Zee bangkit dari duduk dan menatap penuh kemarahan pada ibunya. “Omong kosong! Ibu sama sekali tidak pernah memikirkan kebahagiaan dan kepentinganku. Ibu hanya memikirkan kebahagiaan Ibu sendiri. Saat Ibu memutuskan untuk menikah dengan Ayah, saat itulah Ibu menunjukkan jika Ibu adalah ibu yang paling egois di dunia ini. Ibu mengorbankan perasaan putri Ibu sendiri demi kebahagiaan Ibu. Setelah aku merelakan itu semua, dan berpegang dengan janji yang Ibu katakan, kini Ibu malah mematahkan harapanku dan mengatakan padaku untuk menghentikan semuanya. Lalu, apa aku salah jika mengatakan bahwa Ibu adalah orang yang sangat egois?” Syani bangkit dari duduknya dan tanpa kata menampar keras pipi Zee. Saking kerasnya tamparan Syani, Zee bahkan tersentak pelan dan wajahnya menoleh searah

