Sebelum berangkat ke kantor, Ezkar mendatangi sebuah tempat lebih dulu. Pagi itu Kopi Sejati belum terlalu ramai. Hanya ada dua pelanggan di meja sudut dan suara mesin espresso yang sesekali mendesis seperti orang menghela napas panjang. Ezkar memilih duduk di kursi bar. Dari sana ia bisa melihat langsung ke balik counter, tempat Nio berdiri dengan celemek hitam, menggiling biji kopi seolah dunia tidak punya masalah apa pun. Pria itu memesan americano. Bukan karena ingin kopi. Hanya alasan supaya bisa duduk di situ. Nio mendorong cangkir ke depannya beberapa menit kemudian. “Hot Americano.” Ezkar mengangguk singkat, tapi tidak langsung meminumnya. Matanya justru terangkat menatap pria di seberang meja bar itu. “Lo kenal Niva di mana?” tanyanya datar. Tangan Nio yang sedang merapikan

