Saat membuka mata, Calandra memekik kaget melihat wajah Kenny berada tepat di depannya. Pria itu sudah bangun duluan, memerhatikan tidur Calandra. Sesekali saat Calandra mengicap dan cemberut, Kenny tersenyum gemas. Bibir kemerahan itu berhasil mencuri perhatian. Entahlah, tapi Kenny pria normal. Menurut Kenny, wajah polos wanita itu memanjakan sekali. "Apa sih?" Calandra mendorong wajah Kenny agar berhenti menatapnya. "Sudah jam berapa ini? Aku nggak bisa tidur semalam, aku nggak terbiasa tidur bareng pria. Rasanya nano-nano," adunya jujur. Sungguh, mungkin jam dua atau tiga dini hari baru Calandra bisa terlelap nyenyak. Banyak hal yang memenuhi pikirannya, lumayan mengganggu akal sehat. "Jam sembilan." Calandra langsung menjerit, terduduk lemas tidak percaya. "Kok nggak bangunin aku?

