Kehidupan terkadang seperti sebuah roda yang berputar cepat, kadang sebuah kondisi bisa berubah seketika karena arus yang sulit ditebak, langkahnya lunglai menapaki jalan menuju rumah kecilnya ketika itu. Ada bercak darah di setiap dia melangkah, sebuah serpihan kaca entah sejak kapan menancap diantara celah jari jemarinya. Namun luka itu sama sekali tak membuatnya bergeming, bahkan tak lebih berarti dari sebuah gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang menganga dihatinya. Tetes demi tetes air matanya jatuh tak berbatas. Dan inilah takdir yang pernah dia anggap sebagai kastil dari impiannya. Tawa sekejap yang seolah tak berharga dibanding derita tanpa ujung yang dia rasakan, sosok yang hadir seolah membawa mimpinya terbang jauh kemudian menghempaskan tubuhnya hingga hancur tak bersisa. Senyum sang peri kecil telah sirna….
Harapan dihatinya sudah hampa, karena Zayn tak pernah kembali untuk menjemputnya, tidak pernah.
“ Diana… mulai sekarang kamu tidak perlu merasakan takut lagi, karena aku akan selalu ada disisimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu!” Ucapan Zayn waktu itu seolah terus mengikuti setiap helaan nafasnya.
“ Pembohooooooooongggg … pembohoonggg!!!” Teriaknya keras sembari melempar cincin yang melingkar dijarinya ke laut lepas. Diana jatuh terduduk di atas batu karang, hatinya hancur.
Bagaimana tidak, pagi tadi… dia dengan neneknya pergi ke rumah Zayn untuk menemui pemuda itu. Tapi yang dia dapat hanya hamparan kosong. Zayn dan Estell pergi berlibur ke luar negeri dan hanya meninggalkan secarik kertas pada penjaga rumah.
“ Untuk Diana, maafkan aku… aku tidak bisa bersamamu lagi, mulailah hidupmu sebagaimana dulu kamu belum mengenalku. Kita tidak akan bisa bersama lagi- maaf “
“ Begitu mudah kata- kata itu terpatri di tulisanmu setelah semua yang kau ambil dariku, bagaimana bisa aku melupakanmu sementara di setiap sudut kehidupanku ada kenangan bersamamu? Katakan padaku bagaimana aku harus hiduppp.. bagaimanaaa?” Suara Diana serak berbaur bersama deburan ombak dipantai.
Tak peduli pandangan orang terhadapnya, ia tetap menangi sesak, melampiaskan emosi dan sakit yang ia rasakan.
Begitu mudah ia membuangku
Setelah ia memiliki segala hal yang kupunya
Setelah ia merampas kepercayaan dan apa yang selama ini aku jaga
Lupakan katanya?
Andaikan saja bisa, aku bahkan ingin melupakan kalau ia juga manusia!
Karena tidak ada manusia yang sekejam ia
“ Diana…!!” Suara kecil memanggil Diana lembut, seorang gadis kecil dengan wajah memerah sedih berdiri di belakang Diana,
“ Diana… kau jangan sedih, masih ada aku.. aku akan menemanimu!!” Ucapnya lembut.
“ Jane!!” Air mata Diana kembali jatuh melihat sosok gadis kecil yang dulu senantiasa bermain dan membuatnya tertawa lepas, jauh sebelum Zayn datang ke dalam hidupnya. Dunia yang sudah lama dia lupakan.
“ Diana, jangan menangis, kami semua menyayangimu.. ayo bermain dan tersenyum lagi, aku tidak ingin melihatmu sedih!” Ucap Jane dengan mata kecilnya yang tampak berkaca- kaca. Mata Diana kembali berair menatap Jane yang begitu sedih melihatnya menangis. Tapi, setiap kali dia mencoba tersenyum, rasa sakit dihatinya seolah menyeruak tajam, membuat lukanya malah terasa semakin perih. Hingga…
“ Pergi… jangan mendekatiku lagiii, jangan ganggu aku.. pergiiiii!!” Teriak Diana kasar, wajahnya yang dulu begitu indah dengan senyuman kini hanya tertinggal sosok gadis yang penuh duka.
“ Diana… aku tau kata ibu kamu sedang sakit hati, aku juga begitu ketika teman teman sekolahku mengejekku, aku tahu sangat sedih rasanya ketika seseorang menjahati kita, tapi kamu tidak boleh sedih… aku merindukanmu Diana!!” Hibur Jane dengan wajah polosnya.
“ Aku tidak ingin mendengar semua darimu, pergiiiiiiiii…. Kau hanya anak kecil, kau tidak mengerti apa- apa… pergi dari hadapanku dan jangan ganggu aku!!!” Bentak Diana dengan mata nanar. Gadis kecil itu pun menangis dan menjauh darinya, meninggalkan Diana sendiri dengan luka yang terus menganga.
“ Tak ada satu pun yang mengerti, semuanya telah berubah… semuanya telah berubah!!” Bulir bening kembali jatuh dari pelupuk matanya, membiarkan setiap deburan ombak menerjang kakinya, sementara jiwanya terus berperang bersama kenangannya, bayangan wajah Zayn seolah menghiasi setiap sudut matanya memandang. Diana menangis di atas kedua tangannya
“ Diana.” Perlahan tangan tua itu merangkul tubuhnya dari belakang, terasa jelas beberapa bulir bening menetes pada pundak gadis itu, dia kemudian membalikkan badannya menatap wajah neneknya.
“ Nenek, apa Diana pernah melakukan kesalahan, kenapa Diana dihukum seperti ini nek?” Wajah Cantik itu begitu pucat dengan kelopak mata yang terus membengkak dan berair. Melihat keadaan cucunya, sang nenek memegang erat dadanya, seolah ingatan tuanya menerobos waktu, melihat gambaran betapa anaknya juga sangat terluka dahulu. Dipeluknya erat tubuh cucunya, menangis dengan suara seraknya
“ Kamu tidak salah nak, neneklah yang salah.. harusnya nenek mencegahmu untuk bersama dengan pemuda b******k itu, harusnya nenek bisa mencegahmu, nenek yang salah , maafkan nenek nak… maafkan nenek, nenek selalu gagal melindungimu, sama seperti nenek gagal menjaga orang tuamu dulu.” Tangis wanita tua itu penuh dengan penyesalan.
“ Aku hancur nek…… aku hancurr.. aku tidak bisa tidur ataupun terbangun tanpa mendengar suaranya, mengapa dia begitu tega meninggalkan aku seperti ini!” Kesedihan Diana membuatnya rapuh, lunglai dipelukan neneknya dengan air mata yang tak hentinya menetes.
Tak ada seorang gadis pun didunia ini yang ingin impiannya hancur. Bukan hanya hati dan cinta pertamanya, tapi jauh lebih pada kepercayaan yang hilang. Diana tak bisa menjalani hari harinya seperti dahulu, kini dia seolah hidup diantara bayang bayang masa lalu. Ya, takdir seolah tidak memihaknya, disaat seorang gadis lugu yang tak berdaya menerima cinta yang begitu besar, menerima kehidupan baru seolah impian indahnya terwujud, tapi ternyata semua itu adalah tebusan baginya untuk mengawali derita. Ini memang tidak adil, disaat hidupnya seolah luluh lantak, Zayn malah menghilang bersama dengan seluruh kesenangan yang dia rampas dari Diana.
Sementara di sini, gadis itu seolah terbuang dari dunianya, sendirian dalam sudut kegelapan yang memenjarakan hatinya, entah sampai kapan… dia bisa bertahan dengan semua kenangan yang ada di sekitarnya, kenangan yang hanya akan mengikat jiwanya pada masa lalu.
***
Berhari hari Diana mengurung diri, larut dalam duka dan tidak pernah tersenyum lagi. Ia bagai wanita depresi yang kehilangan tujuan hidup. Mencintai seseorang dengan begitu besar hingga merelakan hidupnya tenggelam. Lalu tiba tiba ditinggalkan dengan ribuan janji yang tinggal puing tak bersisa.
Maka...
Senja itu, senja yang sama tidak akan kembali
Dengan tangan dan jari jari yang tampak ramping kurus menjuntai dirabanya tubuh tua yang sudah mulai kaku di hadapannya. Ya, ini adalah senja yang ke 30 sejak senyum itu sirna, senja ke 30 sejak tubuh renta itu terbaring lemah tak berdaya di atas dipan tuanya. Senja terakhir yang dia lihat.
Diana kembali menangis di atas jasad nenek tercintanya, Radang paru- paru akut kata Dokter, yang telah begitu tega merenggut nyawa satu- satunya orang yang dia punya. Ya, benar, akhir- akhir ini wanita yang hampir memutih seluruh rambutnya itu memang sering terbatuk dan terkulai tanpa mengeluh, hanya air mata yang terus mengurai menatap nasib cucunya.
“ Sudahlah Diana, nenek sudah tenang .. lepaskan dia dengan ikhlas!” Hibur beberapa orang mencoba membangunkan pundak sang peri kecil yang terus bersandar didada jasad sang nenek.
“ Dia… dia yang membunuh nenekku… karna terlalu memikirkannya, nenek meninggal.. dia jahat!!” Ucap Diana dengan suara serak. Beberapa pasang mata memerah haru melihat kondisi gadis yang dulunya begitu ceria itu, kenyataan yang begitu kejam seolah telah merampas seluruh hidupnya Diana yang sama seolah telah terkubur bersama hatinya yang hancur.
Dengan wajah yang pucat dan mata yang tak pernah kering dari linangan air mata, Diana melepas kepergian neneknya untuk terakhir kalinya.
“ Nenek sangat menyayangimu di.” Suara itu seolah selalu mengiang ditelinganya, membuat ulu hatinya terasa nyilu. Suara renta yang selalu dia dengar dan kini hanya menjadi kenangan. Ada beberapa kenangan yang terkadang lebih indah jika dikenang, namun ada pula kenangan yang begitu menyakitkan karena keindahannya. Pada kenyataannya tak ada kenangan yang buruk, hanya saja semua itu tergantung akhir untuk bagaimana kita memandangnya, semakin indah kenangan itu tercipta, maka akan semakin menyakitnya jika berakhir dengan luka.
“ Nenek.. aku takut!!!”
“ Mengapa harus aku, apa aku pernah melakukan kejahatan, sehingga aku dihukum seperti ini, tak ada satu pun gadis didunia ini yang memiliki mimpi yang buruk, setiap gadis memiliki impian dijemput pangerannya dan bahagia selamanya, tak ada seorang gadis pun didunia ini yang ingin terluka dan menangis… mengapa harus aku ?” Diana duduk disudut tempat tidurnya dengan gaun putih kesayangannya yang kini basah karena air mata. Wajahnya tertanam diantara kedua lututnya, membayangkan kesendirian yang akan mencekamnya. Gaun itu gaun yang sama dengan yang kemarin dia kenakan, gaun yang dia pakai saat mengantar jasad nenek tercintanya ke pembaringan terakhir. Sesekali diangkatnya wajahnya menatap sebuah kursi goyang tak jauh dari tempatnya. Rasa- rasanya baru kemarin senyum tua itu masih terlihat sambil menyulam sebuah kain.
“ Nenek!” Bibir Diana kelu menatap kursi itu, beberapa punting rokok tampak berserakan di sekitar tempatnya duduk, kata orang, merokok itu mampu membuatnya tenang. Tapi tidak, sedikit pun kesedihannya tak surut. Kini, hanya ada sepi, sepi yang mencekam di sekitar gubuk tuanya.
Jauh dalam tangis panjangnya… tiba- tiba sebuah udara senyap menyapu lehernya dari celah celah jendela, Diana menatap hening suasana dengan membuka jendelanya perlahan, langit tampak gelap, bahkan pelit dengan bintang. Deburan ombak tampak terdengar begitu nyaring seolah menertawakannya, entah hanya perasaan atau memang semua hal didunia sudah tak menarik baginya, Diana memalingkan wajah. Namun… “ Sreeettt” Sebuah bayangan seolah menyelinap di hadapannya, seketika bulu kuduknya berdiri. “ Apa itu??”
Diana mulai menjuntaikan kakinya ke lantai, kemudian turun dari ranjangnya dan melangkah pelan menuju teras rumahnya, mencoba mencari tau banyangan apa yang barusan melintas di hadapannya.
“ Nenek??” Panggilnya dengan suara lirih sambil melihat sekelilingnya, berpikir mungkin itu adalah arwah nenek tercintanya. Namun….
“ Dianaa….!!!”
Deg
Diana tercekat ketika melihat sosok bergaun putih melayang diantara atap rumahnya dengan tali yang masih menjuntai di leher. Wajah yang biru dengan mata yang menatapnya tajam.
“ Malikaaa…!!!!!” Teriaknya kaget, hinggaa…..
Prank
Tangannya menyenggol sebuah gelas hingga jatuh berserakan dilantai, matanya mulai terbuka dan mendapati tubuhnya masih tergeletak ditempat tidur dengan nafas yang memburu karena mendapati mimpi buruk.
“ Hanya mimpi??” Decaknya lirih kemudian bangkit dari duduknya. Dilihatnya matahari sudah berada di ufuk timur tanda pagi mulai menjemput. Bayangannya tak henti teringat pada sosok Malika dalam mimpinya, apa sebenarnya yang membuat Malika terus menghantui tidurnya? Namun…
“ Dia temanku… mungkin dia hanya ingin menunjukkan cara terbaik untukku, aku bahkan tak ingin melewati hari ini dengan semua luka dihatiku… mungkin Malika ingin menunjukkan jalan yang baik untukku , ya.. itu yang ingin dia tunjukkan “ Pikirnya kemudian turun dari ranjangnya, mengambil sebatang rokok yang masih menganggur dimejanya, disulutnya rokok itu dan mulai menghisapnya pelan. Diana melangkah ke luar dengan rambut panjangnya yang kusut, air mata yang mengering pada kedua pipinya dan gaun yang belum dia ganti sejak pemakaman lusa.
Sebuah senyum tersungging lembut di wajahnya melihat hamparan lautan luas. Perlahan langkahnya membawa Diana menuju batu karang besar tempat dia dulu memadu kasih dengan sebuah nada bersama Zayn.
“ Aku tidak mungkin melupakan semua kenangan ini, dan aku juga tidak mungkin bisa hidup bersamanya!” Tetes air matanya mengawali memorinya dimasa lalu, mengingat betapa tulus wajah Zayn waktu itu menggenggam tangannya.
“ Jiwaku sudah lama mati, hanya saja aku memiliki tubuh yang harus ku bunuh!!” Bibirnya kelu berucap, ditatapnya ombak lepas yang tampak kejam menghantam batu karang.
“ Aku hanya harus merasakan sakit terakhirku agar aku tidak merasakan sakit lagi…!!” Ucapnya.
“ Iya, aku tau cara mengakhiri semua ini! aku tau.” Suara dalam hatinya. Dan…
“ Dianaaaa……….!!” Tubuh itu terhempas terjun bersama nada indah kematian yang berbaring ditelinganya, tak ada rasa takut, matanya masih tetap terpejam seolah menikmati hantaman keras air laut ditubuhnya.
“jiwaku sudah lama mati, aku hanya punya tubuh untuk kubunuh!” Keluhnya damai dalam senyum yang lekang.
Nafas yang mulai tercekat, dan tubuh yang seolah terombang ambing dalam lautan derita.