Tawa Pertama

1567 Kata
Hari ini, hari ke 14 sejak Diana kembali membuka dunianya, pagi itu fajar begitu cepat berlalu, menyingsing mentari yang begitu tinggi ditempatnya berpijak, Diana berdiam duduk disebuah kursi panjang didekat meja tempat dia biasanya menghabiskan waktu luang bersama nenek tercintanya. Entah kenapa sejak hari kemarin Hazz tidak mengunjunginya. Apakah Hazza sudah bosan dan juga ingin menghilang? Entah sejak kapan, Diana mulai mengkhawatirkan hal itu. Ia gelisah jika sehari saja tidak bertemu dengan Hazza. Walaupun setiap kali bertemu yang ada mereka selalu bertengkar. Sifat Hazza, kata katanya yang spontan, caranya memperlakukan Diana seakan menjadi candu yang membuat siapapun menjadi rindu “nenek, jika dulu nenek begitu peka akan sifat Zayn yang menurut nenek kurang baik, apa yang akan nenek nilai dari Hazz? Seandainya nenek masih ada di sini?” Tanya Diana pada kursi goyang yang masih tak berpindah dari posisi ketika neneknya biasa duduk di sana. Diana menidurkan kepalanya di tangan kursi, berkhayal nenek tengah membelai rambutnya. “ Nenek pasti sudah bahagia di sana kan? Diana kangen banget sama nenek. Seandainya Diana mendengarkan nenek, mungkin nenek masih ada di sini bukan?” Gumamnya sedih, ia mencoba menyeka air mata yang hendak meluncur turun Butuh banyak waktu untuk kaki yang patah mencoba berjalan kembali Butuh banyak waktu bagi hati yang luka untuk menyembuhkan diri Tapi bersama dengan yang tepat... Waktu menjadi tidak seberarti rasa.. Jauh dalam hening yang pekat, tiba tiba... “Diana. “ Seseorang memanggilnya dari balik jendela yang masih tertutup, suara mungil yang dia kenal. Diana mengernyit, ia sudah lama tidak mendengar seseorang memanggil namanya, ya, sejak ia berduka “ Diana.!” Teriak suara mungil itu lagi Ya, itu bukan ilusi “Jane.” Diana bergegas membuka Jendela kecil itu, dan mendapati gadis kecil yang tempo hari berusaha menghiburnya berdiri di sana seraya menatapnya sendu. “ Kau tidak akan memarahiku lagi kan di?” Tanyanya dengan raut penuh ketakutan. Diana tersenyum melihat wajah polos di hadapannya, mengingat betapa tempo hari dia begitu kasar hingga gadis itu merasa takut. “tentu tidak Jane, maafkan aku ya.” Senyum Diana membelai wajahnya lembut. Gadis kecil itu berbinar binar melihat sikap Diana. “ Kau benar benar tidak marah lagi?” Tanyanya meyakinkan diri Diana menggeleng pelan, ia mengulas senyum Ada banyak hal yang hilang saat ia larut dalam duka berkepanjangan, dan Diana baru menyadari hal itu “ Aku boleh kan bermain denganmu lagi?” Jane berbinar binar “ Tentu, kau boleh bermain kapan pun dan menginap seperti dulu lagi. Aku merindukanmu.” Ucap Diana semakin membuat Jane bersemangat “ Ternyata kakak yang di sana benar ya, kamu sudah kembali seperti dulu sekarang.” Ucap Jane berbinar- binar. “ Kakak siapa?” Tanya Diana mengerutkan keningnya. “ Itu.” Jane menunjuk ke arah pantai. Tampak beberapa anak- anak kecil bermain di sana, dan diantaranya ada sosok pemuda yang membuat Diana tersenyum lepas. “ Hazz?” Senyum Diana kemudian berlari ke luar. “ Hazzaaaaa….” Teriaknya. Sejenak Hazz berhenti dari permainannya, tersenyum ke arah Diana dan melambaikan tangannya. “ Ayo bergabung!” Ajak Jane menggenggam erat tangan Diana, genggaman lembut yang seolah sangat Diana rindukan, benar, Diana tak merasa sendiri lagi. Diana mengingat sesuatu.. “ Saat kau berpikir hidupmu hancur, maka pikiranmu sendirilah yang menghancurkanmu.” Ucapan Hazz ketika itu. Gadis itu tersenyum kemudian bermain kembali bersama anak- anak di sekitarnya. Diana telah kembali, setidaknya dia sudah tidak menangis lagi sekarang. Tertawa seolah tak pernah ada yang hilang dari hidupnya, belajar tegar untuk semua yang terjadi, atau mungkin ada seseorang yang menjadi tiang dihatinya? Seorang yang tanpa dia sadari telah menjadi alasan senyumnya? Diana melihat ke arah gubuk tuanya, ia seakan melihat bayangan nenek yang tengah tersenyum lega di sana kemudian menghilang bersama ketenangan. Sekarang Diana sadar, satu satunya cara untuk membuat neneknya bahagia adalah kembali tersenyum, kembali menjadi dirinya yang dulu. Diana yang riang dan disukai banyak orang Hazz tersenyum melihat wajah gembira Diana saat itu. Entah mengapa ada perasaan senang yang menyelinap dihati pemuda bermata biru itu melihat Diana tersenyum lepas. “ Kakak, terima kasih ya.” Senyum Jane memegang tangan Hazz. Hazz menatap Jane sendu, dibelainya wajah kecil di hadapannya lembut. “ Selebihnya aku serahkan padamu ya….” Senyum Hazz. Entah apa yang dia maksudkan. “ Haazz..?” Diana berdiri di hadapannya dengan wajah sumringah. “ Diana, aku lelah, bisakah kita beristirahat dikarang itu?” Tunjuk Hazz pada batu karang yang dulu biasa diduduki Diana. Seketika senyum Diana terhenti menatap karang yang tampak masih berdiri kokoh di sana. Terasa enggan untuk kembali menduduki batu besar yang seolah menjadi saksi kenangannya dimasa lalu. Namun, belum sempat dia menjawab… “ Sudahlah.. ayoo!” Hazz menarik tangannya tanpa izin, membawa Diana berlari bersamanya ke arah batu karang. Rambutnya yang curli tampak indah menari bersama angin, baru Diana sadari … Betapa Rupawannya sosok bermata biru yang berlari di hadapannya itu… sosok misterius yang memiliki arti di setiap langkahnya Membuat seseorang mencintaimu, mungkin mudah Membuat seseorang tergila gila padamu, mungkin biasa saja Tapi mengobati hati yang patah menjadi seperti sedia kala adalah hal yang begitu sulit dilakukan. Karena, saat seseorang percaya pada hati untuk ke dua kalinya, maka rasa sakit jika terluka olehnya akan semakin nyata. Ya, aku melupakan hal itu, aku lupa bertanya siapa dia sebenarnya Aku lupa bertanya kenapa dia di sini Aku lupa bertanya, apa tujuannya Aku melupakan segalanya, karna aku takut, saat aku bertanya, ia tak akan lagi pernah sama. -----***-----***----- Siang itu, panas mentari yang menyengat seolah tak ada daya untuk meleburkan tatapannya, singgasana kekaisaran mentari yang begitu kuat seolah tunduk di hadapannya. Pemuda itu memegang erat tangan Diana disisinya, menapaki sendi demi sendi kenangan yang terpahat rapi di atas batu karang. Gadis itu masih bisa mendengar sisa- sisa alunan lembut dari gitar Zayn seolah pemuda itu masih berdiri di sana. Tidak, itu bukan suara nada dari Zayn, melainkan sebuah irama yang dipermainkan hatinya. Tapi mengapa luka itu sudah tak terasa perih lagi. Diana menatap lembut tangan Hazz yang menggenggam lembut tangannya, apa karena tangan itu? Apa Diana mulai berharap untuk yang ke dua kalinya? Ah tidak, mungkin hanya rasa nyaman sesaat saja. “ Setiap nafas yang berhembus akan melalui takdirnya sendiri, jangan salahkan keindahan tempat ini Diana, kenanganmulah yang membuatmu takut padanya.” Ucap Hazz setibanya di atas karang tua yang sudah ada sejak Diana dilahirkan itu. Ditatapnya wajah Diana lembut dengan senyum yang tak akan pernah bisa gadis itu lupakan seumur hidupnya. Begitu tulus… “ Ini adalah pertama kalinya aku menatap laut dari karang ini tanpa Zayn , Hazz.” Rajuknya “ Tidak di, ini yang kedua kalinya, kau ingat saat kau terjun dari sini kan, kau bahkan sudah melupakannya.” Senyum Hazz mengingatkan. “ Tidak Hazz, ini yang pertama, karena aku sudah menganggap hidupku yang itu sudah berakhir di lautan ini , dan hidupku yang baru dimulai dari tanganmu.” Diana menatap Hazz lembut, mendengar perkataan itu Hazz duduk di hadapan Diana, menatap mata indah wanita didepannya, pandangan yang begitu redup. “ Apa sudah tidak terasa sakit lagi?” Tanyanya memainkan mata “ Sakit? Dimana? Apanya?” Tanya Diana tak mengerti “ Di sini!” Hazz menunjuk hati Diana, tepat di depan dadanya. Gadis itu tersenyum memegang tangan Hazz, lalu menggeleng pelan. “ Kau tahu? Segala sesuatu harus merasakan sakit yang amat teramat sangat untuk sebuah proses pembekuan, dan setelah membeku dia tidak akan merasakan sakit lagi, mungkin kamu tidak akan mengerti karena kau … !” Diana menghentikan ucapannya karena telunjuk Hazz mendarat di bibir mungilnya. Pemuda itu tak ingin Diana melanjutkan kata katanya. “ Aku sangat mengerti Diana, jauh sebelum kau begini, aku sudah dibekukan berkali- kali. Makanya, mungkin aku terlihat menyebalkan.” Senyumnya. “ Benarkah?” Diana seakan tak percaya, pemuda yang begitu riang seperti Hazza pernah menderita “ Iya, tapi sudahlah, lupakan saja! Oh ya kenapa kau tidak memainkan nadamu di hadapanku? Aku juga ingin mendengarnya.” Lagi lagi pemuda itu mengalihkan topik, seakan ia tidak mau membahas tentang masa lalunya lebih jauh lagi. Seharusnya saat itu aku bertanya, kenapa ia bisa tahu tentang apa yang sering aku lakukan sebelumnya, termasuk bermain gitar- Diana “ Aku tidak akan pernah menyentuh gitar itu lagi.” Tolak gadis itu dengan wajah masam “ Kenapa?” Hazza mengernyit “ Aku ingin melupakan semua kenangan. Dan aku memutuskan untuk tidak memainkan gitar lagi. Aku tidak ingin kembali terluka.” Jawab Diana. Pemuda itu mengulas senyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban itu “ Sekali lagi kau menyalahkan sesuatu, sebenarnya masalahnya ada pada hatimu dan dirimu sendiri bukan pada semua hal yang ada di sekitarmu. Jika kau mau menyalahkan sesuatu yang berkaitan dengan masa lalumu, kuras saja Lautan ini, bukankah dulu kau pernah menikmati keindahannya bersama Zayn, atau bakar saja tanah tempat kamu berpijak, bagaimana? Ah satu lagi, kenapa gubukmu tidak kau robohkan? Bukankah Zayn pernah mendatanginya?” Hazz tertawa, mendengar ha itu Diana tersenyum kecil, memang benar apa yang dikatakan pemuda sederhana di hadapannya itu, rasa sakit yang Diana alami ada pada hatinya sendiri, ada pada jiwanya. Bukan pada segala sesuatu yang ia sebut sebagai kenangan. “ Kau tidak perlu membakar semua kenanganmu, tapi mulailah semua itu dengan hal yang baru. Setidaknya, kau bisa menyingkirkan kenangan lama bukan?” Pemuda itu memainkan mata. Diana mengulas senyum, yang sumpah demi apa pun, ia benar benar cantik. “ Baiklah tunggu sebentar aku akan mengambilnya!” Diana melangkah turun dari batu karangnya dengan wajah berseri- seri. Berlari lepas menuju gubuk kecilnya. Sementara Hazz menatap dirinya dari atas karang, tampak senyum di bibir pemuda itu surut, mata yang sebelumnya terlihat berbinar indah seketika berair. Ya, entah apa yang ada dihati Hazza, sesuatu yang membuatnya meneteskan air mata. Perlahan bibirnya berucap: “ Diana Safana… aku akan mengembalikan semua apa yang telah aku rampas darimu di kehidupan sebelumnya, dan suatu hari saat kau mendapatkan hidupmu kembali mungkin akulah orang yang paling kau benci saat itu, saat kau tahu siapa aku sebenarnya, saat kau tau siapa aku.” Ucapnya getir dengan mata berkaca- kaca. Lalu siapakah sebenarnya pemuda yang disebut Hazz itu? Takdir akan mengungkapnya nanti. Part berikutnya : Ciuman Pertama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN