Hari itu berlalu dengan cepat, sejak siang tadi Diana tak hentinya menatap kearah Dalila yang masih tak beranjak dari tempat tidurnya. Gadis berhijab itu benar benar menyebalkan baginya, seperti sebuah boomerang yang patut diwaspadai. Entah apa tujuan Hazza meminta Dalillah menginap, padahal, Diana lebih suka sendirian sepanjang malam dari pada memiliki teman yang berwajah baik namun bermulut tajam. Dan malam pun tiba.. Dalila tampak sibuk memasak sesuatu di dapurnya. Mungkin gadis itu merasa lapar, tapi apa yang ia masak sepertinya tidak untuk satu orang. Diana pun mendekati gadis itu,
“ Dalila biar aku yang melakukannya.”
“ Sudahlah, bukankah aku harus berbuat baik!” Jawabnya dengan semringah. Tapi tetap saja, tujuannya pasti menyindir
“ Maksudmu apa?” Diana mengerutkan kening
“ Aku hanya ingin menjadi baik untukmu.” Jawabnya tenang
“ Tapi kenapa?”
“ Dengan berbuat baik biasanya kau tidak akan menjadi pengganggu kan? Setidaknya kau akan merasa tidak enak dan melepaskan Hazza. Kau juga manusia bukan?” Dalila menatap Diana tajam.
“ Issh gadis ini.” Celetuk Diana kesal kemudian beranjak ke luar, dilihatnya angin tampak berselimut awan malam itu, rembulan malu malu menyinari lautan dengan cahayanya yang temaram. Gadis itu memejamkan matanya berusaha menenangkan hati yang sejak tadi siang terasa risau. Bisikan angin lembut seolah membawanya melayang bersama tarian irama alam. Dalam tenangnya, tiba- tiba terdengar suara langkah mendekat, Diana segera membuka mata dan melihat kesisinya. Ya, seseorang berdiri di sampingnya
“ Kau?” Diana seketika berbinar melihat siapa yang datang, Hazza tersenyum dengan sebuah gitar ditangannya, pemuda itu tampak mengenakan celana pendek dengan kaos tanpa lengan. Diana ingin sekali tersenyum, namun… saat mengingat Dalila.. wajahnya berubah masam, ingin menjauh namun Hazza menahan pundaknya.
“ Kenapa menghindariku, aku datang kesini untuk memainkan sebuah nada bersamamu ?” Tanya Hazza
“ Aku tidak ingin menjadi hama antara kau dengan Dalila Hazza, tolong mengertilah.” Wajahnya tertunduk. Mendengar itu Hazza tertawa.
“ Hama?”
“ Ya hama! Dia tadi menyebutku pengganggu. Bukannya itu sama saja dengan hama. Lagi pula kenapa kau terus datang? Kau ingin menemui tunanganmu itu?” Sindir Diana memalingkan wajah. Ia terlihat benar benar kesal
“ Aku datang menemuimu.” Jawab Hazza lembut
“ Untuk apa menemui hama? Sebaiknya kau menjauh saja!”
“ Tidak, ke marilah! Lihat aku!” Hazza memaksa Diana menatap ke dalam iris matanya. Gadis itu mengernyit
“ Kalau begitu biarkan dia yang menjadi hama!” Imbuhnya kemudian
“ Apa?” Diana mengernyitkan keningnya
“ Karna sebenarnya, aku jatuh cinta padamu Diana.” Tutur Hazza akhirnya
“ Apa??” Diana tercekat, matanya yang bundar menatap Hazza dengan Ekspresi kaget bercampur senang. Gurat merah langsung memancar di pipi putihnya
“ Tak ada hal apa pun yang bisa mengikat hati, aku sudah mencoba menjauh, berdiri di tempatku, tapi kau… kau menyeretku masuk ke duniamu, jadi jangan salahkan aku jika aku mencintaimu. Kau boleh menolak jika kau mau. Tapi aku bisa menebak, kau juga memiliki perasaan padaku bukan?” Santai Hazza mengernyit
“ Hazza…a-aku.” Diana terbata, ingin menjawab ia tapi rasanya ada beban yang membuat dadanya sesak untuk bicara.
“ Diana, aku mencintaimu… tak peduli siapa pun diriku tak peduli siapa pun dirimu aku mencintaimu tanpa alasan.” Ucap Hazza dengan raut wajah serius, sinar rembulan yang menyinari matanya membuatnya terlihat seolah berkilau, Diana menundukkan wajah. Beberapa saat terdiam
“ Hazza.. maafkan aku.” Ucapnya kemudian, Gadis itu tiba tiba berpaling dan berlari menjauh ke gubuknya. Meninggalkan pemuda itu sendirian, Hazza mengerti, Diana pasti butuh waktu.
“ Heeeeiiii peri kecilll dengarkan aku, aku akan memainkan gitarku di sini… sampai kau mau memberiku sebuah harapan, tak peduli apa pun yang terjadi aku akan menunggumu memainkan nadamu… dengarkaaannn akuuuu!! Jika kau merimaku, maka mainkan nadamu bersamaku! Aku akan menunggumu!” teriak Hazza sekuat tenaga. Diana menutup telinganya lalu melangkah masuk ke dalam gubuk dan bersembunyi di biliknya. Entah kenapa, ia sangat ketakutan, ungkapan cinta bagaikan sambaran petir yang membuatnya sulit untuk melangkah, mungkin karena trauma masa lalu.
Sementara di sana
Bola mata Hazza berkaca kaca
“ Bahkan walaupun aku tahu neraka sedang menungguku. Aku akan tetap menyatakan cintaku padamu. Maafkan aku adikku, aku tidak bisa berhenti mencintaimu dan dosa ini... Biarkan aku menanggung semua ini sendiri.” Gumam Hazza pelan.
----***-----***----
Diana duduk di sebuah kursi panjang didekat mejanya, menenggelamkan wajahnya di atas meja membiarkan air matanya tergerai jatuh.
“ Demi nyawaku, aku berjanji hidup dan matiku, hanya tanganmu yang akan aku genggam, temani aku menjadi melodi dari syair syairku yang telah lama hilang “ Senyum Zayn begitu tampan dengan jas pengantinnya memegang erat tangan Diana ditangannya waktu itu, ingatan yang tiba- tiba menyeruak masuk ke dalam hatinya. Diana Trauma
“ Zaaynn…” Tangisnya sesak
“ Jadikan aku perhiasanmu ratuku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.. TIDAK AKAN PERNAH.” suara Zayn seolah mengiang berulang kali ditelinganya…
“ Aku takuuut.. aku takuttt merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya… aku takut.” Keluh Diana menutup telinganya rapat, namun rasa sakit itu seolah semakin tajam menusuk d**a. Membuatnya kembali menangis meratapi nasib. Hingga…… terdengar suara alunan melodi yang begitu merdu di celah celah kesedihannya, suara yang seolah masuk ke pembuluh darah, menenangkan hati dan menghapus kesedihannya.
Diana berdiri dari duduknya menatap kearah jendela. Tampak pemuda berambut Curli itu duduk di atas pasir pantai, ditemani cahaya rembulan memainkan gitarnya lembut. Alunan melodi yang tercipta dari jarinya begitu indah. Diana baru tahu, Hazza bisa bermain gitar sebaik itu.
“ Sampai kapan aku akan menunggu seperti ini, membiarkan jiwa dan perasaanku hancur, dia sangat berbeda dengan Zayn.” Tutur Diana dalam seraknya.
Iya, dia sangat berbeda
Kenapa aku merasa takut, jika ia adalah orang yang justru melenyapkan gelap dalam hidupku?
Kenapa aku harus takut, jika ia menawarkan damai bagi jiwaku yang lerai
Ia berbeda,
Sampai kapan aku akan menangisi luka? Jika bahagia ia tawarkan di depan mata
“ Di… itu kan…nada yang sama yang dimainkan Hazza.” Suara Dalila mengagetkan, Diana segera menghapus air mata dari pipinya kemudian berusaha tersenyum pada gadis itu.
“ Apa Hazza ada diluar?” Tanya Dalilla lagi
“ Kenapa kau bisa tau, kalau itu nadanya?” Tanya Diana penasaran
“ Ya, karena nada itu jarang sekali dia mainkan, bahkan hampir tidak pernah sama sekali sejak 7 tahun yang lalu, Hazza hanya memainkan nadanya jika dia mau. Ada sesuatu yang terjadi dan membuatnya bersumpah tidak akan memainkan gitar lagi. Hmm apa mungkin dia memainkannya untukku?” Senyum Dalila GR. Diana terdiam sejenak. Mengingat semua apa yang pernah Hazza lakukan untuknya, membawa dunia yang baru ketika dunianya hancur, menghapus air mata ketika dia sedih, membuatnya tertawa saat tawa itu telah sirna sepenuhnya, bahkan menariknya dari gerbang maut, sanggupkah Diana kehilangan Hazza? Sayup sayup suara melodi itu begitu terdengar syahdu ditelinganya
“ Kenapa Hazza berhenti bermain gitar?” Tanya Diana sekali lagi
“ Seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya meninggal 7 tahun yang lalu, saat ingin menghadiri konser pertama Hazza. Kau mungkin tidak tahu, Hazza sangat populer. Aku yakin, Hazza kembali memainkan melodi itu untukku. Aku akan menemuinya.” Dalilla hendak beranjak. Sebelum...
“ Tunggu!” Diana menahan lengannya
“ Kenapa?” Dalilla mengernyit
“ Dalila, maafkan aku..” Ucap Diana tiba tiba
“ Apa? Minta maaf untuk apa?” Dalilla semakin kebingungan
“ Maafkan aku, untuk pertama kalinya aku akan menyakiti hati seseorang… tapi aku juga ingin bahagia, jika orang lain begitu mudah menari di atas kebahagiaanku, apa tidak boleh sekali saja aku bahagia di atas tangisan seseorang. ucap Diana. Dalila mengernyitkan keningnya.
“ Maafkan aku...” Ucap Diana kemudian menuju ke kamarnya, mengambil sebuah gitar yang bersandar rapi di sana lalu berlari ke luar.
Terkadang sebuah nada harus berdiri di atas nada lainnya untuk menciptakan sebuah melodi yang indah, belajar dari pengalaman adalah cara terbaik untuk hidup, tapi berkubang dengan kenangan adalah bukti nyata sebuah kegagalan. Dunia tidak hidup dengan kehendak kita, jadi mengapa kita tidak berlari ? masa lalu terkadang membuat seseorang menjadi egois akan masa depannya, seseorang akan tetap di tempatnya dan ditinggalkan waktu, atau dia akan berlari mengejar masa depan yang sudah pasti menjadi bagian dari kisah yang harus dia rubah. Hanya ada dua pilihan? Berani? Atau mundur?
“ Hazza.” Senyum Diana lembut dengan mata berkaca- kaca, jarinya yang lentik mulai memetik senar senar gitar ditangannya.
“ Dan biarkan sebuah nada tercipta untuk memperbarui nada yang lama.”
Hazza tersenyum menatap Diana, tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya sebuah melodi indah yang tercipta diantara keduanya, melodi yang akan menggema sepanjang masa. Dan kisah baru pun tercipta.
Dalilla yang melihat hal itu hanya bisa meremas roknya, matanya memerah berkaca kaca, ia berlari ke dalam gubuk, mungkin menangisi cinta Hazza yang tidak mungkin bisa ia raih kembali. Mungkin juga meratapi penyesalan karna telah capek capek datang, menggadaikan harga diri demi membuat Diana cemburu, tapi justru ia yang dibuat terluka. Entah apa yang membuat Diana begitu istimewa, sampai sampai sosok seperti Hazza rela tinggal di desa terpencil seperti itu hanya demi dirinya.
Dalilla mengerti, Hazza masih secerdas dulu. Itu kenapa ia mengizinkan dirinya tinggal bersama Diana. Hazza ingin menunjukkan pada Dalilla betapa berartinya Diana. Menunjukkan bahwa tidak ada tempat di hati pemuda itu untuk dirinya.
“ Malam ini indah ya.” Senyum Hazza memegang tangan Diana lembut. Begitu senang hati gadis itu memiliki seseorang seperti Hazza di dalam hidupnya, pemuda misterius yang selalu membuat penderitaannya terasa ringan. Dan menjadi sapu tangan untuk semua dukanya
“ Hazza...” Suara lembut itu menyapa dengan tatapan berkaca- kaca
“ Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan? Tenang! Aku tidak akan pernah melarikan diri, aku juga sangat siap dimarahi, diomeli, dan tidak akan mudah marah sampai sampai kau harus bunuh diri.” Tawa pemuda itu membuat Diana tertunduk malu
“ Bukan itu, apa tidak apa apa aku menyakiti hati Dalilla demi bisa bersamamu?” Tanya Diana lembut, mendengar hal itu, Hazza mengulas senyum. Dipegangnya dagu Diana gemas
“ Dia bukan tunanganku, aku tidak pernah mengiyakan hal itu. Dan seseorang yang terlalu berharap sepertinya suatu saat memang akan terluka. Ini bukan salahmu.”
“ Benarkah? Kau tidak akan meninggalkanku kan?” Diana berkaca kaca
“ Diana, aku tidak akan berjanji apa pun padamu, aku bukan type orang yang suka berjanji, hanya saja aku akan menyerahkan hidupku untuk kesetiaan, aku akan selalu setia kepada cintamu, berada di sisimu dan selamanya mencintaimu.” Senyum pemuda itu begitu tulus.
“ Dan aku menyerahkan seluruh hidupku di atas kesetiaanmu, itu artinya jika kesetiaan itu hilang maka kali ini aku tidak akan hidup lagi. Aku akan benar benar mati jika kau pergi. Jangan pernah lepaskan tanganku!” tutur Diana penuh harap. Hazza tersenyum mengangguk kemudian menidurkan kepala Diana dipundaknya.
Justru mungkin kau yang akan meninggalkanku jika kau tahu siapa aku sebenarnya Diana
Jika kau tahu,
Hazza
Next part, Suami Idaman