Meisya tidak langsung pulang, tapi dia kini berada di kamar mandi dalam klinik di ruangannya. Atau lebih tepatnya ruangan milik ayahnya selaku pemilik klinik ini. Tubuh mungil Meisya meluruh ke bawah dan bersandar pada pintu kamar mandi. Meisya bahkan tidak peduli jika saat ini sudah jam 12 malam lewat, namun dia malah bersimpuh dan menangis dalam diam di dalam kamar mandi selama beberapa saat. Sebagai sosok wanita yang selama ini memiliki temperamen baik dan selalu bisa menghadapi semuanya dengan kepala dingin. Apa yang dia lakukan tadi adalah hal baru baginya. Itu juga untuk kali pertama dia menampar seorang perempuan. Namun sama sekali tidak ada rasa penyesalan dalam hatinya, justru malah muncul keinginan untuk melakukan lebih dari pada sekedar tamparan. Meisya sudah berusaha keras un

