Amunisi 2

1042 Kata

    Tiba di depan pintu ruang kerja yang berukuran besar tersebut, Maharani pun mengetuk pintu itu dengan ketukan yang teratur. “Tuan, ini saya. Saya dengar, Tuan memanggil saya,” ucap Maharani dengan sopan di hadapan pintu. Lalu suara Amir terdengar menyahut, “Masuk saja, aku memang mencarimu.”         Maharani pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Ahmar. Amir tersenyum menatap Maharani yang sudah memasuki ruang kerjanya. Senyum Amir terlihat seperti senyum seorang ayah yang mengingatkan Maharani pada ayahnya yang sudah berpulang karena penyakit yang beliau sembunyikan selama ini. Maharani pun membungkuk memberi hormat dan menatap tuan yang telah menolongnya hingga membuatnya berada di sini karena merasa begitu berhutang budi padanya.     “Jangan berdiri saja, ayo duduk.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN