“Devo—mpph.” Davina berusaha mendorong Devon menjauh. Devon melepaskan ciumannya, lalu menatap Davina. “Sebelum makan siang, aku mau ini dulu,” ujarnya lalu mengecup pipi Davina. “Soalnya semalam dan tadi pagi kan belum.” “Hey...” Davina melangkah mundur sambil mengatur napas. Namun hanya berhasil selama dua detik, karena berikutnya Devon kembali menariknya ke dalam pelukan pria itu. “Dev...” kata Davina sambil menyentuh kedua pipi Devon dengan tangannya. “Kamu kenapa?” “Aku mau kamu. Dari tadi aku nggak bisa konsentrasi bekerja karena ingat kamu terus,” jawab Devon dengan tatapan mata seperti anak kucing yang minta diberi makan. Alis Davina bertaut. “Kan kemarin pagi udah.” “Tapi hari ini belum,” jawab Devon sambil mengerucutkan bibir. Davina terkekeh. Sisi Devon yang satu ini bena

