"Will, sekarang jam berapa ya?" tanyaku sambil berjalan keluar teather.
"Jam 7.30 Rel, kenapa? Lapar ya?" Kueratkan gandenganku pada lengannya. "Gak, dari tadi makan pop corn banyak di dalam."
"Trus? kenapa nanya jam?"
"Aku lagi malas pulang, kemana ya kita? Eh..Dewi dimana Will?"
"Dewi ada temannya yang ulang tahun. Sekarang kan malam minggu, banyak acara dia sekarang. Mau aku hubungi dia?" Kugelengkan kepalaku.
"Jangan, gak perlu. Kita pulang saja." tiba tiba ada perasaan sedih merasuki kalbuku.
"Rel, ada yang ingin kubicarakan denganmu." ujar William di dalam mobil ketika memarkirkan mobilnya di halaman rumah Tante.
Kupandangi wajahnya, tampak letih terlihat pada raut wajahnya. Kusentuh keningnya yang sedikit berkerut, sedang memikirkan apa kamu Will? batinku bertanya. William menangkap tangaku dan membawanya ke pipinya lalu mencium punggung tanganku.
"Maukah kau menjadi kekasihku?"Sudah dua kali William menanyakan hal yang sama padaku. Sebenarnya hatiku mulai luluh dengan perhatian dan kesabaran William selama ini, walaupun dia tahu kalau di hatiku masih ada seorang pria yang kucintai, Lintang.
"Will, apakah kamu benar benar mencintaiku? atau kamu hanya kasihan dengan kondisiku?" kutatap kedua matanya, mencari kebenaran di dalamnya.
"Aurel, pertanyaan yang sama sering kutanyakan kepada diriku sendiri. Semakin hari aku semakin yakin kalau aku benar benar mencintaimu. Tidak ada satu haripun aku tidak memikirkan dirimu, tidak ada satu haripun aku tidak merindukanmu." Setitik air mata haru turun dari sudut mataku.
"Kamu menangis Rel?" William menyentuh sudut mataku dengan ibu jarinya perlahan. "Apakah ada perkataanku yang menyakiti hatimu?" Kugelengkan kepalaku.
"Perkataanmu menyentuh kalbuku, terima kasih telah mencintaiku." tak kuasa kupeluk dirinya dan menangis. "Aku juga mencintaimu." Terasa William membalas pelukanku dengan erat dan mencium rambutku dalam dalam.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia malam ini. Akan kujaga cinta kita, dan tidak akan kubiarkan kau tersakiti." Janji William yang terdengar begitu indahnya di telingaku.
William mengantarku masuk ke dalam rumah dengan memegang erat tanganku. Suster Mia yang membukakan pintu tersenyum simpul melihatnya, sehingga membuat pipiku memerah.
"Lepas Will." bisik ku
"Tak akan kulepaskan." balasnya."Sudah lama aku menunggu moment ini, tidak akan kulepaskan sedetikpun." Senyumnya membuat aku meremang. Perasaan bahagia menyelimuti hatiku saat ini.
***
Pagi ini aku sedang bersiap siap untuk ke Bandara Soekarno Hatta, ya aku akan terbang ke Bali menemui keluargaku. Kondisiku semakin hari semakin membaik, kini aku sudah bisa berjalan dengan normal walau kadang masih terasa nyeri.
Kepergianku kali ini ditemani William, dia bersikeras ikut karena ingin bertemu dengan keluargaku. Heran memang, biasanya pria malas jika diajak bertemu dengan keluarga pacarnya. Mungkin benar kata Leo, William serius menjalin hubungan denganku.
Kami dijemput supir hotel dan langsung menuju rumah. Mama bersikeras meminta William untuk tinggal di rumah kami, katanya supaya lebih akrab.
"Mama..." panggilku
"Nova...aduhhh sebentar ya Mama ganti baju dulu habis masak. Malu kan ada William." teriaknya panik sambil setengah berlari menuju kamarnya. Aku dan William hanya tersenyum melihat kelakuannya.
"Wil, kamarmu ada di atas, sebelah kamarku. Kita keatas dulu beres beres yuk." Ajakku sambil perlahan menaiki anak tangga karena ngilu selalu terasa jika sedang menaiki tangga. Namun tiba tiba William menggendongku ala bridal style "Will..gila ya...aku bisa jalan sendiri!!" jeritku antara kaget dan malu.
"Tenang..biar cepat aku gendong ya sayang." bisiknya lalu setelah sampai di tingkat paling atas dia menurunkanku.
"Nah...sudah sampai kan?" ditepuk tepuk kedua tangannya dan tersenyum lebar walaupun napasnya sedikit ngos ngosan.
"Aku kan berat Wil, nanti kalau terjatuh gimana?" ujarku seraya mencubit perutnya.
"Auuu...jangan cubit dong, dicium maunya" telunjuknya menunjukkan pipinya padaku minta dicium.
"Ihh..engga mau!" dengan cepat aku berjalan meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarku, disusul William.
"Kamarmu disebelah Wil..kopermu sudah ada di dalam."
"Hm..kapan ya kita bisa sekamar?" kujulurkan lidahku padanya. "Married aja belum udah ngarep dot com!" William tertawa mendengar ledekanku lalu keluar kamar sambil menutup pintunya.
Karena gerah dan lengket kuputuskan untuk mandi agar lebih fresh. Kukenakan celana kulot berwarna putih dengan kaos coklat, warna favorit ku. Setelah mematut di depan cermin, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Namun baru selangkah aku kembali memandangi pantulan diriku di cermin. Kudekatkan wajahku pada cermin, kuperhatikan kedua bola mataku. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda disana, tapi aku tidak mengetahunya apa, hanya dapat merasakan. Kuangkat pundakku dan menghela napas kasar. Mungkin hanya perasaanku saja, batinku.
Kubuka pintu kamar, terdengar suara gelak tawa Mama dan William dibawah. Selangkah demi selangkah aku menuruni anak tangga sambil berpegangan pada railing tangga.
"Ma..." panggilku. "Sudah kenal rupanya dengan William." pandangaku tertuju pada William yang sedang tersenyum manis padaku.
"Ya, tadi kamu sedang beres beres aku turun dan berkenalan dengan Tante." jawab William. Kuanggukan kepalaku tanda mengerti.
"Papa sebentar lagi pulang dengan Leo, kita makan malam bersama ya. " ujar Mama lalu berjalan ke dapur.
Makan malam berjalan dengan sempurna, William benar benar dapat membuat suasana menjadi lebih hangat. Terlihat Leo dan Papa menyukainya.
"Jadi William, karena adalah supplier F&B mungkin kita bisa bekerjasama." William tersenyum mendengar usul dari Leo.
"Tentu saja Leo, tapi sekarang aku sedang liburan dan tidak membawa document apa apa. Nanti aku akan email company profile perusahaanku." Leo tertawa lebar mendengar jawabannya lalu mengalihkan pandangannya padaku.
"Nova, bagaimana dengan kondisimu?" keningnya sedikit berkerut khawatir.
"Nova anak yang kuat Leo, ya kan Nov?" papa yang semenjak tadi diam kini mulai berbicara.
"Penglihatan Nova sudah jauh membaik, namun kadang masih suka mendadak buram. Kalau kaki masih tidak bisa berjalan jauh dan sulit naik turun tangga." jelasku.
"Tapi menurut dokter hal itu lumrah, tubuhnya masih harus membiasakan diri dengan sesuatu yang baru. Sementara untuk kaki kamu masih harus banyak terapi Rel." William menambahkan.
"Nov, lebih baik kamu sementara tinggal di sini. Biar Mama yang mengurusmu. Bagaimana?" Kurasakan tangan William menggenggam tangaku. Kumiringkan kepalaku menatapnya.
"Sebaiknya begitu Rel, di sini suasana lebih nyaman dan tenang." Aku hanya diam. Jika aku tinggal disini, bagaimana dengan kuliahku yang tinggal skripsi.
"Nova pertimbangin ya Ma, nanti mau diskusi dulu dengan dosen pembimbingku."
"Baiklah, Mama berharap bisa." tatapannya kini sangat menuntut.
Ketika aku sedang membantu Mama membereskan piring piring kotor, kulihat Leo sedang bercakap cakap dengan William di taman belakang, terlihat serius.
"Hei..bengong!" Papa menepuk pundakku.
"Aduhh..Papa ngagetin aja." ujarku sambil menepuk nepuk dadaku karena kaget.
"Papa lihat William sepertinya baik Nova. Kamu serius dengannya?" Papa menarik kursi meja makan dan duduk.
"Begitu menurut Papa? Baru kenal beberapa jam sudah bisa mengambil kesimpulan?"
"Papa sudah banyak ketemu orang Nova dan feeling orang tua biasanya lebih tajam. Kamu belum yakin?' kini Papa malah berbalik bertanya dan meragukan ku.
"Belum tahu Pa, kita lihat saja nanti" jawabku sambil mengangkat pundakku.
"Papa tidak memaksakan, jika kamu masih membutuhkan waktu silahkan tapi jangan mempermainkan perasaan orang. William terlihat yakin denganmu." aku hanya menunduk sambil memainkan jari jariku.
"Ya sudah, Papa mau istirahat dulu. Yuk Ma..." Ucapnya sambil berdiri dan menarik tangan Mama.
"Loh...Pa, katanya tadi mau bicara dengan William?" tiba tiba suara Leo terdengar dari belakang punggungku.
"Besok saja, sudah malam. William, Om dan Tante istirahat dulu ya. Besok Nova ajak Willliam mengunjungi hotel kita." William menggangkukan kepalanya
"Will, temani aku jalan jalan yuk di luar, rasanya aku ingin menghirup udara segar sekarang." ajakku sambil berjalan ke arah pintu depan dan diikuti oleh William.
Perumahan rumahku tidak terlalu padat, antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak saling menempel, konsepnya gardening. Jadi setiap rumah dikelilingi oleh halaman yang cukup luas. Suara jangkrik menemani perjalanan kami, William dan Aku tidak banyak bicara, kami menikmati malam sunyi dengan pikiran masing masing.
"Rumah itu dulu tempat tinggal Alex Will." jariku kuarahkan ke rumah yang bernuasa coklat dan rindang. Sekilas bayang bayang Lintang menghantui diriku. Dimanakah kamu Lintang, bisik batinku.
"Ohh jadi kalian dulu tetangga" sahut William
"Ayahnya dulu asisten Papa, tapi entah kenapa tiba tiba mereka sekeluarga menghilang dan aku baru tahu Alex itu adalah Lintang yang hilang tiga belas tahun yang lalu."
William terdiam mendengar ceritaku, mungkin dia marah karena aku mengungkit kisah cintaku dengan Lintang. Atau dia tahu kalau aku masih berharap dapat bertemu dengannya lagi?
"Kok diam Will?" kuselipkan tanganku pada lengannya padangan William masih kearah depan.
"Gak apa apa." ditepuk tepuk tanganku lalu berhenti berjalan dan menghadapkan tubuhnya padaku lalu memegang pundaku sehingga sekarang kami saling berhadapan.
"Apakah kau bersedia membuka pintu hatimu untukku dan kita mengukir memory cinta kita bersama?" matanya tidak berkedip menatapku dengan hangat. Hatiku sesaat terenyuh dengan perkataannya.
"William, aku sudah membuka pintu hatiku untukmu." Kupeluk tubuhnya yang kekar sehingga tubuhku tenggalam di dalamnya. William membalas pelukannku lalu mencium puncak kepalaku.
"Terima kasih, aku tidak sanggup kehilanganmu Aurel." disentuh daguku dan mengecup bibirku. Entah dorongan dari mana kubalas kecupannya dan sesaat kami terbuai dengan permainan itu.
***