Bab 21. Pindah

1432 Kata

Malam turun pelan di apartemen. Lampu ruang tengah sudah menyala, tapi suasananya lebih tenang dari biasanya. Ezkar berdiri di dekat jendela, menatap samar ke arah jalan di bawah. Radio duduk santai di sofa, satu tangan bersandar di sandaran, seolah sudah bayar sewa sejak lahir. “Kakek gimana kabarnya?” tanya Ezkar tanpa menoleh. Radio mengangkat bahu ringan. “Ya begitulah. Nggak pernah benar-benar sehat.” Jawaban itu terdengar biasa, tapi cukup untuk membuat Ezkar diam sejenak. Radio lalu melirik sekeliling. “Niva mana?” “Palingan ke kafe bawah, samperin barista gebetannya,” jawab Ezkar ringan. Radio mengangguk pelan, seolah sudah menduga. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Padahal kalau lo nikah, kakek mungkin bakal langsung sehat.” Ezkar mendengus pelan. “Apaan sih? Nggak lah. Gue

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN