Chapter 3 – This Book or Your Life?

1190 Kata
~Semakin keras kau berlari mengejar kebenaran, semakin jauh ia memantul dari genggamanmu.~ 1. Kenyataan yang Mulai Retak Suara lembut menyelinap ke telingaku—halus, tenang, namun membawa tekanan yang samar… seperti denting awal genderang perang yang dibungkus lullaby. Indah, namun membuat bulu kuduk meremang. "Kau mencari ini?" Nada datarnya begitu sederhana, tapi ada sesuatu dalam cara ia menunjuk buku itu—novelku—yang membuat jantungku tertahan. Aku terdiam. Sosoknya berdiri di depan pintu kelas, siluet tubuhnya terpotong cahaya matahari senja. Dan di tangannya… novel yang tidak seharusnya ia pegang.. “Hei. Aku tanya—kamu mencari buku ini?” Kali ini suaranya terdengar lebih keras, lebih tajam—menyentak udara seperti ujung pisau. Aku tersentak dari lamunan. Dunia kembali bergerak. Cahaya sore semakin terasa menyilaukan. “Iya…” jawabku setelah jeda singkat, suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan. “Itu punyaku.” Aku melangkah mendekat, satu langkah kecil yang terasa terlalu berat, berusaha menjaga nada tetap tenang—seolah ketenangan itu masih mungkin dipertahankan. “Bisa… bolehkah kau mengembalikannya?” Kalimat itu keluar dengan hati-hati, seperti permohonan yang tak ingin terdengar sebagai permohonan. Mataku tertuju pada buku di tangannya, namun sesungguhnya yang kucermati adalah wajahnya—mencari isyarat, mencari niat, mencoba menebak apakah ia akan menyerahkan buku itu… atau justru menyeretku ke sesuatu yang sama sekali tak siap kuhadapi Misaki tersenyum tipis. Senyuman lembut yang… seharusnya indah. Tapi setelah melihat apa yang terjadi di koridor, senyuman itu kini terasa seperti selimut halus yang menutupi pisau. "Tak kusangka kamu suka novel semacam ini." Ia memutar buku itu dengan satu tangan, gerakannya santai… terlalu santai. Jika aku tidak melihat sisi dirinya yang gelap sebelumnya, mungkin aku akan tersipu. Tapi sekarang, tubuhku malah menegang. Waspada. Siapa sebenarnya Misaki yang kini berdiri di hadapanku ini? Ia mengangkat buku itu sedikit, lalu berkata dengan nada yang terdengar ringan, tapi menusuk: “Kamu tahu, kan? Ini novel dewasa. Nggak seharusnya anak-anak seusia kita membacanya.” Kata-katanya menggantung di udara, bukan sebagai nasihat—melainkan ujian. Dan aku tahu, yang sedang ia nilai bukanlah buku itu, melainkan diriku Aku mencoba mengambil bukuku dari tangannya. Namun dengan satu gerakan cepat, ia menariknya menjauh. Lalu mendekat. Terlalu dekat. Bibirnya hampir menyentuh telingaku ketika ia berbisik: “Aku tahu lho—aku benar-benar tahu.” Ia tersenyum samar, senyum yang tidak menghangatkan apa pun. “Kamu melihat semuanya tadi kan.” Bukan pertanyaan, melainkan vonis yang diselipkan dalam nada lembut. Tatapannya tak mencari jawaban, karena jawabannya sudah ia miliki sejak awal. ----------------------------------------------------------------- 2. Aku yang di ambang Pintu Tubuhku menegang. Seketika napasku salah langkah. “Ap… apa maksudmu?” tanyaku, berusaha terdengar wajar meski kepanikan mengalir deras di nadiku. Misaki hanya tersenyum. Senyuman yang sama sekali tidak lembut. Lebih mirip retakan kecil di permukaan kaca sebelum semuanya hancur. “Jangan berpura-pura, Satoshi.” Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun setiap katanya jatuh tepat ke titik yang ingin dihindari. “Aku melihatmu…..” “Bukan sekadar melihat tubuhmu, tapi keberadaanmu— cara mu merapat ke pojokan, cara mu menahan napas seolah kegelapan bisa menyamarkan rasa bersalah.” “Kamu bersembunyi di sana, mengira bayangan akan melindungimu.” ucapannya berlanjut, lembut namun tanpa celah untuk bernapas, Ia menatap lurus, seakan menembus dinding dan alasan. "Mengapa kamu tidak menolongku?" Kalimat itu dilepaskan begitu saja, ringan di mulutnya, berat di kepalaku —tanpa intonasi, tanpa emosi. Justru karena datar, rasanya seperti belati tumpul yang ditekan perlahan ke kulit. Hening pun menelan kami berdua. Aku menunduk, tidak sanggup menatap matanya. “Bu… bukan begitu…” gumamku, suaraku lebih kecil dari yang kuharapkan. "Kamu takut?" Ia mendekat. Wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajahku. Aromanya halus—bunga yang lembut, tapi bagiku terasa seperti kabut yang menyesakkan. Ironis. Di satu sisi, kedekatannya membuatku kikuk. Tapi di sisi lain… ada kenyamanan samar. Kenyamanan yang hanya bisa dirasakan seorang remaja ketika salah satu gadis tercantik di sekolah berdiri begitu dekat. Aku mundur setengah langkah. "Bukan—bukan itu maksudku." Aku mencoba terdengar tegas, tapi gagapku menghianati isi pikiranku. Jika kupikir ulang, memang aku tidak punya kewajiban menolongnya. Kami bahkan tidak dekat. Dia hanya rekan sekelas. Hanya seseorang yang kebetulan pernah satu kelompok dalam tugas. Lalu kenapa aku sangat takut padanya? Jawabannya datang seperti bayangan: senyuman itu. Andai saja aku tidak melihat senyuman gelapnya di koridor tadi, senyuman yang bukan seharusnya dimiliki seorang gadis lembut sepertinya. ----------------------------------------------------------------- 3. Pernyataan yang menetap seperti Duri "Tak perlu disembunyikan." Ia berkata dengan nada kembali lembut, kembali menjadi Misaki yang dikenal banyak orang. “Kalau kamu takut, katakan saja takut.” Nada suaranya lunak, hampir menghibur. “Itu wajar.” Seolah rasa takut adalah sesuatu yang bisa dimaafkan—asal diakui. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan senyum tipis, “Lagipula, aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu, kan?” Pertanyaan itu terdengar ringan, namun menggantung seperti jerat yang perlahan mengencang. Di dalam hati, aku ragu—Apakah kata-katanya dimaksudkan untuk menenangkan, atau hanya topeng lain yang ia kenakan? Dingin. Teratur. Sempurna. Namun sekalipun tak sepenuhnya menenangkan, kata-kata itu setidaknya memberiku ruang tipis untuk bernapas kembali. Dan perasaan lega yang sempat merayap naik… hancur dalam sekejap ketika ia melanjutkan: "Semakin kau mencoba membenarkan dirimu… semakin kau tersesat dari kebenaran, Satoshi." Aku menatapnya—tanpa sengaja. Tatapannya bukan lagi lembut. Mata itu gelap. Dalam. Seolah mampu melihat diriku terjatuh ke dalam ruang kosong. “Setiap pembenaran adalah satu langkah menjauh dari kebenaran.” Ia menatapku. “Tenggelamkan hatimu lebih dalam,” katanya lirih, seperti doa yang salah alamat. “Selami dirimu sendiri,” “dan kau akan tahu—kebohonganmu bukan pelindung, tapi jerat!” Lalu ia mengatakannya. Dua kata yang menusuk lebih dalam dari teriakan mana pun. "Dasar pengecut." Kata-kata itu meluncur turun, berat dan tak terburu-buru, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur tanpa dasar—lalu menghantam sesuatu di dalam diriku yang selama ini bersembunyi. Inilah wajah asli Misaki. Wajah tanpa topeng. Wajah yang tidak dikenal siapa pun. Harapanku—penjelasan apa pun yang sempat kubangun—runtuh seperti daun kering yang jatuh di musim gugur. "Aku hanya tidak habis pikir…" katanya lirih namun berbahaya. “Seorang laki-laki,” katanya pelan, “melihat seorang gadis selemah aku…” Ia berhenti, membiarkan kata lemah menggantung seperti umpan. “…dirundung oleh lima orang.” Tatapannya menempel padaku. “Dan kau hanya diam.” Tidak berteriak. Tidak bergerak. Tidak melakukan apa pun. Sudut bibirnya terangkat samar. “Katakan padaku, Satoshi—” “apa itu menyenangkan bagimu?” “A-aku bukan begitu…” kata-kata itu keluar lebih dulu daripada keberanian. Aku mencoba menjelaskannya, namun suaraku pecah di tengah jalan— seolah tenggorokanku menolak membelaku. "Schadenfreude, ya?" Aku mengerjap. "Kau tahu? Rasa senang ketika melihat orang lain sengsara." Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Pikiranku berputar seperti labirin yang menutup dirinya sendiri. Dan tepat di tengah keheningan itu, ia melempar novelku. Tidak keras, tidak marah— seolah benda itu memang tak pantas diperlakukan dengan emosi. Refleks tanganku terangkat untuk menangkapnya. Terlambat. Buku itu luput, jatuh ke lantai dengan bunyi yang nyaris tak berarti. Namun saat ia menyentuh lantai, kata-kata di dalamnya berteriak— menggema lebih keras daripada benturan apa pun yang bisa dihasilkan tubuh. "Kau itu sampah."  Aku menatapnya. Ia menatap balik—tanpa penyesalan, tanpa empati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN