2. Saling Memunggungi

1216 Kata
Ando terus membawa Meisya menaiki tangga menuju ke kamar mereka yang berada di lantai atas. Meisya juga tidak menolak dan membiarkan saja dia mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu. "Sekarang jam berapa?" "Setengah dua belas malam." Meisya terdiam sesaat, ragu apakah dia harus menanyakan Ando baru saja dari mana sampai pulang selarut ini. Belum lagi aroma samar parfum perempuan yang melekat di kemeja pria itu, kemeja Ando juga terlihat kusut dan dasi pria itu yang terpasang secara asal-asalan. Apakah perkerjaannya sangat sibuk hingga membuatnya terus pulang larut beberapa hari terakhir ini. "Memikirkan apa?" Pada akhirnya Meisya hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin merusak suasana. Meski dalam hatinya penuh dengan tanda tanya 'mengapa'? Tapi yang dia inginkan adalah bagaimana ketika pria itu akan menjelaskan sendiri masalahnya apa sampai sering pulang larut malam. Bahkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan anak-anaknya saja dia seperti kekurangan waktu untuk melakukannya. Ando lalu membaringkan Meisya di atas tempat tidur, pria itu berdiri untuk melepaskan dasi dan meletakkan tas kerjanya di atas meja. "Biar aku siapin air hangat kalau kamu ingin mandi, tapi jangan lama-lama mandinya biar nggak masuk angin." Meisya langsung beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Meskipun dia masih agak mengantuk, namun dia sadar tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya sepulang bekerja. "Terimakasih." Hanya itu, Meisya mengangguk dan tidak ada banyak percakapan lagi di antara mereka. Selesai menyiapkan air hangat untuk mandi, Meisya lalu keluar dari kamar mandi dan kembali menyiapkan baju tidur untuk Ando yang dia letakkan di atas kasur. Setelahnya Meisya kembali menarik selimut untuk tidur. Tapi gerakan Meisya yang tengah mengangkat selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian terhenti. Dia kembali turun dari kasurnya, berjalan mendekat ke arah tumpukan pakaian kotor tempat Ando baru saja melepaskan bajunya. Meisya mengambil kemeja pria itu, mengendus baunya sekali lagi dan memang benar bahwa ada aroma parfum perempuan menempel di sana, terutama di bagian kerah kemeja. Tanpa sadar Meisya mencengkeram erat kemeja biru yang dipegangnya saat ini. Jelas ini bukan wangi parfum yang biasanya digunakan oleh Ando, namun siapa? 'Apa Mas Ando mulai main-main sama perempuan lain di luar sana? Apa itu juga alasan kenapa Mas Ando sering pulang larut malam?' Pintu kamar mandi terbuka, Ando keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi pinggang ke bawah sebatas lutut. Meisya juga sudah terbiasa. Tidak lagi merasa malu begitu melihatnya. Bagaimanapun lima tahun lebih sudah berlalu dalam usia pernikahan mereka, cukup wajar untuk tidak lagi bersikap malu-malu seperti malam pengantin baru. Meisya memutuskan untuk membalikkan badannya memunggungi Ando, dengan segera meletakkan kemeja pria itu kembali di dalam keranjang berisi tumpukan pakaian kotor. Bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, meski kedua matanya saat ini telah memanas. Hingga tanpa sadar setitik air mata telah menetes di antara pelupuk matanya, namun dengan cepat dia usap agar tidak sampai membuat Ando sadar bahwa dia tengah menangis. "Kamu kenapa hm?" Meisya hanya menggelengkan kepalanya, tidak ingin mengatakan apa-apa. Berharap pria itu akan peka dengan perasaannya, tapi dia melupakan satu hal bahwa pria adalah makhluk yang sangat tidak peka jika tidak diucapkan secara gamblang apa yang tengah pasangannya pikirkan tentang dia. "Ya sudah kalau begitu, selamat tidur sayang!" Ando mengecup rambut Meisya yang tengah memunggunginya. Lalu pria itu berbaring terlentang dan mematikan lampu kamar hingga menyisakan lampu tidur yang remang-remang. Sepuluh menit akhirnya berlalu, namun baik Meisya maupun Ando masih belum bisa tertidur. Meisya tampak bergerak-gerak dengan gelisah, sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk membalik badannya dan menatap pria di sisinya selama beberapa saat. Ada kemarahan yang coba dia tahan, setelah menimang dan berpikir selama beberapa menit sebelumnya. Akhirnya Meisya menyerah dengan diamnya, dia ingin menanyakannya dengan jelas agar tidak terus membebani pikirannya. "Mas." "Hm?" "Kenapa mas jadi sering pulang larut malam akhir-akhir ini?" "Mas juga nggak ingin pulang larut tiap malamnya, tapi ada masalah yang harus Mas selesaikan dengan timku di kantor yang membuat kami harus lembur." "Minggu ini mas bisa 'kan, jalan-jalan sama anak-anak? Mas udah janji sebelumnya." "Aku usahakan pulang cepat." "Bahkan di hari libur mas masih bekerja?" Meisya menyipitkan kedua matanya, dia agak kurang menyukainya karena Ando tampak seperti akan kembali mengingkari janjinya dengan anak-anak. "Aku tahu mas sibuk, tapi mas udah janji sama anak-anak. Seenggaknya kalau nggak bisa pergi, mas jangan pernah buat janji yang nantinya malah mengecewakan mereka karena akhirnya malah nggak jadi kayak gini." Meisya sedari tadi sudah berusaha untuk menekan dirinya sendiri untuk bersabar dan menahan diri. Tapi pada akhirnya dia gagal. Jika sudah menyangkut anak-anak maka dia tidak bisa lagi berpikir dengan lebih terbuka seperti sebelumnya. Mungkin dia bisa menerima sikap pria itu yang berubah akhir-akhir ini. Belum lagi aroma parfum perempuan di kemeja pria itu tadi. Tapi untuk anak-anak, dia sama sekali tidak ingin mereka sampai merasa kekurangan figur seorang ayah karena ayah mereka yang selalu sibuk dan tidak bisa meluangkan waktu untuk mereka. "Mas tahu salah, Mas juga nggak ingin ngelakuin itu, Sya. Mas juga capek kerja lembur terus, waktu weekend masih harus bekerja. Tapi mas juga bisa apa? Mas harus menyelesaikan pekerjaan atau nanti malah terkena masalah kalau kerjaan nggak selesai-selesai." Ando juga tampak frustasi, dia akhirnya mengungkapkan isi pikirannya. Namun tidak ada di antara keduanya yang mau mengalah. Kedua belah pihak tampak sama-sama merasa dirugikan dan disalahkan atas situasi ini. "Maaf kalau menurut Mas aku salah, terlalu banyak menuntut Mas meluangkan waktu untuk keluarga dan anak-anak Mas. Aku paling enggak cuman ingin Mas memberikan kabar tiap kali pulang terlambat, biar aku nggak perlu menunggu setiap harinya." "Mas tahu, maaf kadang lupa memberi kabar. Mas capek, ingin istirahat dulu." Setelah mengatakannya, kini giliran Ando yang berbalik memunggungi Meisya. Sementara Meisya hanya bisa menatap punggung lebar suaminya yang terasa dingin di depan matanya. Hingga tanpa dia sadari kedua matanya mulai memanas, air matanya perlahan tumpah tanpa bisa dia tahan. Rasanya lelah, harus terus bertahan dalam hubungan yang dia rasa kurang lagi harmonis. Tiap kali dia bertanya selalu saja berakhir seperti ini. Seolah dia yang selalu salah. Mereka berdua memang sama-sama mengucapkan kata maaf dan mengaku salah, namun keduanya juga tidak ada yang sama-sama mau mengalah. Sifat keras kepala keduanya seakan bentrok dengan kondisi rumah tangga mereka yang harusnya saling mengalah satu sama lain. Pada akhirnya Meisya juga memutuskan untuk membalik punggungnya. Mereka berdua sama-sama tidur saling memunggungi. Tidak ada kehangatan dalam hubungan mereka saat ini. Meski tidur di atas ranjang yang sama, namun seolah terpisah oleh sebuah jurang di antara keduanya karena minimnya komunikasi dan rasa saling percaya satu sama lain untuk berbagi masalah. Punggung Meisya juga bergetar pelan, menandakan bahwa dia tengah menangis dalam diam. Sementara Ando juga menolehkan kepalanya sejenak, melihat bagaimana punggung istrinya bergetar. Ingin sekali rasanya dia memeluk tubuh ringkih itu, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun rasa bersalah yang bercokol di hatinya membuat pria itu hanya bisa diam dan urung untuk mengulurkan tangannya. 'Maafin Mas, Sya!' Saat akan tertidur, suara getar ponsel milik Ando terdengar memecah keheningan di antara mereka. Meisya melirik ponsel Ando yang kebetulan berada di samping nakas tempat dia tertidur. Baru Meisya hendak meraih ponsel pria itu, namun dengan cepat Ando beranjak dari posisi tidurnya untuk mengambil ponselnya sebelum Meisya mengambilnya terlebih dahulu. Tanpa kata Ando mengangkat panggilan telepon tersebut dan berjalan menjauh dari Meisya. Seolah takut istrinya akan mendengar pembicaraan pria itu dengan seseorang yang tengah meneleponnya. "Siapa Mas?" "Bukan siapa-siapa, cuman klien." Meisya hanya bisa tersenyum kecut, menekan rasa sakit dalam dadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN