biasa hebat pengaruh barang-barang mewah dan riasan seorang profesional. Aku menatap cermin itu lama, aku agak ragu, tapi benar. Yang kulihat adalah visualisasi Dokter Lyn yang sempurna. Aku mengacuhkan perasaan itu. 'Baiklah,  apapun untuk bosku...' Sekarang kami sudah sampai di loby restoran, tempat Tuan William dan calon rekan kerjanya akan makan malam bisnis.  Aku berjalan di belakang Pak William, yang betul-betul tampan malam ini. Buktinya, aku bisa merasakan seluruh mata wanita di ruangan ini mencuri pandang ke arahnya. Untunglah aku bukan istri dari Pak William, kalau tidak mungkin aku sudah murka sejak tadi. "Apakah penampilanku baik-baik saja?" tanya Pak William setelah ia duduk di meja yang telah Ia pesan tadi siang. Aku hanya mengacungkan dua jempolku untuknya. "Anda, perfect." Ia tersenyum singkat. *** Makan malam itu berjalan seperti seharusnya. Mereka mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Rekan kerja baru Pak William mulai memesan wine untuk kami. Aku tidak akan meragukan kepandaian Pak William untuk meneguk jenis minuman itu. Bohong besar jika ia bilang tidak bisa atau tidak pernah minum. "Ayolah Anastasya ... just one shot. Make him proud..." goda Mister Jhonson. Ia menginginkan agar aku juga minum dengan mereka. Namun, aku ingat sekali kalau Pak William melarangku untuk minum apapun situasinya. "No, thanks. I have to stay sadar dan membawa bos saya pulang. Thank you, bay the way!" "Okey ... next time jangan beralasan..." Mr. Jhonson mengalah. Mrs. Jhonson sendiri sudah pulang setengah jam lalu. Ia mendapat telepon dari hotel tempat ia menginap. Katanya, anjing peliharaannya terus-terusan menggonggong di depan pintu hotel. Aku memperhatikan canda tawa mereka berdua. Mereka seperti anak-anak. Sepertinya ini bukan pertemuan pertama mereka berdua. Sebenarnya Pak William tidak begitu mabuk. Ia hanya minum dua atau tiga gelas saja. Mr. Jhonson-lah yang terlihat begitu mabuk. Untung saja hotelnya berada hanya beberapa ratus meter dari sini. "Pak ... apa sebaiknya kita antar Mr. Jhonson sekarang? Besok kalian masih ada meeting di kantor, kan?" tanyaku sambil menarik sedikit lengan bajunya yang berada paling dekat dengan tanganku. Sesaat kemudian, Pak William menoleh ke arahku. Seketika itu juga, ia menelungkupkan wajahnya di atas meja. "Panggil taksi saja, Sya ... kepalaku terlalu berat untuk menyetir sendiri." Oke ... luar biasa sekali kedua orang ini... Aku meminta tolong pada seorang pegawai untuk mencarikan kami taksi. Tidak punya pembantu. Tidak punya sopir. Tentu saja, ia baru menetap di Indonesia dua atau tiga bulan belakangan. Tidak lama sebelum aku datang ke kantornya. Biasanya ia akan stay di Singapura dan tinggal di Indonesia selama lima hari sampai satu minggu saja. *** Aku sudah meminta seorang pegawai dari hotel tempat Mr. Jhonson menginap, untuk mengantarkannya sampai ke kamar. Setelah itu, aku kembali ke taksi yang sudah menunggu di depan. Berani taruhan, Pak William sedang tertidur cukup pulas. Banyak sekali kegiatan kami hari ini dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Aku duduk di samping Pak William. Rasanya lelah sekali. Namun, aku tidak boleh tertidur. Kami bahkan belum sampai ke rumah Pak William. Sambil sesekali melihat pemandangan malam, aku melihat-lihat chat grup yang sudah semakin menumpuk. *** Selesai membayar ongkos taksi, aku menjauh. Pak William memijat-mijat kepalanya yang berdenyut. Ia memberikan kunci rumah padaku. Kemudian ia sendiri bersandar di tembok rumahnya. Entah bagaimana kejadiannya, aku reflek menahan tubuh Pak William yang hampir jatuh karena hilang keseimbangan. Matanya dipaksa untuk terbuka. Namun, ia perlu berjuang keras. "Saya pikir Anda peminum yang hebat, Pak..." "Berhenti memanggil saya begitu. Saya belum beruban. Kami memiliki Justin saat saya berumur sembilan belas tahun ... dan aku hanya merasakan kehidupan rumah tangga hingga usia Justin tiga tahun. Selebihnya hidupku kacau... " Pak William mulai melepaskan ke formalannya. "Aku dan Dokter Lyn hanya menjadi teman sejauh ini. Ia teman yang baik, dan ibu yang baik ... kurasa..." ocehnya. Aku tergoda sekali untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan orang ini ... tapi aku tidak ingin memanfaatkan kesempatan seperti ini. Aku mendengar semuanya. Namun, aku memilih untuk mengabaikan hal-hal itu. "Baiklah, Pak! Sebaiknya Anda lepas setelan itu sebelum Anda mengotorinya..." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan tentang hidupnya. Aku tak paham apa yang kulihat. Setelah sadar, aku melihat laki-laki mabuk itu sudah melepaskan bajunya. Dengan bertelanjang d**a, ia tersenyum kepadaku. Aku tau ia mabuk, tapi kelakuannya sukses membuat pipiku memanas. "Pak William!!" "Kamu 'kan, yang suruh ... sekertarisku..." lirihnya lagi. "Tolong di kamar mandi, atau saya keluar saja dari kamar ini. Permi—" Belum lagi kalimat itu selesai diucapkan, Pak William sudah roboh di atas tempat tidurnya. Aku mematung. Kucoba untuk menggoncang-goncang kakinya, tapi tidak ada respon. Aku telah melepas sepatu dan mencoba memperbaiki posisi tidurnya. Aku mencari baju tidur di dalam lemari. Ya tuhan... Orang ini membuatku lelah. Aku berjingkat menuju ke lemarinya yang sudah beberapa kali kubersihkan. Aku tahu piyamanya berada dibagian belakang tumpukan. Aku merasa beruntung sepatu ini membuatku semakin tinggi. Saat itulah aku hilang keseimbangan dan terjatuh. Argh!! Aku terjatuh dengan tidak mulusnya. Keributannya sukses membuat diriku kaget dan hampir tertawa. Namun, hal yang tidak bisa membuatku bercanda kemudian adalah, aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku yang panik, sibuk mencari ponsel untuk meminta pertolongan. Karena memanggil-manggil Pak William sudah sangat mustahil. Aku membongkar tasku. Tidak ada. Astaga!! Itu artinya, ponselku tertinggal di dalam taksi yang tadi kami tumpangi... Ya Ampuuunnn ... double sial banget! Aku mencoba menenangkan diri. Berusaha berdiri membuat kakiku semakin sakit. Kamar ini begitu dingin. Aku meraih selembar kain dari dalam lemari. Setelah menutupi tubuhku, aku memejamkan mata. Aku lelah ... biarlah Pak William tidur begitu. Aku juga mengantuk. Tak perlu waktu lama untuk membuatku tertidur. *** Aku merasa benar-benar kedinginan. Rasanya aku tengah menggigil. Mataku terasa amat berat. Aku merasa ada yang memanggil-manggil namaku. Pak William!! Astaga ... jam berapa ini? "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Aku berusaha bangkit. Seketika itu juga kakiku memberitahu kalau ia masih sakit. Bahkan bertambah bengkak. Dengan lemah, aku menggelengkan kepala. Bersambung,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN