"Dewi...katanya mau foto barang? Kok masih nungging sih?" panggilku sambil mengguncang guncangkan tubuhnya yang masih tertutup selimut.
"Huuhhh...ganggu aja lo! gue masih mau tidur ah.."
"Gue tinggal yah! kalau lo dah beres telepon gue." ujarku sambil melangkah keluar kamarnya dan kebetulan William, kakak Dewi sedang berjalan melewati kamar.
"Eh..Rel..baru datang kok sudah mau pulang? Dewi masih tidur ya?" kuanggukan kepalaku dan tersenyum padanya. William memang pantas diberikan senyum karena wajahnya yang tampan.
"Ya Will. Katanya mau foto barang yang gak mau dipakai untuk dijual, eh..sekarang masih selimutan." William hanya tertawa menanggapi omelanku.
"Dari pada BT nungguin dia bangun, gimana kalau kamu temenin aku breakfast yuk! Kebetulan aku lagi ingin cobain Cafe baru gak jauh dari sini." Tanpa pikir panjang kusambut ajakannya.
"Mau dong...kebetulan tadi pagi baru makan pisang doang." jawabku cengegesan sambil pegang perut yang memang sedikit berisik.
Tampak cukup ramai cafe yang kami kunjungi. Setelah menunggu beberapa menit, kami diantar oleh waiters ke meja. Suasana cafe sangat hangat dengan nuansa minimalis dan sepertinya pemilik cafe suka dengan pemandangan langit malam karena tampak beberapa lukisan dan foto bernuansa bintang dan bulan.
Meja kami menghadap taman yang dilengkapi dengan kolam kecil berisi ikan koi berwarna warni.
"Cafenya unik yah Wil?"
"Ya, kebetulan cafe ini milik tunangan temanku. Nanti kalau orang nya ada aku kenalin ya." jawabnya sambil melihat buku menu.
"Kamu mau pesan apa Rel?"
"Hm...sandwich club dan ice coklat sama....french fries" jawabku sambil nyengir. " Lapar Wil." sambungku.
"Hahahah...sama seperti Dewi yah kamu. Makannya banyak tapi gak bisa gemuk gemuk."
"Mbak, saya pesan sandwich club, ice coklat, french fries, roti bakar coklat dan es kopi. Terima kasih" ujarnya dan memberikan buku menu kepada waiters.
"Gimana kuliah kamu Rel? Sekarang sudah tingkat berapa ya?"
"Membosankan kuliah itu Wil. Untung sudah mau selesai, sekarang semester akhir."
"Nikmati masa kuliah kamu Rel, setelah ini kamu pusing cari kerjaan." ujarnya sambil terkekeh mendengar keluhanku.
"Ah..aku mau pulang kampung saja. Di Jakarta susah cari kerjaan Wil."
"Bali? Enak yah disana, setiap hari serasa liburan." kuanggukan kepalaku menyetujui ucapannya.
Tak lama makanan yang kami pesan pun datang, dan aku sibuk dengan makananku sambil meneruskan pencarian sosmed Alex yang belum ketemu dari semalam.
"Hallo Wil!" sapa seorang pria dan membuatku tersedak karena kaget.
"Uhukkk Uhukkk..."kutepuk tepuk dadaku dan segera meraih gelas minumanku.
"Gak apa apa Rel?" tangan William kini menepuk nepuk punggungku. "Pelan pelan makannya lah..sampai tersedak gitu."
"Ehem....gak apa apa Wil." jawabku sambil tidak melepaskan pandanganku pada pria yang menyapanya barusan.
Melihat kondisiku sudah stabil, William melanjutkan percakapannya "Sorry Lex, kenalin dulu nih teman adikku, Aurel. Rel..kenalin Alex pemilik cafe yang tadi kuceritakan."
"Oh...Adikmu namanya siapa Wil?"
"Dewi, kenapa? kenal?"
"Dunia memang sempit ya. Aku dosen mereka di kampus. Halo Aurel, ketemu lagi kita disini." Alex mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan. Kuberikan senyumku yang paling manis padanya "Halo juga hm..Pak ehh..Alex" jawabku kikuk.
Alex menarik kursi dan duduk disampingku, alhasil jantungku kini kembali berdebar dengan cepat.
"Lo sekarang ngajar lagi Wil?" Alex menganggukan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya padaku tersenyum lalu kembali pandangannya ke William lagi.
"Gantiin temanku sementara, dia mendadak ada urusan. Sampai semester ini berakhir saja."
"Rel, hati hati loh dengan Alex. Dia terkenal perfesionis dan pelit nilai." Alex tertawa mendengar ucapan William.
"True! Lo harus ingatkan itu ke Dewi. Eh...gimana makanannya? cocok gak sama selera kalian?" Kuanggukan kepalaku dan tersenyum.
"Enak banget Lex. Eh..kamu suka dengan bintang ya? " tanyaku penasaran.
"Maksudnya?" kening Alex terlihat sedikit berkerut tak mengerti dengan pertanyaanku.
"Lukisan yang tergantung semuanya pemandangan malam dengan bintang bertaburan..."
"Ohh..itu...ya, aku suka sekali dengan pemandangan langit diwaktu malam. Kamu suka juga?" kuanggukan kepalaku dengan semangat.
"Tapi di Jakarta langit malamnya kurang bagus, banyak polusi cahaya."
"Setuju! menurut kamu yang bagus dimana?"
"Di kampung halamanku...." belum selesai aku berbicara ada seorang wanita yang memanggil namanya.
"Alex..." wanita itu berjalan menghampiri meja kami lalu dia mencium pipi Alex dengan mesra.
"Hei..William. Apa kabar?" kini wanita itu menegur dan menepuk bahu William lalu duduk disampingnya.
"Halo Mara, kabar baik. Kenalin ini teman adikku Aurel." ucapnya sambil memperkenalkanku. Kujabat tangannya dan menyebutkan namaku lalu mengambil ponsel dan pura pura melihat pesan yang masuk.
Kuperhatikan dari sudut mataku, mereka bertiga sedang bercakap cakap mengenai menu dan suasana Cafe. Hatiku entah kenapa jadi tidak menentu, sedih, marah, kecewa semua bercampur menjadi satu. Aneh bukan? Melihat kemesraan Alex dan Tamara menimbulkan rasa cemburu di hatiku, padahal aku baru saja bertemu dengannya.
"Rel...Rel.." kurasakan tepukan pelan di pundakku.
"Huh...ya..sorry Will. Sudah mau pulang ya?" ucapku sambil memasukkan ponsel kedalam tas ku.
"Ngelamun nih?" William memperhatikan wajahku dalam dalam.
"Hehehe...sedikit." jawabku jujur
"Yuk balik." kuanggukan kepalaku
"Alex, Tamara kita balik dulu ya...kapan kapan aku ajak Dewi kesini deh."
"Thanks ya Will...ditunggu kunjungan berikutnya." jawab Alex.
Karena malas menegur, aku pun menganggukan kepalaku dan tersenyum menandakan pamit pada mereka lalu bergegas mengikuti langkah William yang sudah lebih dulu berjalan di depanku.
Di dalam mobil aku hanya diam dan bermain dengan pikiranku, sesekali kuhela napasku membuang rasa sesak di d**a.
"Kenapa Rel? Mendadak diam dari tadi?"
"Ah..gak apa apa kok. Lagi ada pikiran saja sedikit." jawabku asal.
"Kalau ada masalah aku bersedia loh menjadi pendengar." kugelengkan kepalaku dan tersenyum padanya. Tidak mungkin aku menceritakan kegundahan hatiku gara gara melihat Alex bersama dengan Tamara bukan?
"Thanks buat tawarannya, sementara aku bisa handle kok."
"Kita langsung pulang atau kamu mau temani aku dulu ke Mall? Aku lagi suntuk di rumah, kita nonton yuk?"
"Sebentar Aku info Dewi dulu ya..." langsung kuraih ponsel dan mengetik pesan ke Dewi tapi sepertinya ponselnya belum aktif.
"Belum aktif nih Will. Masa sudah jam 12 masih belum bangun? Tidur jam berapa dia semalam?" William mengangkat bahunya.
"Dah...kamu gak ada acara lain kan?" Kugelengkan kepalaku.
"Nonton ya?"
"Ok deh..." jawabku.
Setelah membeli tiket dan camilan kecil kami masuk ke dalam theater yang masih sepi.
"Rel, kamu nonton sama aku ada yang marah gak nih?" tanya William setelah kami sudah duduk di kursi masing masing.
"Masih jomblo Will. Dan kamu? Masa belum punya pacar?" tanyaku balik.
"Belum ada yang cocok. Seleraku agak berbeda soalnya."
"Berbeda? kamu Gay?" tanyaku polos.
"Hahahahha..apakah aku terlihat Gay ya Rel?"
"Gak sih....kelihatan normal kok. Trus maksudnya selera kamu berbeda apa?"
"Maksudnya, aku tidak mau sembarang pilih wanita. Umurku kan juga sudah tidak muda, jadi kalau pilih pacar itu bukan untuk main main, tapi untuk dijadikan istri. Nah...istri kan seumur hidup, jadi harus yang klop denganku." jelasnya panjang lebar.
"Memang umur kamu berapa Wil?" selama ini aku hanya memperkirakan umurnya paling lebih tua dariku dua tau 3 tahun.
"Kamu seumur kan dengan Dewi? sekarang 21 ya kalau tidak salah?" Kuanggukan kepalaku. "Nah..tahun ini aku 27 tahun. Kita beda 4tahun ya?" Tuhh kan...perkiraanku benar.
"Ah..baru 27 tahun Will...masih lama lah marriednya. Memang Alex umur berapa? masa sudah tunangan segala?" Terdengar nada bicaraku sedikit sinis.
"Alex sudah 28 tahun kalau tidak salah, Dia dan Tamara sudah pacaran cukup lama, dan dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pernikahan."
Sesak di hatiku mendadak kembali ketika mendengar jawaban William.
"Rel, Rel.." William menyentuh tanganku "Kamu gak apa apa? mendadak kok diam?" Reflek kutarik tanganku.
"Ehh..gak apa apa, film nya sudah mau mulai tuh.." jawabku sambil menutupi rasa malu yang menyelimutiku. Baru pertama kalinya aku bersentuhan langsung dengannya, tepatnya dengan pria lain selain papa dan Leo, kakakku.